Sepakbola Industri Masih Bayangan

Sepakbola industri. Apa yang akan terbayang dibenak kita jika mendengar kalimat ini? Bisa jadi sepakbola yang sudah menjadi alat promosi perusahaan – perusahaan, perusahaan – perusahaan berlomba menjadi penyandang dana klub, atau juga nilai kontrak pelatih dan pemain yang wah, bisa pula sepakbola yang memang menjanjikan keuntungan materi.

Mungkin kita bisa memahami jika kita lihat makna dari sport industry ( industri olahraga ) :

Sport industry is a market in which people, activities, business, and organizations involved in producing, facilitating, promoting, or organizing any activity, experience, or business enterprise focused on sports.

Industri olahraga adalah sebuah pangsa pasar dimana orang,kegiatan, bisnis, dan organisasi terlibat dalam kegiatan produksi, fasilitasi, promosi, pengaturan kegiatan – kegiatan, atau perusahaan bisnis, yang semuanya terfokus pada olahraga.

Paling bisa dipahami adalah pengertian yang saya ambil dari www.bellerophonproductions.com :

The sport industry is the market in which the
businesses and products offered to its buyers
are sport related and may be goods, services,
people, places, or ideas.

Industri olahraga adalah market dimana bisnis dan produk yang ditawarkan kepada para konsumen adalah produk yang berhubungan dengan olahraga bisa berupa barang, jasa, orang, tempat atau ide/gagasan.

Kemudian melangkahlah kita ke kondisi persepakbolaan Indonesia. Salah satu konsep sepakbola Industri yang ditawarkan oleh PSSI dulu maupun sekarang adalah sepakbola yang bisa menarik investor kedalam kompetisi baik untuk pendanaan kompetisi maupun klub.

Sudah sejauh mana konsep ini berhasil? ternyata masih diawang – awang. Masih hanya diatas kertas. Kondisi riil sekarang, sepakbola Indonesia masih kelimpungan untuk “berdamai” dengan kata “uang”.

Meskipun jika melihat ISL musim 2011/2012 yang cukup menjanjikan namun kabar klub yang ngos – ngosan soal pendanaan masih terdengar. Beberapa klub sudah aman dengan neraca mereka karena berhasil menggaet sponsor.

Persipura menggaet Bank Papua dan PT.Freeport, Persib Bandung didanai konsorsium pengusaha jawa barat plus Honda, Evalube, Permata Resource dan beberapa perusahaan lainnya. Persisam menggaet Elty, Sriwijaya menggaet Bank SumselBabel, Yamaha, Thamrin Brothers, dan PT.Bukit Asam.

Arema didanai Ijen Nirwana, Surabaya Post, Honda dan beberapa sponsor lain. Persiba didanai Bank Kaltim. Mitra Kukar didanai Petrona, Persiram didanai PT.Fourking, PSMS didanai Bakrie Plantation, Pelita Jaya didanai Esia dan Anker Sport, Persiwa didanai Bank Papua sama halnya seperti Persidafon Dafonsoro, Deltras oleh Kahuripan Nirwana.

Meski tanda baik industri mulai menggeliat namun isu tak sedap gajian telat masih ada. PSPS, Persija, Deltras, Sriwijaya FC, Pelita Jaya, Persela dan Arema adalah klub – klub yang masih menunggak gaji pemain.

Inilah kemudian yang melahirkan 5 sikap pernyataan APPI ( Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia ) yang salah satunya adalah penuntasan hak – hak pemain dengan tenggat waktu 7 Juni 2012. Jika tidak Presiden APPI, Ponaryo Astaman, mengatakan mogok main adalah salah satu jalan.

Kita lihat IPL, ternyata kondisinya lebih parah. Karena klub – klub IPL hampir semua didanai oleh konsorsium, dan dana konsorsium dikabarkan terus menipis, telat gajian pun terjadi hampir disemua klub. Bahkan pergolakan – pergolakan, suara – suara menagih janji konsorsium santer terdengar.

Bahkan di divisi utama yang dikelola PT.LPIS, PS.Bengkulu sudah menyatakan mundur dari kompetisi karena tidak ada dana. Persikota dikabarkan para pemainnya mogok, sehingga memaksa pelatih kiper dijadikan pemain.

Belum lagi, kompetisi IPL sama sekali tidak menjual jika dilihat dari jumlah penonton. Berbeda dengan ISL yang kini masih didanai Djarum. IPL masih kelimpungan mencari sponsor. Padahal orang – orang yang mengurus IPL adalah para pencetus LPI ( liga amatir yang pesertanya klub – klub bentukan baru seperti real mataram ) yang ketika bergulir selama setengah musim kabarnya bisa menggaet Microsoft dan Coca Cola. Lalu kemana dua perusahaan itu sekarang, ketika orang – orang itu sudah duduk resmi di PSSI? sangat menjadi pertanyaan.

Lantas apa yang salah? dualisme kompetisi bisa disalahkan. Dualisme organisasi juga bisa disalahkan. Namun jikapun hanya ada satu kompetisi dibawah PSSI, saya meragukan fenomena telat gajian akan hilang.

Saya berandai – andai, jika saja kompetisi tidak diobrak – abrik oleh PSSI sekarang, mungkin Djohar Arifin dkk tinggal sedikit lagi menggairahkan investor – investor. Pada jaman Nurdin Halid klub sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, dijauhkan dari APBD. Klub didorong untuk membuat diri mereka menjadi aset yang berharga bagi para calon investor.

Jika saja PSSI mau konsisten, tidak menghadirkan konsorsium maka rasanya sepakbola industri di Indonesia bisa terwujud.

Penonton sepakbola Indonesia terutama LSI tak pernah surut, acara – acara televisi yang mengupas sepakbola ada, pemain – pemain pun beberapa diantaranya layak dijadikan brand image satu produk.

Hanya sayang tahapan – tahapan yang telah dibuat PSSI yang lalu dibongkar ketika Djohar Arifin berkuasa. Rasa dendam yang merusak segalanya.

Niatan PSSI dengan konsorsium adalah katanya untuk mengajarkan klub lebih profesional. Hanya saja kata profesional bagi PSSI bermakna lepas dari APBD diganti oleh konsorsium yang ternyata membuat klub masih ketergantungan pada satu sumber dana.

Sebuah pemandangan ironis tersaji ketika IPL yang diakui PSSI miskin sponsor, tetapi ISL yang “diharamkan” oleh PSSI mengundang banyak sponsor. Meskipun kedua kompetisi itu dihiasi kabar telat gajian

Patutlah PSSI menginstropeksi diri karena langkah – langkah mereka adalah jaminan hidup klub, pelatih, pemain, dan unsur – unsur lainnya yang hidup dari sepakbola.

Sepakbola Industri masih bayangan selama PSSI sendiri belum bisa membuat sepakbola menjadi aset yang patut dimiliki oleh industri.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s