Adu Penalti : “One does not remember the winners. One remains haunted by the losers.*

“Penalties put too much strain on one player.
It could ruin his career if he’s not a strong character.” (Terry Venables – Eks. Pelatih Inggris )

Kutipan diatas datang dari seorang pelatih kawakan di Eropa, Terry Venables, yang pernah merasakan pahitnya kalah melalui adu penalti saat Inggris tersingkir di tangan Jerman pada semifinal Euro 1996. Parahnya lagi Inggris merupakan tuan rumah.

Keberuntungan Inggris dalam adu penalti memang jelek. Inggris kalah adu penalti pada Piala Dunia 1990 dari Jerman Barat. Lalu kalah dari Argentina pada Piala Dunia 1998. Pada Euro 2004 Portugal menghempaskan Inggris pada babak tos – tosan. Terakhir pada Euro 2012 tendangan penalti ala Panenka dari Andrea Pirlo yang akhirnya memutarbalikkan nasib Inggris, meski saat itu Inggris diatas angin pada babak adu penalti.

Bahkan nasib Inggris pun masih jelek, meski beberapa pemain Wales sudah tergabung dalam skuad Great Britain ( GB ) Olimpiade 2012. Ironisnya penendang terakhir yang gagal dari tim GB adalah orang Inggris yaitu Daniel Sturridge. Tendangan lemah dan ragu Sturridge bisa ditahan dengan sempurna oleh kiper Korea Selatan.

Jack Pitt-Brooke disitus http://www.independent.co.uk mengatakan bahwa kekalahan Inggris dibabak adu penalti dikarenakan Inggris hanya punya sedikit penendang bagus. Disisi lain Kiper inggris pun kurang mempunyai refleks yang baik dan mudah diperdayai penendang lawan.

Inggris disebutkan memang mempunyai mental yang buruk ketika harus berada dibabak tos – tosan.

Nasib Inggris tidak berbeda jauh dengan Indonesia soal tos – tosan. Pada final Sea Games 2011, Indonesia U-23 yang tampil luar biasa sejak dari penyisihan grup harus menerima kenyataan pahit kalah dari Malaysia. Gunawan Dwi Cahyo dan Ferdinand Sinaga gagal menceploskan bola ke gawang Malaysia dalam adu penalti.

14 tahun lalu pada ajang yang sama, Indonesia yang kala itu dibesut pelatih Inggris, Peter Withe, hanya memperoleh perak setelah kalah dibabak adu penalti saat Rony Wabia dan Uston Nawawi gagal menjaringkan bola ke gawang Thailand yang dikawal Worachapong Somchit.

Pada tahun 2002, Indonesia kembali mengecap pahit nasib adu penalti saat kalah dari Thailand di final AFF Cup 2002. Bek Persidafon, Sugiantoro yang saat itu masih merupakan bek nomor wahid di Indonesia, merupakan salah satu penendang yang gagal.

Di kurun tahun 1990 – 2000an, saya mencatat hanya ada 2 momen ketika Indonesia menang lewat adu penalti. Pertama saat meraih medali emas di Sea Games 1991 Manila. Kala itu Indonesia mengalahkan Thailand dengan skor 4-3. Bahkan terasa sangat spesial karena babak semifinal pun Indonesia lalui dengan menang penalti atas Singapura.

Momen yang kedua adalah saat perebutan juara ketiga Tiger Cup ( AFF Cup ) 1998 yang heboh dengan gol bunuh diri Mursyid Effendi. Indonesia menang atas Thailand dibabak adu penalti setelah skor 3 – 3 bertahan diwaktu normal.

Adu penalti seakan menjadi hantu yang masih menakutkan bagi para pemain Indonesia. Tidak ada jaminan bahwa seorang striker atau playmaker yang punya ketajaman akan mampu mengoyak gawang kiper lawan ketika harus berhadapan langsung dibabak adu penalti. Ferdinand Sinaga dan Uston Nawawi membuktikan betapa babak ini bisa menghadirkan kisah pahit.

Seorang pemain kelas dunia pun seperti Roberto Baggio dihantui bayangan kegagalannya saat gagal membuat gol ke gawang Claudio Taffarel di final Piala Dunia 1994.

