Mohon Segera Sadar

Hanya 1 kemenangan dan 2 kekalahan yang bisa dipersembahkan Persib diawal putaran 2 Indonesia Super League ( ISL ). Hasil ini perlu digarisbawahi, dicetak tebal – tebal, karena terjadi setelah lengsernya Drago Mamic dan dibuangnya striker yang tidak disukai manajer, Moses Sakyi.

Dua pemain yang memang diinginkan manajer, Marcio Souza dan Noh Alam Shah sudah bergabung dan bermain. Pelatih yang dianggap jelek sudah digantikan oleh Robby Darwis sebagai caretaker. Namun kata “Bagus” masih jauh dari harapan.

1 kemenangan saat menjamu Gresik United di Stadion Siliwangi tidak dihasilkan lewat pola permainan yang jelas. Tambah tidak jelas ketika Persib dihantam Persiba di Bandung. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mampukah Robby menangani tim? karena jauh sebelumnya, salah seorang legenda Persib, Adjat Sudrajat, yang sezaman dengan Robby Darwis mengatakan bahwa mantan rekan bermainnya itu tidak punya kapabilitas untuk melatih.

Semenjak juara Ligina I belum ada lagi pelatih yang mampu menyatukan Persib. Gonta – ganti pelatih kerap mewarnai perjalanan “Maung Bandung”. Jaya Hartono dan Arcan Iurie, dua pelatih yang sukses ditim sebelumnya gagal menghadirkan “magis” yang sama di tim ‘pangeran biru’. Bahkan kemunduran mereka dari jabatan pelatih Persib, diiringi berita tidak sanggup lagi menerima tekanan.

Era PT.PBB persib bertransformasi menjadi klub kaya. Didukung sebuah konsorsium pengusaha – pengusaha Jawa Barat dan melimpahnya sponsor, uang bukanlah masalah yang sulit bagi Persib.

Hanya sayangnya perubahan klub menjadi sebuah klub yang lebih profesional tidak diiringi dengan pola pikir yang profesional. Sejauh ini terlihat Persib tidak mempunyai perencanaan yang jelas. Semua dilakukan per 1/2 musim. Awal musim memboyong pelatih ternama, 1/2 musim pelatih itu dilepas. Awal musim memboyong pemain – pemain bagus, 1/2 musim pemain – pemain itu dihujat ironisnya oleh manajer sendiri.

Setengah musim menuju akhir kompetisi akan menjadi sesuatu yang berbeda pula bagi Persib. Tidak ada kontinuitas pembangunan, tidak ada kesabaran dalam membangun.

Apalagi pemilihan pemain dan pelatih semua harus bermuara kepada kehendak sang manajer, Umuh Muhtar. Korban terbaru adalah Moses Sakyi yang tidak disukai oleh Manajer. Sebelumnya ada pelatih Daniel Darko Janackovic yang ditendang sebelum kompetisi berputar. Parahnya lagi, karena semua harus bermuara pada hati dan kepala sang manajer, semuanya berujung kepada apakah manajer suka atau tidak, saya melihat Moses Sakyi memang menjadi sosok yang “dijauhi” para pemain lain. Lihatlah ketika ia mencetak gol, hanya sedikit pemain yang menghampiri merayakan gol. Selebihnya Moses sering terlihat berselebrasi sendiri.

Tak cukup dengan penentuan pemain dan pelatih, Sang manajer pun masuk keranah teknik pelatih. Dia mengkritik habis – habisan Drago Mamic saat kalah di Gresik pada akhir putaran pertama.

Memang Umuh Muhtar, disebut – sebut sebagai orang yang sangat mencintai Persib. Bahkan jauh sebelum ia menjadi manajer, ia tak segan – segan merogoh kocek pribadi untuk memberikan bonus ketika Persib menang.

Hanya saja modal uang dan cinta tidak cukup untuk menjadi seorang manajer. Seorang manajer tentu harus punya visi dan misi yang jelas, punya perencanaan yang matang, mampu menjadi tembok ketika anak buahnya dikritik suporter, mampu mempersatukan semua elemen tim, mampu memenangkan hati suporter fanatik, punya kebijaksanaan dalam bertindak dan berucap, mampu menerapkan etos kerja.

Sayang seribu sayang, Umuh tidaklah seperti itu. Semuanya berdasarkan emosi, semuanya berdasarkan “aing suka ato teu suka”. Umuh selalu berpendapat bahwa apa yang dilakukannya karena suporter sudah merindukan gelar juara. Namun sampai saat ini, justru bukan menuju juara, keadaan kacau balau lah yang tercipta.

Suara – suara suporter kini menginginkan Il manajer untuk segera mundur. Tapi bagaimanapun Umuh tetap kokoh pada kehendaknya.

Jika Umuh tetap tak mau pergi, Umuh juga harus berubah menjadi lebih profesional. Memahami peran dan fungsi seorang manajer. Turunkan emosi dan memberikan kebebasan juga menghormati kepada tugas pelatih. Berikan dukungan kepada pemain dan pelatih tidak hanya disaat menang tapi juga disaat terpuruk. Bukan menjelek – jelekkan pemain dan pelatih ketika tim kalah.

M.S.T.U !!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s