Seharusnya Biasa Saja ( Soal Bandung Raya )

Akuisisi saham Pelita oleh Aria D.Sutedi yang dikabarkan akan membawa kembali nama Bandung Raya menuai suara pro maupun kontra. Suara pro banyak yang “bergembira” karena Bandung Raya akan kembali mengulang nostalgia liga Dunhill 1 dan 2 dimana Kota Bandung memiliki derby. Pun saat itu ada tim Dalem Bandung, Persikab.

Ketiga tim ini sempat masuk 12 besar pada Liga musim 1995/1996. Meski Bandung Raya yang akhirnya menjadi kampiun.

Suara pro juga mengatakan bahwa kehadiran kembali satu klub di kota Bandung diharapkan akan melecut prestasi Persib Bandung. Setidaknya jika sudah punya “tetangga” dalam satu kompetisi, klub berjuluk Maung Bandung ini akan lebih berprestasi, jangan sampai kalah oleh tetangga.

Memang hadirnya derby satu kota bisa saja membawa efek positif. Soal gengsi dan tak mau kalah dari tetangga bisa jadi cambuk keras meraih prestasi.

Laga Everton vs Liverpool semalam menunjukkan itu. Bagaimana Everton sempat dipandang sebelah mata oleh Liverpool dimasa lalu, melecut Everton untuk menyaingi Liverpool.

Juga rasanya peta suporter tak akan berubah. Kebanyakan suara pro lebih melihat inilah perwakilan Jawa Barat. Ketika derby mereka akan mendukung habis – habisan Persib, namun ketika Bandung Raya bertanding dengan klub lain, karena dianggap perwakilan Bandung ( Jawa Barat), maka Bandung Raya akan didukung.

Perkembangan sepakbola Jawa Barat sendiri tertinggal jauh dari provinsi lain. Lihat saja di Liga Super musim kemarin, Papua mengirimkan 4 klub, Sumatera diwakili 4 klub, Kalimantan 3 klub.

Kebangkitan Bandung Raya sendiri lewat akuisisi ini dipandang sebagai hal bagus karena menjanjikan bakat – bakat sepakbola Jawa Barat untuk mentas.

Sedangkan suara kontra, saya kira lebih karena tiupan isu soal Bakrie. Tidak akan menuduh siapa – siapa, tapi kita semua tahu kubu mana yang selalu menjadikan Bakrie sebagai alat propaganda.

Ada yang bilang inilah kenapa Tri Goestoro mundur dari jabatan Sekjen PSSI. Ada yang bilang Bandung Raya di Liga Super musim depan adalah palsu.

Tapi Tri Goestoro sendiri tenang – tenang saja. Bahkan dari beberapa berita Tri menegaskan bahwa seleksi pemain akan difokuskan di Lembang pada 5 November mendatang.

Tri juga menjelaskan bahwa kenapa Bandung yang dipilih sebagai home base karena ikatan emosi dan sejarah klub eks Galatama ini.

Dalam klausul kontrak sendiri menurut salah satu berita disebutkan bahwa PT.Nirwan Pelita Jaya mensyaratkan bahwa nama Pelita tidak dihilangkan.

Lebih lanjt Tri juga menjelaskan bahwa bukan Bandung Raya yang membeli Pelita Jaya. Tapi Aria D.Sutedi sebagai pemilik 65 % saham Bandung Raya yang membeli Pelita Jaya. Karena itu akan ada 2 Bandung Raya satu di LSI dan satu divisi dua. Posisi Tri sendiri pada Bandung Raya yang disiapkan di LSI adalah sebagai pengelola.

Soal nama gabungan klub baru ini juga dikabarkan sedang didiskusikan.

Saya rasa jika dilihat dari berita – berita ini tidak harus ada ketakutan berlebihan menanggapi akuisisi ini. Apalagi jika mendengar propaganda soal Bakrie yang kencang berhembus seiring akuisisi ini.

Saya rasa hal positif yang ditulis diataslah yang lebih harus dikedepankan. Setidaknya Persib akan terlecut untuk lebih baik dan Jawa Barat mengulang nostalgia duo Bandung dipentas tertinggi kompetisi nasional.

Oh ya satu lagi, isunya Tri mundur dari jabatan Sekjen karena memang tidak sejalan dengan Djohar Arifin dkk. Memang kalau dilihat selama jadi Sekjen Tri seolah kehilangan suara dan lebih banyak diam.

sumber :

www.inilahjabar.com

www.sidomi.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s