Ironi 82 Tahun PSSI

Rasa – rasanya hampir semua media yang mengupas ulangtahun PSSI yang ke – 82 pada 19 April lalu akan mencantumkan seandainya Soeratin Soesrosoegondo masih hidup tentu ia akan sangat menyesal melihat konflik di organisasi yang dibangunnya.

Organisasi yang didirikan sebagai alat pemersatu bangsa melawan penjajah kini malah pecah belas ditunggangi kelompok tertentu yang tidak peduli bagaimana nasib sepakbola Indonesia, mereka hanya mempedulikan nafsu untuk balas dendam.

Konflik yang dimulai tahun lalu seakan menjadi sebuah lingkar labirin yang sulit dicari jalan keluar. Saling klaim paling benar antara PSSI dan KPSI, meninggalkan harapan – harapan masyarakat agar selekasnya sepakbola Indonesia menghadirkan prestasi.

Masyarakat Indonesia seakan diajak ke era romawi dimana para gladiator saling bunuh untuk bertahan hidup di arena Colosseum. Sementara majikan – majikan para gladiator menjadikan darah, erang kesakitan, pembunuhan, sebagai hiburan mereka. Terlalu sadis memang tapi inilah kondisi sepakbola Indonesia sekarang.

Dualisme kompetisi yang disulut kubu Arifin Panigoro dengan LPI yang berisikan klub – klub amatir dan antah berantah, nyatanya masih coba terus dilanjutkan meski LPI dinyatakan selesai setengah musim. Tetapi sel – sel, bibit – bibit LPI sebagai kompetisi amatir coba diteruskan sang pembantu, Djohar Arifins sebagai ketua umum PSSI.

Inilah yang kembali melahirkan dualisme kompetisi, ketika klub – klub eks ISL enggan untuk berada dinaungan PSSI ( karena sikap PSSI ), dan membentuk kembali ISL.

PSSI sendiri mulai kehilangan kendali. Mereka lebam dihantam disana – sini akibat tindakan mereka sendiri. IPL yang hanya dihuni 12 tim (beberapa diantaranya non anggota PSSI ) tidaklah berjalan mulus. Penundaan jadwal sering terjadi, aturan transfer pemain yang tidak jelas, dan adanya anggapan klub anak emas.

Kebijakan mereka soal timnas menghadirkan aib terbesar sepakbola Indonesia dengan kekalahan 0 – 10. Cerita 0 – 10 masih terus berkembang. Para pemain dicurigai oleh FIFA dan PSSI, dan pelatih Aji Santoso yang harus membayar denda sanksi yang kabarnya urunan dengan PSSI.

Kehadiran KPSI, bagi saya, juga tidak membuat hati lega. Justru menurut saya makin membingungkan. Paling bingung adalah keinginan KPSI untuk membentuk timnas. Indonesia terancam punya dua timnas.

Muncul kini dua pelatih yang diklaim sama – sama membesut timnas. Alfred Riedl dipihak KPSI dan Nil Maizar di PSSI. PSSI yang kini ( mulai merasa terancam ) kembali memperbolehkan pemain ISL untuk bergabung namun kata terlanjur terucap, klub – klub yang bermain di ISL tidak mengizinkan pemain – pemain mereka untuk memenuhi panggilan PSSI.

Lambang negara, Garuda yang sakral, kini pun dijadikan mainan oleh dua kubu ini. PSSI telah membuktikan lelucon mereka terhadap Garuda dengan skor 0 – 10. Entah apa yang akan dibuat KPSI untuk “menertawakan” Garuda.

Inilah kenyataan 82 tahun PSSI. Mungkin selayaknya manusia, usia 82 tahun biasanya tubuh sudah renta, mulai sakit – sakitan, dan emosi cenderung labil. Mungkin itulah PSSI sekarang yang bukan tua – tua keladi tetapi tua – tua tambah jompo.

Kapan semua akan selesai? kita tidak tahu. Hanya saya pribadi lebih mengharapkan FIFA dan AFC turun langsung untuk membereskan masalah ini. Turunkan Djohar dan kroni dari PSSI, bubarkan KPSI, larang mereka semua untuk kembali terlibat di PSSI. Saya yakin masih banyak putra bangsa yang lebih sanggup membawa Indonesia berjaya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s