Nii Lamptey ( Bintang yang gagal bersinar )

Saya sebenarnya tidak pernah mengenal sosok pemain yang satu ini terlebih lagi dia bukan pemain Indonesia. Saya pun belum pernah melihatnya bermain sekali pun, meski ia sempat diberikan label “bintang baru” pada Piala Dunia U-17 1991 Italia. Bahkan saat itu bintang asal Ghana ini mengalahkan nama Juan Sebastian Veron ( Argentina – Lazio, Manchester United ) dan Alessandro Del Piero ( Juventus – Italia ) sebagai pemain terbaik di Piala Dunia tersebut.

Dia adalah Nii Lamptey. Pria kelahiran Ghana 10 Desember 1974. Tumbuh dengan berbagai kisah sedih sejak kecil, Lamptey menemukan sinarnya dalam sepakbola. Bahkan seorang Pele sendiri, menyebut pemuda yang mengawali karir remaja di Young Corners adalah “The Next Pele”.

Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar namanya dalam sebuah acara sepakbola dilayar kaca sebagai kisah tragis pemain muda berbakat. Dari situlah saya tertarik untuk mengetahui pemain ini lebih jauh.

Lamptey memang sangat bersinar ketika ia muda. Selain meraih penghargaan sebagai pemain terbaik pada Piala Dunia U-17 1991, pada tahun 1993 dia memimping “black satellites” julukan Ghana U-20 menjadi juara pada Piala Afrika U-23 tahun 1993. Pada tahun yang sama Nii Lamptey memimpin black satellites sebagai runner up pada Piala Dunia U-20 Australia.

Setahun sebelumnya, pada olimpiade Spanyol 1992, Lamptey tergabung dalam skuad muda Ghana saat meraih medali perunggu.

Pada gelaran Piala Dunia U-17 1991, The New York Times memberinya julukan “The Boy Who Would Be Soccer’s King”. Dia mencetak gol pertama bagi Ghana di level senior pada usia 16 tahun. Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang anak muda yang melalui masa kecilnya dengan penuh penderitaan.

Karirnya di Eropa bermula saat ia tampil di Liga Belgia bersama R.S.C Anderlecht. Ia menandatangani kontrak saat berusia 15 tahun. Bahkan batasan umur di Liga Belgia dirubah ketika Lamptey dikontrak Anderlecht menjadi 16 tahun. Lamptey menjalani debutnya sendiri pada usia 16 tahun di Liga Belgia dan merupakan pemain termuda Liga Belgia. Bermain dari tahun 1990 – 1993, Nii Lamptey mencatat 30 penampilan dan 9 gol.

PSV Eindhoven tergiur untuk memboyongnya pada tahun 1993. Ia pun terbang ke Belanda dan bergabung dengan PSV. Selama semusim disana Nii mencatatkan 22 penampilan dan 10 gol.

Hanya setelah itu, karirnya terjun bebas ke titik nadir. Ironisnya bukan karena penurunan permainan, meskipun cedera sempat dialami, tetapi justru karena Nii Lamptey ditangani oleh agen pemain yang salah.

Agen pemain asal Italia, Antonio Caliendo, disebut sebagai agen pemain yang rakus yang hanya mengeruk keuntungan dari kegemilangan seorang Nii Lamptey. Diceritakan Antonio mencoba mencari klub yang berani membeli Lamptey dengan harga tinggi dengan harapan mendapatkan 25 % dari nilai transfer.

Kerakusan agen ini “terdukung” oleh ketidaktahuan, ketidakmengertian Lamptey memahami isi kontrak. Lamptey mengakui pendidikannya yang tidak mendukung saat kecil ikut menciptakan kondisi ini.

Hanya semusim di PSV dia dibeli oleh Aston Villa yang justru lebih “kecil” dari PSV. Hanya saja cedera, naik turunnya permainan, dan dipecatnya manajer Ron Atkinson membuat karirnya di Inggris muram meski pada awalnya ia menunjukkan awal yang bagus. Ia hanya mencetak 3 gol di ajang piala liga.

