Wasit Kapan Akan Mereka Hargai?

Sore tadi ketika menit memasuki 79 pada pertandingan Gresik United melawan PSMS Medan, protes keras terhadap wasit kembali terjadi. Para pemain PSMS tidak terima dengan hukuman penalti meski bek mereka memang mengganjal walau secara “ringan” pemain Gresik didalam kotak penalti.

Selang beberapa menit, Kacung Munif tertangkap basah menahan laju bola dikotak penalti dengan tangan. Wasit balik menghadiahi penalti untuk PSMS. Protes keras kali ini dari pemain Gresik kembali terjadi.

Beberapa hari sebelumnya, Ortizan Solossa dengan brutal menendang wasit ketika Persipura dihukum penalti. Padahal Ricardo Salampessy benar mendorong Greg Nwokolo dikotak penalti untuk menghentikan lajunya. Bukan hanya sekali, Ortizan kembali mengancam wasit dengan menarik kerah bajunya kala Gerard Pangkali yang benar – benar bersalah akan dihukum kartu oleh wasit.

Partai Arema kala menjamu Pelita Jaya berujung pada mogoknya para pemain Pelita yang memprotes gol Alain N’kong. Sebelumnya Persiram mengancam akan keluar dari Liga Super jika tidak ada partai rematch melawan Gresik United. Mereka kecewa dan merasa dirampok wasit.

Setali tiga uang dengan IPL yang disebut – sebut profesional nyatanya penuh dengan kritik terhadap wasit. Salah satu yang paling hot adalah protes Persebaya 1927 saat kalah dari Persema.

Uniknya dua organisasi yang bersaing PSSI Djohar dan PSSI – KPSI sama – sama mengajukan solusi “aneh” yaitu menyewa wasit asing.

Liga Super pernah mendatangkan wasit asal Malaysia, Suhaizi Bin Shukri, awal tahun lalu. Para Jenggala pendukung PSSI yang diketuai Djohar Arifin saat LPI digulirkan pernah memakai wasit asal Eropa Timur.

Bagaimana kinerja para “legiun” asing? menurut saya tak berbeda jauh dengan wasit lokal, sama “irit” kartu, sama ada benar dan salahnya.

Lantas kenapa pemakaian jasa wasit asing seolah – olah menjadi solusi? ada beberapa kemungkinan :

1. Komisi Disiplin baik di PSSI atau PSSI – KPSI sama – sama mandul;
2. Anggapan kebanyakan orang yang menganggap hal – hal yang berbau asing lebih baik.

Padahal kembali soal wasit apakah mereka tidak diprotes dinegaranya masing – masing? saya yakin mereka sering mendapatkan protes. Jangan jauh – jauh deh, seorang legenda seperti Sir Alex Ferguson pun kerap mengkritik wasit jika timnya kalah.

Diberbagai liga diseluruh belahan dunia, mungkin menyalahkan wasit adalah yang paling mudah diucapkan tatkala tim kalah. Mungkin pula alasan paling cepat didapat kala harus menghadapi konferensi pers.

Kesalahan pengambilan keputusan memang kerap terjadi. Istilah wasit juga manusia memang tetap menjadi alasan yang paling logis. Sepersekian detik harus mengambil keputusan, bisa salah bisa benar. Mungkin jika memakai alasan manusiawi lainnya, wasit hanya punya mata dua seperti manusia umumnya (meski didukung dua asisten wasit).

Di taraf Internasional penerapan teknologi pembantu dengan menempatkan banyak kamera diareal lapangan untuk meminimalisir kesalahan pengambilan keputusan oleh wasit, toh nyatanya tak kunjung diwujudkan. Bagi saya mungkin ini untuk menjaga agar permainan sepakbola ini tetap “manusiawi”. Jika teknologi telah terlalu mendominasi, kadar manusia nya dikurangi mungkin tak akan semenarik sekarang.

Solusi kurang dihargainya wasit di Indonesia menurut saya adalah kembali penegakan hukum yang konsisten oleh komisi disiplin. Pun juga para wasit di Indonesia harus kembali “dipatenkan” pengetahuan dan mentalnya, jangan ketika didorong – dorong oleh pemain malah hanya diam.

Bukan hanya itu, sosialisasi law of the game kepada para pemain, pelatih dan perangkat klub juga harus dilaksanakan. Banyaknya protes menunjukkan pemahaman yang dangkal pun ditambah kadang para pemain kita “tidak jujur” meski memang salah.

Mungkin mesti diadakan semacam reward yang lebih besar dari sekedar tim paling sportif. Biasanya bangsa kita ini terpacu kalau sudah ada embel – embel hadiah. Lihat saja bahkan kebersihan lingkungan pun dilombakan padahal lomba tersebut tidak memberikan efek apa – apa bagi peningkatan kualitas kebersihan lingkungan.

Ancaman seperti rematch adalah kedangkalan. Lihat ketika Thierry Henry tertangkap kamera handball sebelum memberikan umpan yang menjadi gol pada partai melawan Irlandia di Play Off Piala Dunia 2010 tidak membuat partai tersebut diulang. Padahal Irlandia mengajukan protes pada dan sesudah pertandingan.

Bahkan didunia internasional pun, didunia bangsa “bule” yang selalu dianggap lebih hebat dari kita ( dianggap ) kesalahan – kesalahan manusiawi kerap terjadi dan badan – badan sepakbola internasional tidak menggubris kesalahan tersebut selama tidak ada indikasi jual beli pertandingan.

Sayangnya kita selalu menutup mata dan selalu nyaman untuk menyilaukan diri sendiri dengan anggapan bahwa mereka lebih hebat seakan mereka bukanlah manusia normal.

Solusi pemakaian wasit asing adalah solusi KACANGAN. Solusi Murahan. Inilah kelakuan pengurus sepakbola dinegeri kita yang tidak bisa menuntaskan masalah dengan baik.

Kekhawatiran saya bahwa inilah contoh kenapa bangsa kita susah maju, karena selalu merasa warga “kedua” didunia ini. Selalu menganggap asing lebih hebat, selalu lebih menghormati dan menghargai orang asing ketimbang saudaranya sendiri. Padahal kita dan para orang asing itu sama – sama manusia dan kita sederajat tidak kurang tidak lebih.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s