Drama PSSI

Menggelikan. Itulah perasaan saya tentang sebuah turnamen di Solo yang baru usai kemarin. Bukan karena para pesertanya. Tetapi lebih karena sifat turnamen itu. Turnamen yang diberi titel SCTV Cup ini merupakan pertandingan pramusim liga Indonesia. What???!!!

Bukankah 15 Oktober lalu pertandingan pertama sudah digelar antara Persib lawan Semen Padang? Ga tahulah, tapi memang isu kompetisi pramusim mirip inter island cup musim lalu justru terdengar setelah pertandingan di Jalak Harupat.

Saya juga tidak mengerti apakah hasil imbang antara Persib Bandung vs Semen Padang dimasukkan secara resmi ke dalam klasemen sementara. Soalnya kedua tim belum diverifikasi pemainnya. Pastinya pertandingan itu dilaksanakan hanya untuk memenuhi deadline AFC.

Saleh Mukadar, yang kini diangkat menjadi deputi sekjen bidang kompetisi, mengakui pertandingan itu penuh dengan kekurangan alias dipaksakan.

Lantas kapan Liga Prima Indonesia ( LPI ) akan segera bergulir? Ga tahulah. Sampai sekarang jadwal belum disusun, manual liga belum dibagikan, para pemain dan pelatih belum diverifikasi. Mungkin PSSI tengah pusing menyongsong SEA Games. Mungkin pula mereka tengah menyusun strategi baru karena terjadi ketidakpuasan dari para peserta liga yang super kecewa LPI diikuti oleh 24 klub.

Soal pengelola/penyelenggara kompetisi yaitu PT.Liga Prima Indonesia Sportindo ( PT.LPIS ) pun menjadi bahan kekecewaan para klub – klub eks ISL. Selain masih amatiran, juga karena pembagian saham yang memarginalkan klub. Padahal dari saham klub – klub berharap mereka bisa mendapat penghasilan setelah APBD dilarang.

PT.LPIS sendiri adalah PT yang dibentuk secara misterius. Kenapa PT. layaknya rumah hantu yang menyimpan teka – teki? karena PT yang dimaksudkan untuk mengganti peran PT.Liga Indonesia ini didirikan dengan mandat dari PIHAK YANG DIRAHASIAKAN IDENTITASNYA.

Rahasia adalah sesuatu yang sangat khas LPI ( kompetisi yang hanya setengah musim ). Konsorsium LPI itu rahasia.

Kembali ke peserta kompetisi. Niatan PSSI sejak awal adalah membangun kompetisi yang profesional. Bagaimana menjadi profesional jika jumlah pesertanya pun melebihi ambang batas ketentuan yang dituliskan FIFA dan AFC. Minimal kompetisi diikuti oleh 18 klub dan maksimal 20 klub. Mungkin PSSI ingin membuat kompetisi yang SUPER PROFESIONAL dengan 24 klub.

PSSI kalut. Itulah yang kemudian terjadi. Beberapa klub tetap menginginkan PT.Liga Indonesia ( PT.LI ) sebagai pengelola kompetisi dengan pembagian saham yang menguntungkan klub sesuai hasil kongres Bali. PT.LI pun diakui AFC dan FIFA dan sudah terbukti mampu menyelenggarakan kompetisi.

Akhirnya sesuai Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ) pada 26 Oktober lalu, PT.LI akan menggelar Liga Super Indonesia pada 1 Desember. Pertandingan pramusim akan digelar bulan November ini. Tapi PT.LI mensyaratkan bahwa kompetisi ini akan digelar jika mendapat restu PSSI.

PSSI yang kalang kabut mulai bereaksi. PSSI mengklaim telah mendapatkan persetujuan banyak klub untuk ikut di LPI. Walau kemudian klaim PSSI dimentahkan oleh dua klub Persiwa Wamena dan Sriwijaya FC yang mengatakan mereka tidak akan ikut LPI.

PSSI berani mengakui dua klub itu dan beberapa klub eks LSI lainnya karena sekarang mereka mulai menekan para pejabat daerah, Gubernur, Walikota dan Bupati untuk mengarahkan klub – klub eks LSI yang ada didaerah masing – masing agar ikut LPI.

PSSI sekarang bukanlah diisi oleh para profesional sepakbola tapi oleh orang – orang yang pernah punya keterkaitan bisnis dengan Sang Penyandang Dana ( you know who lah ). Maka tak aneh, jika semua yang mereka lakukan kini kacau, karena mereka tak berpengalaman dan tak mau belajar dari yang lebih ahli.

Isu busuk berhembus bahwa LPI tahun ini ditujukan untuk membayar hutang konsorsium LPI ( Liga Primer Indonesia ) yang memutarkan liga setengah musim dengan peserta klub – klub amatiran tapi mengklaim super duper profesional.

Revolusi hanya sebuah kedok. Kedok demi rupiah, topeng demi kekuasaan. Jadi sampai kapan ini akan beres? sampai mereka sadar bahwa ini bukanlah minyak, gas bumi, kelapa sawit yang biasa mereka urus. Tapi inilah sepakbola yang berisikan manusia didalamnya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Drama PSSI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s