Adu penalti ini sebut sebagai sesuatu yang tidak adil oleh beberapa pelaku sepakbola. Karena seperti yang dikatakan eks Kiper Brazil Claudio Taffarel yang terbaik belum tentu jadi pemenang dibabak penentuan ini setelah pertandingan selama 120 menit.

Adu Penalti menurut eks penjaga gawang Jerman, Andreas Koepke, bukanlah sesuatu yang bisa dilatih. Latihan adu penalti tidak menolong seorang pemain saat harus berada dikondisi nyata.

Tekanan mental begitu besar pada babak ini. Karena kegagalan seseorang akan mempengaruhi 4 kawannya yang lain yang bertugas jadi algojo penalti.

Pada babak adu penalti ini, seorang pemain harus selalu dituntut untuk sukses menjebol gawang lawan. Hanya 1 kesempatan yang diberikan dan tidak boleh disia – siakan.

Disisi penjaga gawang bukanlah hal mudah untuk menebak arah bola dari jarak begitu dekat. Ketika seorang penjaga gawang bisa menahan penalti maka hanya ada 2 kemungkinan. Pertama dia bergerak ke arah yang benar dan cepat. Kedua penendang gugup dan bola tendangannya lemah.

Babak adu penalti merupakan babak yang penuh trik. Seorang penjaga gawang akan mencoba menerka kemana arah bola dari gesture penendang. Pandangan mata, posisi berdiri, dengan kaki mana dia akan menendang, arah lari menuju bola, akan menjadi pertimbangan bagi seorang penjaga gawang untuk sepersekian detik mengambil keputusan kemana ia akan melompat.

Sekalipun begitu, seorang penendang yang terpilih masih bisa mempermainkan trik dengan memberikan gesture yang berbeda.

Saya ingat, karena posisi saya penjaga gawang, seseorang pernah menasehati saya agar melihat mata si penendang. Karena dia akan menunjukkan arah lewat pandangan matanya. Sekalipun begitu ternyata hal itu tidak jaminan. Seorang penendang pernah memberikan saya arah kekiri ketika bola ia tendang ke kanan. Beruntung bola melebar.

Faktor beruntung memang sangat dibutuhkan dibabak ini. Peter Shilton eks penjaga gawang Inggris mengatakan tidak ada yang lebih dibutuhkan selain keberuntungan.

Saya sering melihat bahwa kegagalan atau keberhasilan seseorang bisa dilihat dari cara ia berjalan dari tengah lapang menuju kotak penalti. Dari sorot matanya bisa terlihat apakah ia ragu atau tidak. Jika ragu maka bisa jadi alamat kegagalan.

Sama halnya seperti Inggris, Indonesia masih harus belajar banyak soal adu penalti ini. Terutama yang harus dibenahi adalah dari segi mental dan menangani tekanan. Biarlah keberuntungan menjadi faktor kesekian dalam babak adu penalti.

Mungkin perkataan Jack Pitt-Brooke layak dijadikan acuan bahwa ia menilai kiper dan penendang Inggris kurang imajinatif saat menjadi algojo.

Imajinasi seorang pemain untuk mengambil arah tendangan dan gaya menendang bisa dilatih, demikian halnya dengan kiper yang berlatih menahan tendangan penalti.

Tapi tetap saja, mental pemain harus kuat. Bagaimana ia harus mampu menjadi mata rantai yang kokoh dari 5 orang penendang. Satu gagal maka peluang untuk menang habis.

Pola tendangan penalti seorang pemain pun bisa dipelajari karena ia cenderung mengulang – ulang pola yang sama. Andrea Pirlo beberapa kali melakukan tendangan ala Panenka. Dia sendiri pernah gagal ketika kiper Barcelona, Jose Pinto, hanya berdiri saja ditengah gawang dan menunggu bola datang.

Adu penalti bahkan seorang pemenang pun bisa jadi pecundang.

* A.S. Byatt
Writing in The Observer

sumber : wikipedia.org
www.theadgalternative.com

www.independent.co.uk

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s