Ini Gila Bahkan Terlampau Gila

“Jika diawal pertandingan saya masih berkata kebanggaan timnas, maka diakhir saya mengatakan ini memalukan” Kata – kata pembuka Tris Irawan, sang komentator, setelah jeda iklan begitu menohok. Melengkapi perih 10 gol yang menggelontor bak banjir ke gawang Indonesia.

Kekalahan 10 gol tanpa balas atas Bahrain di Bahrain National Stadium ( 29/02 ) menjadi sebuah kekalahan paling besar yang pernah tercatat dalam sejarah timnas Indonesia. Catat baik – baik KEKALAHAN TERBESAR INDONESIA SEPANJANG MASA. Terlebih hasil memuakkan ini diraih dalam laga terakhir FIFA WORLD CUP 2014 Asian Qualifiers.

Empat Penalti untuk Bahrain, Pelatih dan penjaga gawang Indonesia dikenai kartu merah, 4 gol di babak pertama dan 6 gol dibabak kedua.

Bukanlah salah para pemain. Seperti yang dikatakan oleh Tommy Welly, para pemain ini memang belum saatnya tampil memangku jabatan andalan ditimnas senior. Mereka dipanggil dalam sebuah keterdesakan, dalam sebuah kericuhan yang belum berakhir sampai sekarang yang ironisnya diawali sendiri oleh orang – orang yang kini menduduki PSSI.

Pelatih timnas, Aji Santoso, yang malam ini dikenai kartu merah bersama penjaga gawang Samsidar menyatakan jauh – jauh hari bahwa para pemain yang mengikuti seleksi timnas untuk menghadapi Bahrain hampir semua adalah cadangan di klub masing – masing dan belum memahami betul cara bermain sepakbola. Sekedar menambah fakta menyedihkan, tim ini disiapkan dalam waktu singkat dan dalam ujicoba dengan Persebaya 1927 24 Februari yang lalu, timnas kalah 1 – 0. Bayangkan oleh level klub Indonesia saja sudah kalah.

Kondisi dalam skuad pemain dipengaruhi sendiri oleh kebijakan PSSI. Kebijakan untuk menambah peserta kompetisi dalam negeri dengan alasan yang tidak jelas yang berujung hijrahnya klub – klub yang menaungi para pemain langganan timnas ke kompetisi lain.

Entah sesudah ini apakah sepakbola Indonesia akan bangkit atau tambah hancur? Namun inilah buah konflik kepentingan sepakbola Indonesia. PSSI mesti segera mengevaluasi diri. Mereka tidak bisa lagi berjalan sendiri, mengatakan diri paling benar walau melanggar statuta, tidak bisa lagi mereka bersilat kata karena penampilan timnas turun ke titik nadir dan dengan hasil ini masyarakat akan kehilangan simpati.

Baru kali ini, sejak peluit babak pertama dibunyikan gairah saya menonton perjuangan timnas sudah hilang setengahnya. Makin hilang ketika bola demikian mudah masuk ke gawang Indonesia. Bukan saya mengecilkan arti perjuangan para pemain. They gave everything they could. Tapi tim ini lahir prematur, timbul terpaksa dari situasi chaos, tanpa banyak persiapan. Lahir dari sebuah kompetisi yang perjalanannya lebih banyak rehat daripada bertanding. Pelatih pun baru saja ditunjuk menggantikan Wim Rijsbergen yang gagal dan mirisnya kini menjabat Direktur Teknik Timnas yang secara alur jabatan lebih tinggi dari Pelatih Timnas.

Inilah sisi yang saya rasa harus disadari walau sisi kemarahan, malu, lebih mendominasi hati kita malam ini jika kita melihat kepada sisi pemain dan pelatih.

Tapi jika melihat PSSI, jujur saya muak. Karena hasil ini sangatlah gila, terlalu gila untuk sebuah negara yang dulu pernah dijuluki macan Asia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s