Flashback sepakbola 2011

Hanya 4 hari lagi, kita akan melangkah menuju tahun 2012. Tentunya akan menarik jika kita melihat kembali apa yang sudah terlewati dalam jangka waktu 12 bulan ini, khususnya dalam sepakbola Indonesia.

Saya ingin memulai dari kompetisi. Liga Super Indonesia musim 2010/2011 masih didominasi oleh dua kekuatan musim sebelumnya yaitu Arema Indonesia ( Juara 2009/2010 ) dan Persipura Jayapura ( Runner up 2009/2010 ). Hanya saja kekuatan Arema Indonesia agak berkurang dengan hengkangnya pelatih Robert Rene Albert. Meski Miroslav Janu masih mampu mempertahankan kerja bagus Rene Albert namun musim 2010/2011 tidak terlalu mulus bagi Arema Indonesia.

Musim ini pula Liga Super Indonesia sebagai kompetisi resmi PSSI, dicoba digoyang eksistensinya dengan kompetisi Liga Primer Indonesia ( LPI ) bentukan pengusaha tambang, Arifin Panigoro. LPI ini mendapat restu dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, dan juga Badan Olahraga Profesional Indonesia ( BOPI ).

LPI yang berisikan klub – klub amatir yang baru terbentuk dan sebagian pecahan dari klub – klub anggota PSSI, berhasil membajak tiga peserta LSI. Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar menyeberang ke LPI yang menggunakan sistem pendanaan Konsorsium sebagai pemberi modal. Kepindahan tiga klub ini mengakibatkan LSI hanya tersisa 15 klub dengan degradasi peringkat 15.

Jualan LPI adalah bebas APBD ( diganti oleh dana konsorsium Arifin Panigoro ) dan kompetisi profesional. Dilain hari terbukti bahwa kompetisi ini dibentuk tak lain sebagai alat Arifin Panigoro dan George Toisutta menggoyang kursi Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie.

Pembukaan LPI dilakukan pada 8 Januari 2011 dengan pertandingan pembuka Persema Malang melawan Solo FC.

Persema Malang, Persibo dan PSM akhirnya dijatuhi sanksi oleh PSSI karena tampil pada Liga tak resmi dan keluar dari kompetisi resmi. Sanksi ketiganya dijatuhkan pada Kongres II PSSI di Bali tanggal 21 – 24 Januari 2011. Mereka bertiga dipecat dari keanggotaan PSSI.

Munculnya LPI merupakan salah satu senjata untuk menggeser Nurdin Halid dari kursi ketua umum. Pada akhirnya FIFA yang menganggap LPI sebagai Breakaway League, meminta Komite Normalisasi pimpinan Agum Gumelar untuk membereskannya. Agum Gumelar merangkul LPI dan menginstruksikan LPI harus berkompetisi sampai selesai satu musim penuh. Instruksi yang kemudian dilanggar oleh LPI.

Kembali ke Liga Super Indonesia yang hanya menyisakan 15 klub. Liga Super Indonesia mampu menyelesaikan dengan baik kompetisi. Dominasi Persipura besutan Jacksen F Tiago tak mampu ditandingi oleh tim lain.

Persipura akhirnya keluar sebagai juara setelah menekuk Persisam Samarinda 2 – 1 pada 8 Juni 2011. Poin 60 milik Persipura tidak terkejar lagi oleh Persija dan Arema, dua pesaing terdekat mereka. Pada akhirnya Arema Indonesia dengan poin 52 berhasil menjadi runner – up.

Hasil bagus Persipura dilengkapi dengan raihan sepatu emas Boaz Solossa sebagai top skor LSI dengan 22 gol.

Gol tercepat di LSI 2010/2011 dicetak oleh striker Semen Padang, Saktiawan Sinaga, saat melawan Persela Lamongan. Gol dicetak saat waktu baru memasuki detik – 43.

Bontang FC menjadi klub paling banyak kebobolan, terbukti dengan catatan mereka sebagai klub yang paling banyak dibobol dalam dua pertandingan dengan Persipura dan Arema dengan kebobolan sama 8 gol. Sedangkan Arema tercatat sebagai klub terbanyak clean sheets dalam 13 pertandingan.

9 gol dalam satu pertandingan menjadi catatan gol yang paling banyak tercipta dalam satu pertandingan. Persipura 8 – 1 Bontang FC pada 20 Oktober 2010 dan Persija 7 – 2 Persisam pada 23 April 2011.

PSSI tetap menetapkan sistem promosi 3 klub dari divisi utama. Peringkat 4 divisi utama menjalani partai playoff melawan klub peringkat terakhir LSI.