Lamptey mengikuti Ron Atkinson ke Coventry City. Disini terbukti ia belum bisa beradaptasi untuk bermain di level seketat Liga Inggris. Hanya mencetak 6 penampilan dan 2 gol dan juga karena Ron Atkinson dipecat Coventry, ia dicap gagal. Lamptey pindah ke Venezia musim 1995-1996.

Tahun 1996 pun Lamptey dengan tragis mengakhiri karir timnasnya saat diusir keluar pada pertandingan semifinal Piala Afrika 1996 saat Ghana melawan Afrika Selatan.

Di Italia ia pun gagal, petualangannya berlanjut ke Argentina saat bergabung dengan Union Santa Fe pada tahun 1997. Argentina menjadi tempat kesedihannya yang baru. Ia kehilangan seorang anaknya karena penyakit langka. Ia pun tak bisa memakamkan anaknya di Ghana karena ditolak pihak berwenang.

Lamptey menyalahkan ilmu hitam atas kepergian anaknya. Lamptey percaya pernikahannya dengan wanita yang dianggap “beda suku” membuat ia dan keluarganya diguna – guna.

Rasa kehilangan membuatnya pergi dari Argentina ke Turki untuk bergabung bersama Ankaragucu ( 10 penampilan 1 gol musim 1997/1998 ) dan Uniao Leiria ( musim 1998/1999 7 penampilan ).

Lamptey mendapatkan Agen baru yang mengirimkan ia bermain di Greuther Fürth ( 1999-2001) yang berkompetisi di Bundesliga 2. Perbedaan kebudayaan dan rasisme membuat ia dan keluarganya ingin segera pergi dari Jerman. Di Jerman pula ia merasakan kesedihan kembali saat anaknya meninggal pada proses persalinan.

Stress dan frustasi, ia terbang ke Cina dan bermain untuk Shandong Luneng Thai Shan di Liga China pada tahun 2001-2002. Disinilah akhirnya ia merasakan kenikmatan bermain kembali. Diberitakan permainannya kembali bersinar. Disini pula Lamptey merasakan menjadi bintang karena ia begitu dicintai fans.

Hanya setahun ia kemudian pindah ke Al-Nassr Arab Saudi. Musim 2005-2006 ia akhirnya pulang kampung ke Ghana bergabung bersama Asante Ekoko. Ia menyebutkan kepulangannya juga untuk bisa mengurus sekolah yang ia dirikan untuk anak – anak. Sekolah ini pula menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh Lamptey. Pada tahun 2008 sekolah ini menampung 400 siswa.

Hanya setahun bermain di Ghana, akhirnya Nii Lamptey mengakhiri petualangan sepakbolanya yang penuh tragedi di klub Jomo Cosmos Afrika Selatan. Situs Wikipedia mencatat Lamptey bergabung dari 2006 – 2008 di Jomo Cosmos.

Selanjutnya Nii memilih untuk menjadi peternak sapi sebelum pada tahun 2009 ia menjadi asisten pelatih di klub Ghana Sekondi Wise Fighters.

Nii Lamptey kini lebih dikenal sebagai bahasa para awak media untuk menyebut seorang pemain muda yang asalnya bersinar namun akhirnya tidak mengalami karir cemerlang.

Ia dikenal sebagai pemain muda yang “salah asuhan” tidak mendapat bimbingan yang baik terutama dari sisi mental dan pengetahuan. 15 tahun berkarir di Eropa, Argentina dan Asia, lebih banyak diwarnai dengan kegagalan.

Para pengamat pun menyoroti banyaknya perjalanan bolak balik Ghana – Eropa untuk memenuhi panggilan timnas, sebagai penyebab ia tidak bersinar dilevel klub.

Tapi Nii Lamptey sendiri menggambarkan perjalanan karirnya sebagai perjuangan dan ia sebagai pejuang gigih yang tak mau dikalahkan situasi.

Disisi lain, perjuangan dan jatuh bangunnya karir pemain Ghana ini menjadi pelajaran bagi semua pihak akan pentingnya membimbing mental dan pastinya membekali pemain muda pendidikan yang cukup, karena mereka tidak hanya akan hidup dari sepakbola dan sepakbola bukan hanya urusan 11 vs 11 dilapangan hijau.

sumber : www.pitchinvasion.net

www.wikipedia.org

www.bbc.co.uk

www.dailymail.co.uk

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s