Berjuanglah Garuda

Miris. Rasa ini tiba – tiba muncul ketika wasit Ng Kai Lam meniup peluit panjang menutup pertandingan perdana Grup B AFF Cup 2012 antara Indonesia vs Laos.

Indonesia ngos – ngosan, dua kali mengejar ketertinggalan. Kekuatan timnas yang seadanya tambah berkurang ketika Endra Prasetya dikartu merah wasit karena menjegal pemain Laos dikotak penalti. Belum lagi koordinasi buruk lini pertahanan antara Wahyu Wijiastanto, Handi Ramdan, Novan Setya dan Rafael Maritimo. Lini tengah keropos, tidak ada penjegal serangan lawan digaris tengah. 2 Kartu kuning untuk Wahyu dan Handi adalah buktinya. Koordinasi lini depan acak – acakan. Hanya mengandalkan skill individu. Kerjasama nol besar.

Hasil 2 – 2 memupuskan dominasi Indonesia atas Laos selama ini. Bahkan pada gelaran AFF 2010, Indonesia masih bisa membantai Laos 6 gol.

Inilah potret timnas saat ini. Hanya mengandalkan pemain – pemain yang belum berpengalaman, Indonesia masih beruntung tidak sampai kalah. Pelatih Laos, Kokichi Kimura, mengatakan jika saja timnya lebih berpengalaman, 3 poin pasti menjadi milik Laos.

Miris dan kasihan. Rasa ini tiba – tiba muncul. Mungkin rasa ini muncul ketika harapan yang memang tidak disematkan tinggi pada AFF 2012 ini, sedikit terjustifikasi dengan hasil seri ini.

Belum lagi, tim ini kehilangan dukungan sebagian besar suporter sepakbola Indonesia. Buah arogansi PSSI. Buah dari apa yang Djohar Arifin lakukan sejak awal mereka memimpin PSSI.

Dalam tulisan kemarin, saya menulis rasanya tidak adil para pemain ini ikut dihujat. Bagaimanapun mereka mencoba menunaikan tugas, membawa nama Indonesia, menyematkan Garuda didada kiri mereka, berkeringat demi nama bangsa.

Para pemain hanya mencoba memberikan yang terbaik bagi bangsa terlepas dari konflik PSSI – KPSI. Tidak perlu menilai mereka ikut bersalah atau apapun karena bernaung disalah satu organisasi, tetapi mereka memang terikat dengan kontrak profesional di klub nya masing – masing yang kebetulan bernaung dibawah PSSI.

Lagipula siapapun orang yang ada di PSSI, ketika dipanggil untuk memperkuat timnas, pemain mana yang tidak akan merasa bangga.

Perlukah kita mendukung timnas? itu kembali kepada masing – masing individu. Namun komentar salah seorang kawan cukup menyentil dengan mengatakan timnas ini tetap membawa nama Indonesia meski PSSI yang memberangkatkannya dan kita benci PSSI yang sekarang.

Betul juga, timnas ini masih memakai lambang garuda, menyanyikan “INDONESIA RAYA” dan mereka merepresentasikan Indonesia. Saya jadi teringat, ketika atlet – atlet bulutangkis kita berjaya di Olimpiade waktu dulu, nama Indonesia yang disebut bukan PBSI.

Namun, saya kembalikan kepada individu masing – masing, mau mendukung silahkan, mau tidak juga silahkan. Tapi rasanya akan lebih elok ketika hasil apapun yang terjadi, tak perlu tertawa, tak perlu sibuk membuat teori konspirasi untuk membela. Cukup hargai keringat, tenaga, yang sudah para pemain berikan demi nama baik bangsa.

timnas tetap akan membawa satu nama yaitu Indonesia. Tidak PSSI atau juga KPSI. Tetap Indonesia.

Berjuanglah Garuda meski lemah kepak sayapmu.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s