Biaya Mahal Gagal Ginjal

Siang tadi menyimak berita di salah satu televisi swasta menyebutkan, jaminan kesehatan ditolak pasien gagal ginjal tak bisa melakukan cuci darah. Sungguh sakit mendengar berita ini. Bahkan dalam tayangan tersebut diperlihatkan seorang pasien cuci darah yang tangannya sudah mulai biru – biru dan duduk dikursi roda.

Para pasien yang ternyata berdomisili di salah satu kota di Jawa Timur ini Jamkesdanya ditolak oleh Rumah Sakit Umum Daerah setempat, meskipun telah membawa surat keterangan miskin. Entah kenapa Jamkesda ini sampai dihentikan. Apakah RSUD belum menerima pembayaran Jamkesda atau entah bagaimana. Hanya saja dalam kompas.com para pasien sempat menyatakan bahwa mereka memang sengaja dibiarkan meninggal. Meski saya yakin bukan seperti itu yang dikehendaki oleh Pemerintah. Bisa saja masih ada tunggakan belum dibayar seperti yang pernah terjadi di Jawa Timur juga.

Berita ini kembali mengingatkan saya pada masa – masa perjuangan mendampingi almarhum ayah yang terkena gagal ginjal. Memang biaya pengobatan tidaklah murah. Mahal. Tekanan biaya ini tidak hanya bagi para pasien yang tidak memiliki asuransi seperti Jamkesda, namun yang memiliki asuransi sekalipun akan sangat mengeluh karena proses pengobatan gagal ginjal.

Saya tidak ingat biaya yang pasti ketika Juni 2010 kami memulai perawatan cuci darah di Bandung. Pastinya diatas 1 juta, dengan perhitungan kami berasal dari luar Bandung. Hanya saja obat – obatan memang sangat mahal. Obat untuk menurunkan kadar kreatinin saja sudah dikisaran ( dengan perhitungan obat untuk 1 minggu = 1 hari 2 kali minum obat ) bisa sekitar Rp.200.000.,. Itu hanya untuk obat penurun kadar kreatinin, masih banyak obat lainnya. Seingat saya untuk cuci darah pun kita harus sedia sendiri obat kram karena pasien gagal ginjal ketika cuci darah sering menderita kram.

Belum lagi biasanya perbulan untuk menaikkan kadar hemoglobin kita harus mencari darah untuk transfusi. Jika memilih untuk menahan kadar hemoglobin dengan obat suntikan maka seingat saya obat suntikan tersebut berkisar 1 juta Rupiah atau lebih untuk sekali suntik.

Itu belum ditambah biaya lainnya. Saya ingat ketika intensitas sesak napas ayah makin sering, maka kami putuskan untuk membeli tabung oksigen sendiri yang berkisar antara 1,5 juta Rupiah sampai lebih. Belum lagi untuk mengisi ulang oksigennya. Karena pasien gagal ginjal akan sering mengalami sesak napas.

Cuci darah sendiri ketika kami memulai untuk satu kali saja sudah 450 ribu rupiah. Sedangkan jadwal cuci darah kami adalah 1 minggu 2 kali. Biaya cuci darah tersebut terus naik dan mencapai 600 ribu rupiah sekali cuci darah.

Sekali kontrol rutin saja uang sekitar 1 juta rupiah bisa ludes. Kalau tidak diakali dengan membeli obat – obatan untuk seminggu dulu, maka biayanya tentu akan lebih mahal.

Untuk pasien cuci darah, makanan pun banyak pantangannya. Menunya bisa saja sedikit berbeda dengan yang biasa dimasak. Ini juga harus menjadi perhatian.

Ketika saya membaca pernyataan bahwa para pasien menyebutkan bahwa mereka memang sengaja dibiarkan meninggal, saya sedih. Mengingat apa yang pernah kami lalui.

Kematian itu pasti namun perjuangan untuk bertahan hidup wajib dilakukan. Tidak akan ada yang bisa menolak suratan takdir namun tentunya meski kondisi sakit parah, perjuangan yang diiringi optimisme harus kita punya. Gagal ginjal bukan berarti menyerah, tapi justru dengan sabar dan tawakkal penuh berserah diri kepada Tuhan kita berusaha melakukan yang terbaik demi kesembuhan.

Saya rasa bagi siapapun diantara kawan – kawan ada yang sedang mengalami pengalaman perjuangan melawan gagal ginjal,kita semua menunggu keajaiban. Meski jika akhirnya takdir tak bisa dirubah, namun setidaknya kita telah melakukan yang kita mampu dengan segala tenaga kita.

Untuk itulah saya mengingatkan kepada diri saya sendiri dahulu, untuk menjaga ginjal saya. Saya berusaha tidak banyak – banyak mengonsumsi minuman ringan dan sejenisnya. Karena gagal ginjal ini penyakit yang sangat berat.

Semoga sharing soal biaya ini bisa menjadi bahan bagi kawan – kawan yang sedang mengalami pengalaman ini agar bisa sebaik mungkin mengatur keuangan. Sulit memang sulit mengatur keuangan ini, tapi saya harap setidaknya ini bisa jadi sedikit gambaran akan apa yang harus dihadapi.

Bagi kawan – kawan yang sedang mengalami pengalaman ini, doa saya untuk kalian semua. Berjuanglah tanpa lelah, bersabarlah tanpa batas. Tuhan akan memberikan jalan.

sumber gambar : http://www.kiran-jadhav.blogspot.com

sumber berita : http://www.kompas.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Biaya Mahal Gagal Ginjal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s