It’s always easy to find scape goat

Selalu lebih mudah untuk menyalahkan suatu hal ketika terdesak. Selalu lebih mudah untuk mencari kambing hitam daripada melihat kedalam diri kita, apa yang salah dalam pemikiran, perilaku kita.

Paragraf pembuka diatas lebih kurang adalah sebuah tanggapan atas sebuah situasi yang saya cermati pada sekelompok orang. Saya melihat bagaimana pola pikir yang sudah terbentuk menjadi sebuah keyakinan mudah membelokkan arah kesadaran diri.

Ambillah contoh Dua insan berpadu dalam sebuah ikatan. Waktu berjalan ternyata salah satu pihak merasakan ketidaknyamanan berada dalam ikatan tersebut. Pihak tersebut bisa dibilang tersesat. Karena sesungguhnya ia tak tahu untuk apa berada dalam ikatan tersebut dan atas alasan apa ia mengikatkan diri. Alasan melaksanakan sesuatu yang sakral ternyata baru hanya bisa sebatas bibir saja, sebab ia sendiri tak pernah bisa menikmati hari demi hari dan tak bisa memahami posisinya dalam “perjanjian suci” tersebut.

Mulailah ia bersikap sensitif,mengisolasi diri sendiri tanpa pernah menjelaskan kenapa. Tentunya sikapnya ini membuat pusing salah satu pihak karena mereka menghabiskan waktu bersama. Pihak yang satu ikhlas menikmati hari, sedangkan pihak yang satu merasa terpaksa menjalani waktu kebersamaan.

Disinilah ia mulai mencari alasan kenapa dia mengisolasi diri, kenapa ia merasa sangat tertekan. Selalu lebih mudah mencari kambing hitam dan pola pikir yang telah menjadi keyakinan gampang membelokkan kesadaran. Pihak yang merasa tertekan merasa bahwa ada sebuah kekuatan mistis yang membuatnya menderita. Ada sebuah kekuatan irrasional, diluar nalar yang menghalanginya merasakan indahnya waktu.

Tak aneh karena ia begitu mempercayai hal mistis. Padahal sesungguhnya tertekannya mental dan perasaan yang membuatnya seperti itu. Sesatnya arah karena alasan yang tak kuat dan gagal memahami posisi dirinya yang baru yang membuat ia tersiksa.

Inilah salah satu contoh kalimat selalu lebih mudah mencari kambing hitam dan pola pikir yang menjadi keyakinan bisa menuntun kepada arah yang salah.

Semestinya apapun yang terjadi kita harus bisa melihat kedalam diri kita sendiri sebelum cepat – cepat melemparkan kesalahan.

Dalam sebuah perjalanan yang telah direncanakan dengan baik bisa jadi berujung kegagalan. Pada setiap kegagalan ada saat dimana kita melihat kembali perjalanan itu dari mulai direncanakan, berangkat dari garis start dan tiba digaris finish. Segala sesuatu yang salah atau melenceng dari rencana dalam proses perjalanan hendaknya kita pikirkan dan kaji kembali. Bukankah kita selalu mendapat petuah pada setiap sesuatu pasti ada hikmahnya. Hikmah dari kegagalan adalah kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik. Untuk bisa menjadi lebih baik kita mesti bisa menerima kegagalan dan mengkaji kegagalan itu.

Bukankah pula dalam setiap kegagalan ada kesempatan untuk mengulang kembali atau menetapkan suatu tujuan yang baru. Lihatlah kedalam diri sebelum berkata dan bertindak.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s