Jaman Duit

Kali ini saya kembali dalam keadaan buntu. Jendela New Post sudah dibuka namun saya diam, bingung apa yang mau saya tulis. Sepakbola? situasinya tambah membingungkan hari – hari ini. Bagai sidang DPR yang berakhir Deadlock.

PSSI era Djohar Arifin dengan konsep industrialisasi sepakbola makin tak jelas tujuan. Industrialisasi yang mereka bawa terwujud dalam “promosi gratis” kepada 6 klub. Salah satu alasan promosi gratis adalah “pesanan sponsor”. Apakah ini yang dimaksud industri sepakbola yang berarti sepakbola berpihak pada golongan yang punya uang?

Nilai fairplay hanya dalam buku panduan semata, ketika PSSI menentukan 6 klub gratisan maka yang muncul adalah uang menjadi diatas segalanya. Mungkin tak heran jika mereka bersikap seperti ini. Karena PSSI sekarang dipenuhi orang – orang Liga Primer Indonesia ( LPI / Liga Setengah Musim ) menerapkan konsep ala MLS ( Major League Soccer) Amerika, negara berkonsep Kapitalisme. Modal yang menentukan, modal yang berbicara, dengan uang apa saja bisa dilakukan.

Istilah Marquee player, salary cap, budgeting cap, mereka usung sebagai pertanda bahwa mereka benar – benar menyukai konsep Amerika Serikat. Orang – orang yang memenuhi PSSI pun sekarang adalah orang – orang dari perusahaan non sepakbola.

Betul jika klub harus menjadi sebuah organisasi yang bisa menghasilkan profit untuk menghidupi segala kegiatannya. Tetapi menabrak nilai – nilai sportivitas bukanlah sesuatu yang bisa ditolerir.

Maka perpecahan seperti yang kita lihat hari ini adalah hasil golongan waras vs golongan gila duit. Golongan gila duit ( PSSI ) berada diposisi decision maker. Sayangnya bukan aturan yang mereka pakai, tetapi lebih kepada orientasi bisnis.

Bisnis lawan akal sehat. Bisnis kehabisan cara, akhirnya melobi para pimpinan daerah untuk mengarahkan klub – klub didaerah masing – masing agar ikut IPL (Indonesian Premiere League). Sesuatu yang ironis. Karena sekarang klub – klub sudah berbentuk PT. Walau (mungkin ) masih menyertakan pimpinan daerah sebagai pembina dalam susunan kepengurusan PT tetapi proses penentuan keputusan klub ada di susunan manajemen klub.

Adanya mereka diposisi penentu keputusan memang memecah belah klub. Ada klub yang setia dengan PT.LI, klub – klub hasil merger atau klub yang berhasil disusupi PSSI bergabung dengan PT.LPIS.

PSSI yang sekarang benar – benar anti kabinet lama. Pembentukan PT.LPIS sebagai administrator kompetisi adalah salah satu perwujudan “jijik” mereka terhadap hasil kabinet lama. Padahal jika mau lebih objektif dan efisien, mereka tinggal menyempurnakan PT.LI dan kepengurusan liga daripada membangun sesuatu yang baru dan tak jelas kemana tujuannya.

Ketika satu rezim turun diganti rezim baru, biasanya warisan dulu diberantas habis – habisan. Padahal disinilah letak kesalahan. Ketiadaan kesinambungan pembangunan menjadi titik kesalahan pada langkah awal.

Seperti yang saya bilang, mereka harusnya mau belajar dan meneruskan apa yang sudah terbangun positif tinggal membersihkan noda – noda negatif saja.

Tapi entahlah, mungkin mereka takut jika mereka dinilai tidak mampu menghasilkan karya, tidak kreatif, tidak mampu berinovasi.

Namun karya, kreatifitas, inovasi PSSI hari ini hanyalah sebagai pengeruk keuntungan tak jauh berbeda dengan rezim yang mereka turunkan. Bahkan lebih buruk karena satu makhluk bernama “KONSORSIUM LPI” kabarnya mencari pengganti modal mereka setelah memutar LPI yang musim lalu hanya digelar setengah musim.

Era baru sepakbola Indonesia dimulai, jaman industri, jaman duit yang berbicara.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s