Kata yang Terbeli?

Minggu lalu :

“Jangan salahkan kalau nanti ISL tidak ada yang menonton”

Ucapan itu masih lekat dibenak saya. Kata – kata yang membuat saya berpikir, bagaimana seorang selevel dia, wartawan senior salah satu media terkemuka di Indonesia bisa berkata seperti itu.

Dalam sebuah sesi wawancara dengan sang oportunis, Saleh Ismail Mukadar, wartawan senior, Bung Baz, memuji habis – habisan kompetisi Indonesian Premiere League ( IPL ).

Memang tidaklah aneh jika sang wartawan mengatakan hal demikian. Dulu ketika kisruh ini dimulai, dia memang kerap mengkritik PSSI kabinet lama dan mendukung gerakan revolusi PSSI. Pun ketika kompetisi LPI yang penuh dengan klub – klub yang baru terbentuk berjalan, dia juga mendukung.

Suaranya agak kontra, kalau tidak salah, ketika KLB Riau berakhir deadlock. Dia sempat juga mengkritik duet GT – AP. Tetapi saat ini, justru kembali dia mengatakan hal yang berbeda dan malah mendukung PSSI dengan kompetisinya yang serba tidak jelas.

Hak individu memang untuk mengungkapkan setiap kehendak pikiran dan hatinya. Namun tetap saja bagi saya, dia adalah seseorang yang telah lama memperhatikan, bersentuhan, memahami, olahraga di negeri ini.

: IPL itu kompetisi yang profesional, berdaya jual:

Dia lanjutkan perkataanya. Sungguh hati ini tak bisa menerima perkataannya. Saya memang suka ISL, tapi bukan berarti saya “buta” dengan apa yang benar atau salah. Kata “Profesional” sering diusung oleh pengurus PSSI sekarang.

Hanya saja profesional dalam kamus PSSI dibuat sempit maknanya dengan berarti non-APBD. Padahal banyak sekali sisi – sisi dari sebuah kata profesional. Jika melihat pada cara kerja PSSI dalam membereskan kompetisi sangat jauh dari kata profesional.

Jadwal pertandingan yang terus menerus direvisi ( ada satu klub yang dalam jadwal bertanding di dua pulau yang berbeda dalam jangka waktu beberapa jam), manual liga yang belum diterima oleh peserta IPL padahal liga sudah berjalan, masih ada pemain asing yang belum bisa bermain karena masalah perizinan belum tuntas, memecah belah klub, menempatkan orang – orang yang tak mengerti sepakbola di posisi ujung tombak. Apa ini yang dimaksud profesional?

Mereka ( PSSI ) bilang bahwa ini kompetisi hanya untuk klub yang mau belajar profesional. Bagaimana mau menjadi profesional, jika gurunya saja masih acak – acakan.

Saleh Ismail Mukadar, mengatakan dalam wawancara itu bahwa PSSI tidak butuh klub besar. Satu hal yang kontradiktif karena setelah wawancara itu beberapa hari kemudian dikabarkan PSSI masih merayu Persib agar jangan pindah ke ISL.

Satu hal yang tidak bisa mereka bantah adalah mereka butuh penonton dalam jumlah ribuan demi kelangsungan kompetisi itu sendiri.

Kembali ke kata – kata yang pertama dari si wartawan senior bahwa ISL akan sepi penonton, sangatlah tidak terbukti.

Memang pada pertandingan pembuka di Jayapura dan Wamena tercatat 11.236 orang menonton di Jayapura dan hanya seribuan orang menonton langsung di Wamena. Hal yang lumrah karena pada 1 Desember ketika dua pertandingan itu digelar, tensi keamanan di Papua sedang “panas” karena OPM merayakan hari ulang tahunnya.

Sedangkan di SUGBK pada hari yang sama, Persija menjamu Deltras Sidoarjo. Pertandingan yang digelar sore hari pada hari kerja, cukup mampu menarik 12.000 Jakmania untuk datang langsung ke stadion. Stadion Kuantan Singingi Sport Center menampung 4.673 suporter PSPS kala menjamu Persidafon pada hari yang sama.

Sabtu, 3 Desember kemarin, dua pertandingan digelar. Pelita menjamu Sriwijaya di Stadion Singa Perbangsa sedangkan Persib menjamu Persiram Rajaampat di Jalak Harupat.

Pelita Jaya mampu mendatangkan 5.651 penonton ke stadion, mengingat stadion singa perbangsa berkapasitas penonton 12.000, jumlah ini cukup banyak. Sedangkan Persib membuktikan kenapa sampai PSSI berusaha habis – habisan merayu mereka. Karena 20.283 bobotoh hadir langsung di Jalak Harupat.

Disisi lain, A- board disekeliling lapangan dari pertandingan – pertandingan yang disebutkan diatas, penuh dengan berbagai sponsor sama halnya dengan seragam pemain. Kontradiktif dengan pertandingan IPL yang sepi sponsor, seragam pemain pun polos.

Kata – kata sang wartawan senior menguap begitu saja, ketika saya kemarin menonton di televisi pertandingan ISL di Karawang dan Bandung.

Namun kejanggalan dalam hati saya bila mengingat kembali kata – kata si wartawan tersebut masih tersisa. Namun semuanya mendukung kejanggalan tersebut karena dia pun diwawancara di stasiun televisi yang menyiarkan langsung Persebaya 1927 vs Bandung FC beberapa bulan yang lalu.

Kata yang terbeli? mungkin saja.

sumber : http://www.liga-indonesia.co.id

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s