Catatan Sepakbola Sepekan : Unfair Spirit

Persepakbolaan Indonesia mengalami atmosfir yang ramai, seminggu kemarin. Dimulai dengan kegagalan Indonesia di Al-nakba Turnamen, Kedatangan Inter Milan, dan penutup pekan dengan ironi Bambang Pamungkas yang memilih untuk tidak fair play.

Kegagalan timnas besutan Nil Maizar memenuhi target PSSI yang memang tidak memasang target apa – apa di Palestina dikarenakan lawan – lawan yang turun katanya berat. Meskipun kebanyakan lawan menurunkan timnas junior.

Dibalik itu semua kisah bergabungnya Titus Bonai dan Okto Maniani ke timnas mengundang polemik. Titus kabur dari Persipura Jayapura sama halnya dengan Okto yang kabur dari Persiram Raja Ampat.

Bergabungnya duo papua ini, jika dilihat dari sudut pandang rekonsiliasi dan membela negara, sangatlah benar. Tetapi ada udang dibalik batu perihal bergabungnya mereka ke timnas. Isunya PSSI mendekati mereka secara personal dengan janji – janji manis materi jika mereka mau bergabung dengan timnas.

Tentunya dengan kabur pun mereka sudah menyalahi komitmen dengan klub. Parahnya lagi mereka kabur karena bujuk rayu PSSI. Secara langsung PSSI mengajarkan pemain untuk tidak disiplin dan tidak profesional.

Klub boleh menolak panggilan timnas karena turnamen Al-Nakba bukanlah agenda resmi FIFA. Dari pesertanya pun ada yang bukan anggota FIFA. Namun PSSI menyadari kekuatan timnas yang mengandalkan para pemain IPL, oleh karena itu mereka menggoda titus bonai dan okto agar mau bergabung.

Satu hal lagi, Passport Titus Bonai masih dipegang oleh Persipura, jadi bagaimana ia bisa bermain di Palestina, cuma PSSI yang tahu jawabnya.

Melangkah beberapa hari, Patrich Wanggai, dipanggil untuk membela timnas melawan Inter Milan. Kedatangan Wanggai, seperti yang diberitakan di televisi sangat begitu disambut. Meski Wanggai mengatakan bahwa Persidafon mengizinkan ia main lawan Inter Milan, tapi berita lain menyebutkan bahwa PSSI masih menggunakan pendekatan personal langsung kepada pemain tidak lewat klub.

Semangat rekonsiliasi dirusak sendiri oleh PSSI dengan cara yang tidak fair.

My Game is Fair Play. Sebuah artikel yang ditulis oleh Bambang Pamungkas tentang kelakuan pemain asing Arema, Buston Brown, yang tidak fair. Ironisnya Bambang Pamungkas mengingkari jiwa fair play ketika Persija menjamu Persib hari Minggu kemarin.

Proses gol pertama Persija diawali ketika Hariono, pemain Persib, membuang bola dengan sengaja dengan tujuan agar Zulkifli Syukur, yang terbaring di Area Persija bisa mendapat perawatan.

Bola dibuang kemudian wasit pun berlari ke arah Zulkifli. Ketika pertandingan dimulai kembali yang berarti throw in untuk Persija. Pemain Persija anehnya justru tidak melakukan sesuatu yang lazim biasanya dilakukan dalam mengeksekusi bola Fair Play.

Pemain Persija mengumpan kepada rekannya yang kemudian melambungkan bola ke kotak penalti Persib. Bambang Pamungkas, pemain Fair Play, ironisnya menanduk bola mengumpan kepada Ramdani Lestaluhu dan gol pun terjadi.

Gol itu SAH. Tidak ada yang mendebat keabsahan gol tersebut. Hanya saja semangat fair play dirusak dengan gol itu. Memang tidak ada aturan baku tentang bola fair play.

Hanya selazimnya biasanya bola fair play akan kembali dibuang atau diberikan cuma – cuma kepada lawan yang akan kembali membuang bola tersebut. Memang tidak ada aturan baku, namun ada semacam peraturan tidak tertulis tentang jiwa sportifitas dan nilai fair play yang mengikat semua unsur pertandingan.

Persija tidak melanggar law of the game, hanya menodai semangat fair play. Ironisnya sang pengkritik Buston Brown adalah salah satu aktor perusak jiwa fair play.

Coach Iwan Setiawan membela anak buahnya dengan alasan menggelikan dengan mengatakan bahwa Hariono membuang bola karena tertekan. Padahal Hariono membuang bola karena Zulkifli Syukur. Karena setelah membuang bola Hariono menunjuk ke arah Zulkifli Syukur terbaring. Wasit pun berlari ke arah Zulkifli Syukur.

Argumen yang mengatakan bahwa Zulkifli sudah bangkit ketika bola dibuang, tetap saja tidak membatalkan bola fairplay. Fairplay tetap berjalan karena Hariono yang menguasai bola dan kemudian membuang bola.

Dalam twitternya @bepe20, Bambang mengatakan akan segera menentukan sikap tentang gol tersebut. Entah apa yang akan dikatakannya, namun ia sudah jelas menyalahi fair play.

Jika ada yang berargumen lain, saya tegaskan Gol Ramdani Lestaluhu SAH hanya dihasilkan melalui cara tidak Fair.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

7 thoughts on “Catatan Sepakbola Sepekan : Unfair Spirit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s