Catatan Sabtu Sore

Weekend datang kembali. Sabtu dan Minggu yang lebih banyak dilewati dengan berdiam dirumah ( sekarang ). Sepakbola tetap menjadi menu utama tontonan ketika sore menjelang, tentunya tetap memilih ISL. Lebih rame, lebih menegangkan ketimbang IPL yang sepiiiiiii dan dibangun atas dasar yang tidak benar.

Sebenarnya saya sedang malas menulis tentang sepakbola dalam negeri. Terlalu banyak kericuhan membuat saya bingung mengurai satu persatu masalah meski saya hanya seseorang yang melihat dan membaca lewat media – media elektronik dan massa.

Apa yang terjadi sekarang menjelang KLB PSSI merupakan ulangan apa yang pernah terjadi sebelumnya menjelang Nurdin Halid turun. Ada kelompok – 78 kini ada KPSI. KONI tetap konsisten dengan sifat mencla mencle- nya. Dulu KONI dan Menpora membuahkan semacam mosi tidak percaya kepada Nurdin Halid kini pun mereka mengeluarkan beberapa butir keputusan dalam kerangka rekonsiliasi sepakbola nasional.

Hanya satu yang saya sesali dari sikap KONI. Dahulu KONI dan Menpora begitu bencinya kepada Nurdin Halid dan terang – terangan membela Arifin Panigoro dan LPI. Kini apa yang mereka perjuangkan telah membuahkan kursi jabatan Ketua Umum ditangan Djohar Arifin, pengikut setia Arifin Panigoro.

Namun setelah suasana berubah kacau, KONI dan Menpora “cuci tangan” dengan membalikkan dukungan menjadi ancaman. Menpora bahkan mengancam tak ada lagi dana untuk PSSI. Mungkin lebih baik jika mereka tetap berada disisi Arifin Panigoro dengan setia, bagaimanapun tangan mereka sedikit banyak mengotori perjalanan sepakbola Indonesia. Bukankah nilai kesetiaan selalu dihargai dimanapun?

Tetapi mungkin juga, mereka membalikkan dukungan karena mereka tidak mau ikut hancur dalam kapal yang penuh lubang disana sini dan mungkin sebentar lagi karam bernama PSSI. KONI dan Menpora selalu menyebut – nyebut nilai fair play. Apa yang mereka lakukan sangatlah tidak fair karena menyelamatkan diri sendiri alih – alih ikut bertanggung jawab. Poin – poin rekonsiliasi menurut saya hanyalah sebuah tindakan menutupi malu atas kesalahan mereka.

LPI dan LSI tak mungkin dileburkan menjadi satu. Keduanya lahir dari rahim yang berbeda. LPI lahir dari sebuah egosentris, balas dendam yang ditutupi dengan topeng “profesionalitas”. Pesertanya pun patut dipertanyakan. Jakarta FC dan Persebaya 1927 apakah anggota resmi PSSI? PSMS medan, Bontang FC yang dinaikkan kasta bersama 4 klub lainnya apakah berhak tampil di kompetisi teratas? apalagi PSMS Medan yang tampil di IPL lahir dari sebuah teknologi KLONING yang kini sedang dibiakkan PSSI.

Sedangkan LSI lahir dari sebuah perjalanan yang panjang. Perjalanan sambung menyambung dari galatama – perserikatan dan era Liga Indonesia. Pesertanya pun resmi anggota PSSI. Mereka memilih berkompetisi di LSI karena PSSI ingin memasukkan 6 klub secara gratisan dengan alasan aneh yang pastinya melanggar apa yang telah ditetapkan di Kongres Bali.

Satu hal yang mesti dipelajari oleh PSSI sekarang adalah pergantian pengurus sudah merupakan kebiasaan namun kompetisi apalagi berbicara peserta selalu merupakan anggota resmi PSSI bukan klub amatiran yang diakukan profesional oleh PSSI.

Menurut saya yang lebih baik adalah membiarkan satu tetap hidup dan mengorbankan yang lain untuk mati. Tentunya PSSI jangan berbuat kesalahan lagi dengan memaksakan ego demi kata profesional yang jauh panggang dari api. Peserta kompetisi haruslah yang berhak secara historis perjalanan kompetisi dan anggota resmi PSSI.

Tuh kan jadi ngomongin sepakbola!!!! Geus ah !!!

Menentukan nama anak tak terbayangkan akan sulit. Kami tentunya ingin nama yang baik, mengandung do’a dan harapan akan si anak. Beberapa alternatif sudah dicoba ( tapi ga sampe ke herbal – herbal ). Biasanya menentukan nama anak adalah sesuai dengan selera orang tua masing – masing.

Ada yang kreatif dengan menyatukan inisial suami dan istri menjadi satu suku kata, ada yang mengambil dari kata yang sudah jadi. Semua sah – sah saja.

Terus terang saya tidak terlalu berselera dengan menamai anak dengan kata – kata dari bahasa luar. Saya lebih senang memilih nama anak yang meng-Indonesia. Diambil dari bahasa Indonesia ataupun bahasa Sunda, Sansekerta pun boleh. Mungkin karena terpengaruh novel Gajah Mada hehehe. Selama artinya baik, tentu sah – sah wae.

“ari ngaran budak teh kudu mantes ka kolotnakeun” Itulah petuah nenek moyang yang berarti bahwa nama anak harus sesuai dengan si anak jangan terlalu berlebihan dan dalam kalimat tadi bermakna nama harus cocok, enak dipanggil sampai di usia tua.

Inilah yang masih kami diskusikan, rembukkan tapi tidak sampai rapat dan membentuk pansus. Karena pansus DPR pun tidak pernah bisa menyelesaikan masalah yang ada malah bikin tambah bingung.

Semoga pada harinya kami bisa menemukan nama yang cocok. Kami harus siap – siap dua nama untuk laki – laki dan perempuan karena pengalaman seorang teman, ternyata teknologi USG pun bisa salah membaca kelamin si anak.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Catatan Sabtu Sore”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s