Salam 0 – 6

Ditangan PSSI yang dipimpin Djohar Arifin, Indonesia mulai kehilangan taringnya sebagai salah satu kesebelasan yang cukup diperhitungkan. Memang seperti pada level U-22 yang tempo hari bertanding dalam kualifikasi Piala Asia U-22 Riau, Indonesia masih bisa menunjukkan permainan apik. Tapi sejatinya kini Indonesia semakin kehilangan kekuatan.

Dalih bahwa timnas diperkuat hanya pemain yang berkompetisi di LPI memang mereduksi kekuatan timnas diberbagai level. Pada era kepemimpinan Djohar yang baru genap setahun timnas sudah tiga kali tercoreng.

Pertama ketika Indonesia dikalahkan Brunei difinal Hassanal Bolkiah Trophy. Kedua timnas ditahan imbang oleh Filipina ketika bertandang kesana. Dua negara ini adalah sejatinya lawan yang mudah ditaklukkan Indonesia, tapi itu dulu.

Ketiga, dan ini dosa terbesar PSSI, adalah ketika timnas pulang dari Bahrain membawa oleh – oleh dibobol 10 gol tanpa balas. Skor 10 – 0 bukan hanya mengguncang nalar pendukung sepakbola Indonesia, bahkan FIFA turun menginvestigasi seandainya ada permainan skor. Karena menurut catatan sejarah Indonesia bila ditaklukkan oleh Bahrain hanya selisih 2 gol saja. Itupun masih bisa Indonesia mencatatkan diri dipapan skor minimal 1 gol.

Semalam dalam partai yang bertajuk latih tanding melawan Malaysia XI, Indonesia U – 23 dicukur 6 – 0. Gila!!! baru kali ini rasanya negeri jiran itu membantai Indonesia.

Alasan pelatih timnas U-23, Aji Santoso, sangatlah menggelikan, dia beralasan kekalahan ini karena pemain sedang berpuasa. Padahal pertandingan dilakukan malam hari, pemain Malaysia pun sama – sama menjalankan puasa. Timnas U-23 ini adalah yang dipersiapkan di Java Cup. Beruntung turnamen ini batal karena mundurnya Everton dan Galatasaray, jika tidak rasanya dua klub eropa ini akan menggilas Indonesia dengan skor lebih telak. Indonesia selamat dari malu dengan batalnya Java Cup.

Timnas U-23 ini pula yang berlaga di Riau tempo hari. Libur 10 hari juga dijadikan alasan oleh Aji Santoso.

Namun dibalik semua kekalahan ini, dibalik turunnya peringkat indonesia di FIFA ( kini kalah dari Filipina ) mestilah disadari bahwa persatuan sepakbola harus segera terjadi. Kedua belah pihak yang kini digabungkan AFC di Joint Comittee mesti menekan ego masing, mesti membuka kesadaran diri, mesti paham apa kesalahan masing – masing, dan mesti menyadari bahwa Bangsa Indonesia ini tidak bisa dipermalukan terus menerus.

Segala kemestian diatas terutama paling melekat pada PSSI, karena merekalah pemicu permasalahan dan merekalah yang membuat Indonesia seperti ini.

Salam 0 – 6

sumber : www.tribunnews.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s