What Makes A Beauty?

Dalam hemat saya, itu anggapan lama. Saya berusaha mempertahankan opini saya meski akhirnya gagal. Gagal disini bukan saya merasa kalah, karena ini bukan soal kalah menang. Gagal disini pun tak saya sesali.

Anggapan yang dimaksud terkait dengan pengalaman sewaktu anak perempuan kami akan ditindik telinganya untuk dipasangi anting. Anggapan yang umum menyatakan anak perempuan harus memakai anting supaya cantik.

Cantik? saya juga memiliki definisi sendiri atau pemahaman sendiri bagaimana cantik itu. Jujur saja saya ga setuju ketika anak kami yang baru berusia belasan hari mesti dipasangi anting. Rasa kasihan pun sempat berada dihati saya.

Menggunakan anting memang ciri perempuan. Tapi apakah perempuan yang tidak menggunakan anting akan kehilangan keperempuanannya? Saya rasa tidak dan tentu saja tidak. Saat ini pun banyak wanita dewasa yang tidak menggunakan anting, toh mereka tetap wanita.

Apakah bayi perempuan yang menggunakan anting akan bertambah lucu? Well, dalam pemikiran saya tanpa anting pun bayi akan tetap menggemaskan.

Memang sikap saya yang agak “nyleneh” ( setidaknya menurut istri ) ini sempat menjadi perdebatan hangat dengan istri. Memang saya pun tidak akan apa-apa ketika anak kami harus menggunakan anting. Toh, kita masih hidup dengan begitu banyak stereotype yang terbangun lama sebelum kita lahir didunia. Selama tidak menyalahi ( bersimpangan dengan agama tentunya ) fine – fine saja.

Kembali ke soal cantik. What makes a woman beautiful? banyak hal. Anting hanyalah aksesoris pelengkap, seperti halnya gelang dan kalung.

Saya sempat berkata dalam hati, seindah apapun anting yang digunakan tapi wajah tetap menentukan ( no offense ). Saya hanya ingin mempertegas sikap saya dengan pernyataan itu bahwa anting tidaklah membuat seseorang menjadi cantik. Membuat menarik mungkin saja. Tapi rasanya, saya tak akan menilai seseorang cantik dari antingnya.

Seorang wanita bisa terlihat cantik dari wajahnya, penampilannya, kepintarannya, kecerdasannya, kelucuannya, keceriaannya, dan banyak hal. Tentunya setiap orang, terutama bagi pria, mempunyai pemahaman cantik yang berbeda. Karena itulah ada bahasa “cantik atau tampan itu relatif”.

Back to earings, bagi saya perempuan harus menggunakan anting itu, adalah pemikiran yang bisa dihindari. At least, tidak diikuti pun tidak apa – apa. Lazimnya wanita memakai anting, tentunya diluar kelaziman tidak memakai anting pun tidak akan membuat wanita kehilangan identitasnya.

Meski kini anak saya beranting, tapi saya oke – oke saja. Boleh saja kawan mengatakan bahwa saya seperti ini karena rasa kasihan. Tapi diluar itu semua, saya punya sikap anting hanya pelengkap, cantiknya seorang perempuan tidak akan ditentukan oleh anting atau aksesoris berkadar emas lainnya.

Pun rasanya tidak apa – apa jika anda sebagai orangtua yang mempunyai anak perempuan tidak memasangkan anting pada anak anda. But seperti yang saya bilang semua orang punya pemahaman dan sikapnya sendiri soal kecantikan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s