Menjilat Ludah Sendiri

PSSI melalui pernyataan ketua umum, Djohar Arifin, melarang pemain – pemain yang bernaung di klub – klub yang berlaga di Liga Super Indonesia ( LSI ) untuk membela timnas Indonesia. Keputusan ini didasarkan pada statuta FIFA pasal 79, yang melarang pertandingan diadakan antara negara atau klub yang pemain – pemainnya tidak berafiliasi dengan FIFA..

Pernyataan ini membantah sikap mereka sendiri yang disuarakan oleh penanggungjawab timnas, Bernhard Limbong, bahwa para pemain yang berkompetisi di LSI berhak membela timnas.

Memang ini adalah peraturan yang harus ditegakkan bersama. Tetapi sikap PSSI ini adalah kebalikan dari apa yang telah mereka jalani selama ini. Setidaknya jika melihat bahwa mayoritas pengurus PSSI sekarang adalah para pendukung Liga Primer Indonesia ( LPI ) yang dilabeli FIFA “breakaway League”.

Kala itu Nurdin Halid, melarang para pemain yang bernaung di klub – klub LPI untuk membela timnas. Hal ini diprotes oleh para pendukung LPI. Padahal jelas apa yang dilakukan oleh Nurdin Halid kala itu berdasarkan pada statuta FIFA pasal 79 ini. Namun tetap saja kubu LPI, yang menyebut pihak revolusioner, menolak hal ini seperti, contohnya, yang disuarakan oleh Saleh Mukadar, manajer Persebaya 1927. Bahkan Saleh Mukadar saat itu menganggap PSSI ngawur dan pelarangan tidak berdasar seperti yang dimuat dalam republikaonline.

Padahal pelarangan itu memang benar adanya. Apalagi jika melihat status klub – klub LPI itu adalah klub baru yang sama sekali bukan anggota PSSI, bahkan sama sekali tidak berafiliasi dengan FIFA.

Namun tetap saja mereka ( LPI ) menolak pelarangan ini. Bahkan Alfred Riedl, pelatih timnas saat itu, menjadi sasaran target mereka saat itu.

Kini hal itu diterapkan oleh PSSI. Seakan menjilat ludah sendiri karena apa yang mereka tolak dahulu kala kini justru mereka gunakan. Memang ini peraturan, tetapi patut pula diingat, bahwa Liga Super Indonesia berisikan klub – klub yang masih secara resmi anggota PSSI dan juga masih mempunyai hak suara dalam kongres. Hal berbeda dilakukan PSSI jaman Nurdin Halid yang langsung mencabut hak keanggotaan PSM, Persema, Persibo, Persebaya, ketika mereka menyeberang ke LPI musim lalu.

Statuta FIFA yang mereka anggap sebagai kebohongan kala itu justru saat ini mereka jadikan sandaran.

Tidak masalah memang ketika para pemain LSI dilarang membela timnas, walau para punggawa timnas junior dan senior saat ini 99% adalah para pemain yang bergabung di klub – klub yang berkompetisi di LSI. Masih banyak para pemain lain yang bisa menggantikan mereka.

Tetapi apakah PSSI lupa, bahwa Andik Vermansyah dan Irfan Bachdim yang telah tampil dalam laga – laga resmi timnas sejak Djohar Arifin manggung di PSSI masih berstatus ” tidak resmi “. Mereka mungkin lupa, bahwa Andik Vermansyah adalah pemain Persebaya 1927 yang belum resmi jadi anggota PSSI. Irfan Bachdim yang membela Persema, status klubnya belum dipulihkan, karena seharusnya dipulihkan dalam kongres bukan lewat rapat exco. Kenapa PSSI tidak mempermasalahkan hal ini??

Kini setidaknya PSSI menyadari bahwa larangan yang dikeluarkan oleh kabinet PSSI era Nurdin Halid adalah benar adanya bukan semata – mata karena situasi “panas” saat itu.

PSSI saat ini dihadapkan pada “perang” yang dulu pernah mereka kobarkan. Ketika mereka berhasil memenangkan pertempuran itu, mereka membangun ulang PSSI dengan penuh dendam dan kebencian. Buahnya, adalah apa yang mereka rasakan pada hari ini.

Entah sampai kapan chaos ini akan berlanjut. Saya hanya berharap semua masalah ini bisa segera terselesaikan dan saya juga berharap Mr.Wim Rijsbergen dan Rahmad Darmawan tidak tambah pusing dengan kondisi ini.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s