Catatan menjelang sahur : Awal baik atau sama saja?

Dualisme dalam organisasi yang membuahkan dualisme kompetisi ternyata juga membuahkan dualisme lainnya. Tim nasional Indonesia kini dalam kondisi prihatin. Kekalahan demi kekalahan menurunkan peringkat Indonesia di peringkat FIFA. Lebih dari itu timnas kehilangan gairah dukungan dari penonton.

 

PSSI yang berkeras hanya membentuk timnas dari pemain – pemain yang berkompetisi di LPI nyatanya harus menerima kenyataan bahwa mereka gagal. Kekalahan 0-10 dari Bahrain yang berujung pada investigasi, kekalahan 0-6 dari Malaysia XI yang berujung pada alasan menggelikan.

 

Kondisi hancur – hancuran ini dihadapi persepakbolaan kita menjelang digelarnya Piala AFF 2012. PSSI pun masih angin – anginan untuk mempersiapkan timnas. Datangnya klub – klub eropa ternyata hanya jadi ajang bisnis saja karena yang tampil pun selalu dilabeli selection padahal inilah kesempatan yang bisa digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi AFF 2012 agar tidak menanggung malu nantinya.

 

Memang biasanya tim yang ditandingkan melawan klub – klub eropa merupakan hasil permintaan penyelenggara. Kenapa muncul nama – nama lawas semisal Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto, karena mungkin saja pihak penyelenggara melihat animo masyarakat menurun untuk menonton timnas tidak seperti pada gelaran AFF 2010.

 

Lantas siapa yang mesti dipersalahkan atas turunnya dukungan ? PSSI. Telunjuk saya tak akan mengarah kemana – mana. Karena diawali dengan nafsu Arifin Panigoro untuk menduduki PSSI-1 kemudian melahirkan kompetisi amatir bernama LPI ( beda singkatan ), dualisme ini seakan tak akan pernah menemui kata selesai. Meskipun AFC telah memberi jalan dengan membentuk kesepahaman antara PSSI dan KPSI, lalu pembentukan Joint Comittee tetapi ini masih jauh dari kata damai.

 

Menjelang pertandingan Indonesia selection melawan Valencia malam nanti beberapa pemain dari LSI ikut bergabung dengan tim Nil Maizar semisal Bambang Pamungkas dan Ponaryo Astaman. Khusus bagi Bambang Pamungkas ikut bergabung ke dalam tim mengingkari pernyataan sebelumnya yang tak akan membela timnas selama semua ini belum selesai. Apalagi Persija dikloning PSSI.

 

Bergabungnya pemain – pemain LSI ini dibarengi kabar tak sedap. Diantaranya Sriwijaya FC akan memberikan sanksi kepada pemainnya yang ikut bergabung karena tidak ada izin manajemen.

Dilematis. Para pemain LSI yang ikut bergabung menurut kabar diawali dari rapat Asosiasi Pemain Profesional Indonesia ( APPI ) yang memutuskan bergabung dengan alasan langkah ini mudah – mudahan bisa sebagai langkah menuju persatuan.

 

Satu alasan yang sangat mulia yang semestinya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Meskipun disatu sisi mereka melanggar profesionalitas karena tidak mengindahkan instruksi klub karena mereka masih terikat kontrak meskipun kompetisi telah usai.

 

Ah jadi ingat pula, PSSI kerap membuat seorang pemain dikompetisi LSI bertindak tidak profesional dengan “kabur” dari klub. Titus Bonai akhirnya harus menemui kenyataan pahit, karena kontrak dengan BEC Tero Sasana terganjal surat keluar yang tertahan di Persipura. Titus Bonai kabur dari Persipura termakan buaian PSSI. Kini PSSI sendiri yang menghujatnya karena urusan surat keluar. Nyatanya Titus Bonai memakai surat keluar dari Persebaya 1027 meskipun ia bukanlah pemain tim Bajul Ijo. Kini ketika Titus Bonai butuh bantuan malah seakan dia dihujat oleh PSSI karena masalah administrasi yang tak lengkap.

 

Kembali ke soal APPI, langkah mereka ini mulia jika memang ingin membela timnas mengharumkan nama bangsa. Namun masih saja PSSI yang butuh para pemain dari LSI berlaku tidak wajar. Kabarnya Arema hanya dikirim surat pemanggilan tanpa ada tercantum nama pemain yang dipanggil, tapi tahu – tahu Kurnia Meiga sudah bergabung di Indonesia Selection.

Para pemain LSI yang kini bergabung di Indonesia Selection pun seakan lupa bahwa mereka pernah dicap oleh ketua PSSI, Djohar Arifin dan pengikutnya dengan tuduhan MAFIA. Kekalahan pada leg 1 final AFF 2010 diisukan oleh para Jenggala sebagai pertandingan yang sudah diatur. Sesaat sebelum melawan Bahrain cap MAFIA diberikan kepada para pemain timnas dari LSI.

 

Lantas apakah bergabungnya para pemain timnas dari LSI ini akan menjadi awal yang baik? mudah – mudahan saja meskipun dari sisi profesionalitas tidak profesional. Mudah – mudahan pula setelah ini tidak ada lagi kasus pemain kabur yang katanya demi timnas.

 

Semoga pula PSSI tidak semakin menambah kejahilan mereka dan menerapkan arti kata profesional dengan baik. Toh faktanya mereka butuh pemain – pemain dari kedua kompetisi, dari LPI saja sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan timnas. Ini juga menjadi harusnya menjadi pemikiran PSSI atas prestasi timnas ditangan mereka yang semakin tidak jelas. Menjelang AFF 2012 apakah PSSI bisa menghadirkan kembali gairah yang hilang??

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s