Lonceng Untuk PSSI

Akhir Februari dan awal Maret 2012 menjadi sebuah rentang waktu yang kelam dalam persepakbolaan Indonesia. Hanya dalam waktu 1 minggu lebih, dua lonceng berbunyi kencang, lonceng yang berdentang sebagai penanda terpuruknya sepakbola Indonesia ke titik terendah.

Kekalahan terbesar Indonesia sepanjang masa dengan 0 – 10 masih ramai dibahas dimana – mana. Semalam Indonesia kembali ditampar dengan kekalahan di final Hassanal Bolkiah Trophy 2012 ( HBT ) dari tuan rumah Brunei Darussalam.

Tamparan ini sedemikian keras karena jika melihat sejarah, Brunei biasanya adalah lumbung gol Indonesia. Tidak pernah ada kekhawatiran ketika Indonesia harus bertemu Brunei dalam laga resmi. Laga semalam ketika Andik Cs kalah 0 – 2 membuat reputasi lemah Brunei mendadak menjadi salah satu penantang serius Indonesia.

Lawan berat Indonesia di Asean kini bukan hanya Thailand, Singapura, Malaysia dan Vietnam. Namun Myanmar, Filipina, Brunei punya kans untuk terus menggoyang kenyamanan Indonesia.

Memang laga semalam hanyalah level timnas U-21. Tetapi setidaknya menunjukkan kebangkitan negara – negara tetangga dalam sepakbola dan menunjukkan Indonesia tidak maju kemana – mana alias diam ditempat.

http://www.hassanalbolkiahtrophy.com.bn/

Yoshua Pahabol Cs telah memberikan yang terbaik. Pelatih Widodo Cahyono Putro sudah memberikan apa yang dia bisa kerjakan dalam waktu singkat dengan pilihan terbatas. Skema permainan Indonesia di HBT sangatlah bergantung kepada skill individu pemain. Kerjasama pemain masih kurang bagus. Ketika Brunei menghadang Indonesia dan mengetahui kunci permainan Indonesia ada di skill individu maka habislah kita. Wajar jika mengingat persiapan yang sedemikian singkat.

Dengan kekalahan ini layaknya PSSI berpikir dalam – dalam, merenung dan menginstropeksi diri. Apa yang telah mereka lakukan sehingga membawa Indonesia terjun bebas? Mereka bisa beralasan belumlah lama menjadi pengurus bila berbicara soal prestasi, tetapi jika berbicara kekalahan memalukan tentulah soal waktu tidak terlalu berpengaruh.

PSSI tetap beralasan bahwa FIFA telah melarang PSSI untuk memanggil pemain – pemain yang bernaung di klub ISL. Namun sesungguhnya FIFA belumlah melarang PSSI untuk memanggil pemain – pemain ISL karena FIFA masih menunggu hasil kongres PSSI nanti.

Contoh nyata adalah ketika FAM memanggil Safee Sali dalam laga ujicoba melawan Filipina dan memainkannya membuktikan bahwa belum ada pelarangan apapun dari FIFA.

PSSI mengeluarkan dalih, lewat Deputi Sekjen Bidang Kompetisi yang lebih tampak sebagai humas PSSI, Saleh Mukadar, bahwa Safee didaftarkan dengan klub Brisbane Roar. Pelita Jaya klub Safee sekarang tentu saja menepis hal ini, karena surat pemanggilan FAM untuk Safee Sali pun ditujukan ke Pelita Jaya.

Jika melihat timnas U – 21 maka PSSI sebenarnya bisa memanggil para pemain U – 21 yang banyak tersebar di klub – klub ISL. Bahkan selama 3 musim ISL telah mempunyai kompetisi U – 21 yang terakhir dijuarai oleh Persela U – 21.

Memang tidak ada sebuah jaminan bahwa jika memanggil pemain – pemain yang berlaga di ISL berarti kemenangan. Kredo bola itu bundar sudah sangat dipahami.

Tetapi dari dua kekalahan ini mengajarkan PSSI bahwa untuk urusan membela negara tidaklah bisa main – main. Tidaklah bisa mempersiapkan tim dengan asal – asalan. Timnas bermakna harga diri bangsa.

Selama FIFA belum melarang pemanggilan pemain – pemain ISL kenapa tidak mereka dipanggil untuk memperkuat timnas. Surat FIFA menjelang laga Bahrain yang meminta PSSI tetap menurunkan para pemain yang berlaga di 5 pertandingan sebelumnya, menunjukkan bahwa FIFA belum mengeluarkan keputusan apa – apa.

PSSI kini sibuk dengan pemahaman mereka bahkan cenderung berpikir sempit. Mereka yakin kompetisi IPL merupakan kompetisi yang melahirkan pesepakbola tangguh. Namun mereka juga mesti sadar, belumlah lama IPL berputar dan kompetisinya pun lebih banyak rehat.

Mereka enggan mewarisi apa yang ditinggalkan kabinet lama, tetapi mereka juga tidak menyadari bahwa mereka berpijak pada pondasi yang ditinggalkan Nurdin Halid Cs. IPL belum menghasilkan apa – apa !!!! Kabinet Djohar Arifin belum menghasilkan apa – apa !!!

Inilah yang mesti disadari oleh mereka. Kesombongan mereka untuk tidak belajar dari yang sudah – sudah berujung bencana. Ketika mereka memulai semua dengan dendam maka dua kekalahan ini adalah karya nyata mereka.

Terimakasih PSSI…!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s