Persiba Bantul ( Juara Divisi Utama ), Persiraja ( Runner up divisi utama), Mitra Kukar ( Juara 3 Divisi Utama ) berhasil promosi ke LSI. Sedangkan Persidafon Dafonsoro menjadi klub terakhir yang promosi setelah pada pertandingan playoff 23 Juni 2011 mengalahkan Bontang FC dengan skor 3 – 2.

Setelah perjalanan singkat LSI 2010/2011, kita lihat bagaimana aksi klub – klub Indonesia pada kompetisi Asia.

Indonesia diwakili oleh Arema Indonesia di Liga Champion Asia. Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC berlaga di AFC Cup.

Arema bergabung bersama Cerezo Osaka, Shandong Luneng dan Jeonbuk Hyundai Motors di Grup G. Arema hanya bisa meraih satu kali imbang ketika menahan Shandong Luneng 1 – 1 di Stadion Gajayana 5 April 2011. Selebihnya Arema yang dipusingkan oleh kondisi buruk internal klub hanya bisa menerima kekalahan.

Cerita berbeda diberikan Persipura Jayapura dan Sriwijaya di ajang AFC Cup. Kedua klub ini berhasil menembus fase grup dan masuk 16 besar. Sayang pada fase 16 besar Sriwijaya kalah oleh Chonburi Thailand. Sedangkan Persipura terus melaju sampai perempatfinal. Klub Irak Arbil SC akhirnya menghentikan langkah mutiara hitam.

Timnas Indonesia pada 2011 ini banyak diwarnai kekecewaan. Pada 23 Februari 2011 skuad timnas U-23 dikalahkan Turkmenistan 1 – 3 pada leg 1 pertandingan pra kualifikasi Olimpiade. Leg kedua 29 Maret 2011 Indonesia kalah 1 – 0.

Timnas senior diwarnai dengan pemecatan sepihak Alfred Riedl. Riedl yang dianggap kabinet baru PSSI pimpinan Djohar Arifin dikontrak Nirwan Bakrie bukan oleh PSSI diganti oleh Wilhelmus “wim” Rijsbergen pelatih yang didatangkan Konsorsium LPI yang awalnya menangani PSM Makassar.

Wim yang dibantu oleh Rahmad Darmawan membawa Indonesia ke babak 3 kualifikasi Piala Dunia 2014 setelah menahan imbang Turkmenistan 1 – 1 23 Juli 2011 dan mengalahkan Turkmenistan 4 – 3 28 Juli 2011 di Jakarta.

Namun setelah itu, setelah kepergian Rahmad Darmawan yang menangani timnas U-23 gagal di babak 3 setelah dipecundangi Iran, Bahrain dan Qatar. Masih ada satu pertandingan sisa pada Februari 2012 mendatang melawan Bahrain.

Timnas U- 23 yang diberikan target untuk meraih emas pada Sea Games 2011 Palembang. Menunjukkan performa yang bagus. Beberapa bintang muncul di tim yang ditangani oleh Rahmad Darmawan ini. Titus Bonai, Patrich Wanggai, Egi Melgiansyah dan Diego Michiels adalah beberapa nama yang menjadi bintang dan penghuni starting line up.

Sayangnya Indonesia gagal kembali meraih emas dicabang sepakbola. Pada final 21 November 2011 Indonesia dikalahkan Malaysia lewat adu penalti. Indonesia hanya kebagian medali Perak namun raihan ini menghapus puasa medali Indonesia selama 12 tahun.

Dualisme kompetisi kembali terjadi menjelang akhir tahun. PSSI gagal menyajikan konsep yang bagus untuk kompetisi pengganti LSI yang mereka bubarkan. Justru timbul banyak masalah baru efek dari kegagalan PSSI. PSSI membuat Liga Prima Indonesia yang berisikan 13 klub karena kebanyakan klub alumni LSI kembali berkompetisi di Liga Super Indonesia 2011/2012 dengan pengelola PT.Liga Indonesia.

Keengganan eks alumni LSI untuk bergabung di LPI dipicu oleh beberapa masalah yang dibuat oleh PSSI. Diantaranya membuat klub – klub tandingan ( dualisme klub ), memberikan promosi gratis kepada 6 klub, dan pengelolaan saham yang hanya memberikan 30 % saham liga kepada klub peserta. Keputusan – keputusan PSSI yang dibuat dirapat Exco ini melanggar keputusan Kongres II Bali.

Dualisme kompetisi menjadi bara panas yang nampaknya akan kembali mengantar PSSI untuk menggelar Kongres Luar Biasa. 2012 akan menjadi jawaban bagi sepakbola Indonesia.

Sumber : wikipedia.org
bola.liputan6.com
antarnews.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Flashback sepakbola 2011”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s