Let There Be Peace

1530335_FULL-LND

Berita beberapa hari terakhir dibalik ingar – bingar Inter Island Cup adalah soal apakah FIFA akan memberikan sanksi kepada Indonesia. Perpecahan kompetisi yang mengawali konflik sepakbola Indonesia dan diikuti dengan perpecahan organisasi membawa sepakbola Indonesia ke titik nadir. FIFA memberikan tenggat waktu kepada Indonesia sampai 10 Desember 2012 untuk membereskan segalanya, jika tidak FIFA siap memberikan sanksi.

Bahkan diluar kebiasaan, dalam suratnya tanggal 26 November 2012, FIFA meminta pemerintah Indonesia ( dalam hal ini Kemenpora ) untuk terlibat mengatasi konflik PSSI – KPSI. Sungguh diluar kebiasaan, karena biasanya FIFA mengharamkan intervensi pemerintah dalam urusan organisasi sepakbola.

AFC ( Persatuan Sepakbola Asia ) telah berusaha memberikan jalan kepada kedua kubu yang bertikai dengan membentuk Joint Comittee ( JC ) pada Juni 2012 silam sebagai “ruang” bertemu kedua pihak menyatukan pendapat. Namun tampaknya JC pun masih dihinggapi oleh konflik kedua kubu.

Belum lagi, PSSI tidak menjalankan keputusan AFC untuk kembali mengaktifkan 4 anggota exco yang dipecat oleh PSSI karena berseberangan pemikiran.

Hal terakhir yang menjadi konflik di JC adalah soal timnas. KPSI bersikeras timnas harus dibawah JC sesuai arahan AFC, sedangkan PSSI tidak memahaminya demikian.

Kemenpora bertindak cepat dengan memanggil kedua kubu yang bertikai pada Rabu ( 5 / 12 ) kemarin. Ada empat kesimpulan yang disepakati kedua pihak yang bertikai. Pertama, kedua pihak sepakat berusaha semaksimal mungkin menghindari sanksi. Kedua, penyelesaian permasalahan akan tetap mengacu pada MOU yang ditandatangani bersama AFC Juni silam. Ketiga, Peserta kongres PSSI akan merujuk pada peserta KLB PSSI Solo dan poin terakhir adalah jika terjadi kebuntuan, kedua pihak akan meminta bantuan AFC untuk mencarikan solusi.

Sejauh mana ini akan berhasil, tergantung kepada kedua belah pihak. Jika keduanya bisa sepaham, segerak dan sepemikiran sanksi akan bisa dihindari. Namun jika masih bersilang pendapat tentunya sanksi harus siap diterima.

Menerima sanksi bukanlah sebuah keuntungan. Tentunya Indonesia akan menerima banyak kerugian. Salah satunya tidak bisa ikut berkompetisi pada turnamen – turnamen FIFA.

Jika memang kita pada akhirnya disanksi oleh FIFA, pencabutan sanksi pun akan tergantung secepat apa penyelesaian konflik di Indonesia. Kuwait pada Oktober 2007 disanksi FIFA karena intervensi pemerintah dalam pemilihan pengurus organisasi. Hanya satu bulan sanksi itu dicabut kembali setelah KFA menjalankan pemilihan sesuai arahan FIFA.

Apa yang saya khawatirkan adalah jikapun, nasib terburuk adalah menerima sanksi, saya ragu belum tentu kedua pihak bisa cepat – cepat berdamai ( berkaca pada apa yang terjadi saat ini ).

Namun tentunya, harapan yang terbaik adalah kedua kubu berdamai dan satu suara. Kegagalan Indonesia di AFF Cup 2012 salah satunya adalah akibat konflik ini.

Berdamailah.

sumber :

www.inilah.com

www.tivad.blogspot.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s