Umuh (masih) bertahan

Saga kekecewaan bobotoh terhadap kinerja Persib Bandung yang melahirkan tuntutan mundur kepada Il Manajer, Umuh Muhtar, dijawab oleh sang manajer dengan pernyataan siap mundur. Umuh yang saat ini sedang melaksanakan ibadah umroh, menyatakan siap mundur sebagai pertanggungjawaban atas buruknya prestasi Persib.

Seketika rona cerah sempat ada. Bobotoh yang menginginkan perubahan pada tata manajemen Persib agar bisa menghadirkan kekonsistenan prestasi terpenuhi tuntutannya.

Tuntutan agar terjadi perubahan pada manajemen Persib menghadirkan kisah pahit bagi bobotoh. Salah satu yang menjadi kisah utama adalah digelarnya pertandingan Persib vs Persipura di Stadion Siliwangi tanpa penonton hari Minggu ( 30/04 ) kemarin. Pihak manajemen melarang bobotoh untuk masuk ke stadion dengan alasan menghindari hal – hal yang tak diinginkan.

Sontak niat Umuh untuk mundur menjadi kegembiraan. Namun berita gembira ini kembali menjadi samar karena pembelaan terhadap sosok Umuh muncul dari internal tim. Kapten Persib, Maman Abdurahman, mengatakan bahwa Umuh masih sangat layak menjadi manajer dan pemain akan merasa kehilangan jika Umuh mundur.

Presiden PT. PBB, Glen Sugita, menyatakan bahwa Umuh tidak diizinkan mundur. Kegagalan Persib pun bukan tanggung jawab sepenuhnya Umuh lanjut Glen. Glen masih ingin mempertahankan Umuh Muhtar karena belum ada pengganti yang pas.

Kini bobotoh masih menunggu kejelasan dan kepastian manajer ini. Karena bobotoh sendiri sudah jengah dengan keadaan Persib. Tuntutan Umuh untuk mundur pun didasari fakta – fakta seperti ;

1. Umuh Muhtar terlalu mengintervensi fungsi dan peran pelatih;
2. Penentuan pemain dan pelatih yang akan dibeli sepenuhnya dipegang oleh manajer; Ingat kasus Daniel Darko Janackovic dan Moses Sakyi.
3. Bongkar pasang tim dan pergantian pelatih setiap musim
4. Kritikan keras dimedia terhadap pemain atau pelatih
5. Prestasi yang tak kunjung hadir.

Jika dilihat memang bukanlah background Umuh Muhtar untuk menjadi manajer. Umuh meski seorang fans loyal Persib tidak bisa menjadi manajer yang baik. Intinya memang bukanlah pekerjaan ahlinya.

Disisi lain, kini mulai muncul lagi nama yang didesak untuk ikut mundur. Dialah, Zaenuri Hasyim, yang kini memegang jabatan Direktur Teknik. Kembali pula ini kasus memberikan pekerjaan bukan pada ahlinya. Karena baik Zaenuri maupun Umuh mempunyai latar belakang pengusaha.

Bagaimana ending cerita masih belum diketahui. Yang pasti tuntutan akan perubahan di Persib semakin besar. Persib kini sedang mengidap sindrom “klub kaya”. Membeli pemain – pemain yang berlabel bintang dengan harapan prestasi segera hadir, mengontrak pelatih – pelatih asing debutan di Liga Indonesia, dan membuang para pemain binaan sendiri yang ironisnya “laku” dan diakui skillnya oleh klub – klub lain.

Ironis pula ketika prestasi tak kunjung hadir dan Persib hanya menjadi tim “papan tengah”. Fenomena lain adalah para pemain bintang yang diangkut justru malah melempem penampilannya. Hal ini mengindikasikan bahwa peran manajer dan direktur teknik tidaklah berjalan dengan baik.

Apakah kehancuran ini akan terus kita lihat?? kita nantikan jawabannya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s