Cobalah Kau Mengerti….Yam!!!

Pagi ini sebelum ke kantor, saya pergi dulu ke Gegerbitung. Secara administratif wilayah daerah bernama Gegerbitung ini masih Kabupaten Sukabumi, saya pun penduduk Kab.Sukabumi. Pun untuk menuju ke daerah itu aksesnya sangat mudah tinggal menuju ke arah Terminal Sukaraja dan lurus terus.

Tapi jaraknya bukan dekat. Cukup lumayan sekitar 30 km. Membelah perkampungan, jalan yang dilalui pun tidak terlalu lebar. But pemandangannya masih natural. Sawah – sawah, bukit – bukit. Menjadi variasi ditengah – tengah bangunan permanen.

Menuju ke Gegerbitung, Selain pemandangan, ada juga rel kereta api Sukabumi – Bandung, yang terkenal dengan terowongan Lampegan, terowongan yang dibangun oleh Belanda. Namun saat ini Kereta api jalur Sukabumi – Bandung sedang tidak aktif setelah runtuhnya terowongan legendaris tersebut. Walau kini sudah diperbaiki, tapi kereta api belum diaktifkan lagi. Sekitar 3 Km mendekati Gegerbitung, bisa juga ke Lampegan atau Gunung Rosa ( katanya ada kandungan emas disana ).

Ini kali pertama kembali saya ke Gegerbitung setelah 2 tahun yang lalu. Saya sangat jarang kesana kalau tidak ada keperluan. Ada satu pemandangan yang berbeda sekarang. Pertengahan jalan menuju ke Gerbi ( sebutan khas Gegerbitung ) Bukit, yang entah apa namanya, kini mulai dikikis sedikit demi sedikit untuk Kapur. Mungkin tak lama lagi pemandangan seperti bukit kapur di Padalarang akan terlihat.

Cuaca disana, adem ayem kawan. Tidak terlalu panas. Walau hawa panas sedang melanda sebagian besar Indonesia, tapi karena masih banyak pepohonan maka membuat kita betah memacu motor.

Jalan pun sudah aspal. Memang ada beberapa bagian yang bolong – bolong. Namun secara umum, jalan menuju kesana sudah diperbaiki. Dari Gerbi pun jika kita terus berniat untuk meneruskan perjalanan maka kita akan sampai ke Cianjur Selatan, memang saya belum pernah mencoba track kesana.

Hampir – hampir saja pengalaman 3 tahun yang lalu ketika saya melindas seekor merpati terulang. Kejadiannya pun hampir mirip. Kali ini pelakunya adalah seekor ayam. Mungkin usianya masih remaja atau transisi dari usia anak ke remaja, ah entahlah saya tak sempat mewawancara ayam itu.

Ayam itu sedang “bermain” di pinggir jalan bersama 2 orang temannya ketika saya akan melintas. Entah karena terlalu asik bermain, sampai si ayam itu lupa untuk diam dipinggir jalan dan mulai melangkah ke tengah jalan.

Saya pun tak melihat ayam itu pake headphone sehingga tidak mendengar deru motor mendekat atau memang ayam itu sudah bosan hidup. Namun dia tidak mengerti jika dia sampai berstatus “Is Dead” di ban motor saya, bulu – bulunya menyangkut disela – sela mesin motor, sebagai bukti TKP. Maka saya harus berurusan dengan pemiliknya. Dia tidaklah mengerti, ini bulan tua!!. Tunjangan belum cair Yam ! Kalaupun cair itu untuk servis motor bukan kompensasi kepada tuanmu!!! cobalah kau mengerti Yam!!!

Ilustrasi Pelaku, walau sangat tidak mirip

1 meter mendekati ayam – ayam yang bermain laju motor sekitar 30 Km/jam. Ketika 2 ayam yang lain tetap mengikuti peraturan lalu lintas pejalan kaki, ayam putih yang satu itu tiba – tiba melangkah cepat ke tengah jalan.

Saya kira dia hanya bermain – main mencoba refleks mengemudi saya dan seketika akan kembali loncat ke pinggir jalan. Ternyata saya salah besar. Ayam itu benar – benar menguji refleks saya. Jaraknya dekat sekali mungkin hanya sekitar 3 cm dari ban motor ukuran 100/80 yang pasti akan menjadi belati yang mengantar dia ke alam baka.

Langsung saya rem dengan kuat motor yang sedang melaju di gigi 3. Apakah saya melindasnya? tak tahu saya tak sempat melihat kebawah. Tiba – tiba saat motor menahan keras lajunya sekelebat bayangan loncat jauh ke pinggir jalan, syukurlah dari kaca spion saya dia ada disisi jalan kembali bermain. Sialan bikin jantungan aja!.

Rupanya mungkin dia belum siap menghadapi kematian, atau ingin bunuh diri tapi takut mati seperti lirik lagu Jaja Miharja. Dari kaca spion saya lihat si ayam tenang – tenang saja. Mungkin maksudnya bercanda. Tapi etamah teu asup kana heureuy!!!.

Syukurlah dompet saya yang sudah pasang wajah sangat memelas tidak perlu mengeluarkan kembali lembaran – lembaran yang membuat ongkos harian menjadi berat.

Ayam memang tidak pernah mengerti arti nyawa dan dompet saya, karena dia terlalu asyik bermain sampai melanggar tata tertib lalu lintas!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Cobalah Kau Mengerti….Yam!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s