Slamet, sebuah inspirasi

Sehabis lari pagi, sempat membaca sebuah berita dalam harian Pikiran Rakyat tentang seseorang yang bernama Slamet yang bertahun – tahun menjadi “polisi” mengatur lalu lintas di Bandung walaupun ia bukanlah seorang anggota kepolisian.

Slamet diberitakan mempunyai kelainan sejak kecil. Dia menderita kelainan mental. Pun sehari – hari ia dirawat oleh kakaknya. Kebiasaannya semasa kecil nongkrong dipinggir jalan entah bagaimana menggugah keinginannya untuk ikut mengatur lalu lintas. Sebagai pengatur lalu lintas ia tak segan – segan untuk marah kepada pengguna jalan yang melanggar aturan lalu lintas. Seorang anggota polisi, rupanya mengakui jasa Slamet, memberikan seragam warna putih sebagai “pakaian dinas” Slamet.

Slamet mengatur lalu lintas karena kehendak yang murni. Meski banyak sekali pengemudi yang memberikannya uang receh, Slamet tidak pernah mengerti akan uang. Uang receh pemberian ia tabung dalam beberapa celengannya. Slamet melakukan semua ini bukan untuk uang tapi bagaimanapun, saya pandang, inilah panggilan hati seorang Slamet untuk berbuat sesuatu.

Somehow, berita yang saya baca itu mengharukan hati saya. Betapa seseorang yang tak pernah berharap, mengerti akan uang rela berpanas – panas setiap hari untuk ikut mengatur lalu lintas. Betapa seorang yang mungkin tak begitu paham dengan kehidupan ini, mempunyai niat tulus dan murni untuk menyumbangkan tenaganya berbuat sesuatu yang mulia.

Apa yang dilakukannya mungkin saja hal yang kecil. Tapi itu tergantung darimana kita memandangnya. Seorang pemuda dengan kelainan mental membantu mengatur lalu lintas disebuah pertigaan yang ramai, membahayakan keselamatannya sendiri demi teraturnya lalu lintas, sungguh sebuah hal yang sangat besar dan berarti.

Mungkin diantara kita atau saya sendiri lebih banyak mengeluh tentang kehidupan. Berkeluh kesah tidak mampu. Mudah menyerah. Mungkin pula niatan dalam hati kita tidak selalu tulus. Mungkin pula selama ini kita terperangkap dalam kata “uang” sehingga melupakan rasa menolong yang tulus.

Slamet benar – benar memahami arti kalimat “berguna bagi orang lain dan kehidupan”. Selama ini kita berharap seperti itu, namun sering juga kita bingung bagaimana menjalaninya.

Seringkali kita ingin melakukan hal – hal yang besar dalam kehidupan tetapi lupa hal – hal kecil yang semestinya dilakukan. Seringkali pula kita kehilangan kekonsistenan dalam apa yang kita jalani walaupun apa yang kita jalani adalah berarti.

Apa yang dilakukan Slamet rupanya sangat bermakna karena kini ia dirindukan banyak pengguna jalan. Slamet telah pindah ke Riau mengikuti kakaknya yang mengurusnya semenjak ia kecil.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s