Jerman, Pantas Ditiru!! ( Time For The Young )

Jerman, salah satu semifinalis Euro 2012 ini, merupakan salah satu negara yang bisa dibilang sukses menerapkan regenerasi. Pasukan Joachim Loew ini bisa dibilang merupakan pasukan termuda dipentas Euro 2012. Rata – rata usia pemain mereka 21 – 27 tahun. Hanya ada dua pemain senior dengan usia kepala tiga yaitu Miroslav Klose dan Tim Wiese.

Meskipun bisa dibilang pemain – pemain hijau, namun penampilan mereka betul – betul menyengat. Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Jerman mengusung permainan atraktif seperti saat ini walau hanya sampai juara ketiga, sama seperti raihan pada piala dunia 2006. Euro 2008 mereka menjadi Runner up.

Piala Dunia 2006 boleh jadi merupakan salah satu tonggak perubahan bagi Jerman. Die Mannschaft meninggalkan julukan tim diesel, karena telat “panas” dalam satu pertandingan, menjadi tim yang mengusung sepakbola menyerang. Tak aneh karena Jurgen Klinnsman, eks striker, yang menjadi pelatih kala itu. Pun peremajaan skuad Uber Alles terjadi pada saat itu.

Fenomena anak – anak muda yang menjadi andalan bisa jadi merupakan sebuah keberhasilan pembinaan sepakbola Jerman. Kebanyakan dari mereka yang dipanggil pada Euro 2012 ini merupakan pemain yang bermain di Bundesliga. Hanya Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Miroslav Klose yang bermain diluar Jerman.

Saya rasa salah satu kata kunci Jerman yang dipenuhi anak – anak muda ini adalah kepercayaan. Memberikan kepercayaan kepada anak – anak muda untuk manggung di Bundesliga yang ketat, bersaing dengan pemain – pemain impor, membuat Jerman seakan menekan tombol refresh bagi sepakbola mereka.

Refresh bagi sebuah kekuatan baru, refresh bagi sebuah gaya bermain baru, refresh bagi sebuah kejayaan baru.

Berapa banyak pesepakbola muda yang disebut – sebut menjadi berbakat, pada akhirnya hanya menjadi penghangat bangku cadangan. Berapa banyak pemain muda yang hanya menjadi “aset” klub mereka untuk dipinjamkan dan dijual. Satu ironi adalah mereka dipinjamkan ke klub lain untuk berkembang tetapi ketika mereka kembali ke klub asal belum tentu mereka menjadi salah satu dari starting eleven.

Memang hukum dalam sepakbola adalah seleksi alam. Kuat, berbakat, mampu mengatasi tekanan, terus berkembang, dialah yang menang. Tapi mesti diingat pula gejala sepakbola menjadi sebuah komoditi bisnis semata ikut membunuh kesempatan pemain muda untuk mekar.

Skuad Indonesia di Piala AFF 2010 lalu ( penampilan timnas senior terakhir sebelum dualisme kompetisi ) memang dipenuhi oleh pemain muda. Rataan usia dari 20 – 29 tahun. Paling tua adalah Cristian Gonzalez ( 34 tahun ) dan Bambang Pamungkas ( 30 tahun ).

Timnas yang kala itu dibesut oleh Alfred Riedl memunculkan nama – nama baru seperti Irfan Bachdim, Ahmad Bustomi, Yongki Ariwibowo dan Benny Wahyudi.

Anak – anak muda itu mampu “mempertanggung jawabkan” apa yang diembankan kepada mereka. Mereka terpilih setelah penampilan baik di Liga Super Indonesia. Meskipun, seperti Jerman, permainan atraktif timnas hanya membawa ke raihan juara ke – 2, namun optimisme regenerasi timnas muncul, tentunya sebelum munculnya dualisme kompetisi.

Optimisme itu muncul karena iklim sepakbola Indonesia sendiri kurang mendukung kepada pengembangan pemain muda. LSI U-21 baru dijalankan dari musim 2009/2010, itupun sampai saat ini masih terlihat gejala tim dibentuk dadakan dan kompetisi itu sendiri yang tidak mempunyai persaingan yang ketat. Dengan dibagi menjadi beberapa grup, praktis satu tim hanya bertanding beberapa kali saja dalam satu musim.

Jika dilihat pada peluang pemain muda untuk tampil diskuad senior klub masing – masing juga sangat kecil. Meski sampai detik ini, klub – klub sepakbola Indonesia kebanyakan masih “sekarat” soal dana baik yang berkompetisi di LSI maupun LPI, tapi anehnya mereka tetap memboyong pemain – pemain asing yang tentunya beberapa diantara mereka gajinya lebih besar dari pemain lokal.

Klub sekarat pun masih berani untuk mengontrak pemain asing, yang sering kualitasnya tidak sesuai harapan.

Pemain asing ini seperti sebuah “kewajiban” bagi setiap klub. Tak jarang meskipun jelek, para pelatih tetap memainkan mereka. Mungkin juga karena tekanan dari manajer masing – masing klub untuk memainkan mereka dengan alasan “buat apa dibayar mahal – mahal kalau tidak dimainkan”.

Klub – klub menutup mata terhadap tenaga segar, muda, berbakat yang sebetulnya dimiliki oleh mereka. Alhasil hanya sedikit pemain muda yang naik ke permukaan dan mengapung lama.

Padahal contoh regenerasi yang sangat baik juga ada di Indonesia. Arema pada musim 2009/2010 menjadi juara dengan mayoritas anak – anak muda.

Rasanya klub – klub sepakbola Indonesia mesti berkaca kepada keberanian klub – klub Papua. Karena tiap tahun ada saja bakat – bakat baru muncul dari sana. Musim lalu Patrich Wanggai dan Titus Bonai. Musim ini ada Yohanes Ferdinand Pahabol.

Satu kata kunci lagi yaitu keberanian. Mayoritas klub Indonesia tidak percaya dan tidak berani memasang anak muda. Sering saya melihat, membaca keluh kesah rekan – rekan bobotoh dalam Forum Diskusi Persib tentang bagaimana para pemain muda kurang diberikan kesempatan, padahal mereka punya kualitas. Justru para Maung Ngora itu pindah ke klub lain dan menjadi andalan diklub lain. Ironis.

Hal ini bukan hanya terjadi di Persib tapi mayoritas klub Indonesia. Para pemilik klub sekali lagi lebih senang mendatangkan pemain asing meski keadaan finansial sekarat.

Indonesia butuh kepercayaan dan keberanian untuk para pemain muda. Alasan klasik bahwa suatu saat mereka akan ada waktunya memang benar. Tapi jika tidak mereka diberikan kesempatan untuk belajar dalam kompetisi sesungguhnya sejak dini, mungkin saja pada waktunya mereka adalah bunga yang layu sebelum berkembang.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Jerman, Pantas Ditiru!! ( Time For The Young )”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s