Beberapa Jam Menuju Takdir

Hanya beberapa jam saja nasib Indonesia ditentukan oleh FIFA. Kira – kira begitu kalimat pertama pagi ini yang gue denger pas nyalain TV beres solat subuh. Liputan selanjutnya dilanjutkan dengan pernyataan Pelaksana Tugas Menpora, Agung Laksono, Ketua KPSI La Nyalla Mattalitti. Terakhir Bob Hippy menelepon secara langsung dari Jepang, karena PSSI mencoba melobi FIFA agar tak menjatuhkan sanksi kepada Indonesia.

Memuakkan. Itulah tanggapan gue denger ini semua. Lamat – lamat suara Bob Hippy menghilang karena mending tidur daripada kembali melihat egoisme  para pencari kekuasaan. Egoisme yang lantang berbicara “kami paling benar”. Egoisme yang sudah menodai kehormatan bangsa.

Tak ada kesadaran sama sekali dari semua pihak. Apa yang kita lihat 2 tahun belakangan ini melibatkan semua pihak yang hari ini mencoba memadamkan api yang mereka sulut.

Jika kita tarik ke mundur ke belakang, semua berawal dari munculnya Arifin Panigoro. Arifin Panigoro yang ingin duduk dikursi PSSI 1 menggulirkan Liga Primer Indonesia yang berisi tim – tim amatir. Kehadiran LPI mengguncang stabilitas LSI karena Persema, Persibo dan PSM Makassar memutuskan pindah ke LPI. Ironisnya LPI didukung oleh Menpora, Andi Malarangeng.

Nurdin Halid berhasil diturunkan dan naiklah Djohar Arifin sebagai “kader” Arifin Panigoro dan George Toisutta setelah FIFA melarang Nurdin, Arifin dan George mencalonkan diri dalam pemilihan ketua umum. LPI dihentikan untuk selamanya.

Muncul ide PSSI dibawah pimpinan Djohar Arifin untuk membuat liga baru. Semua tingkatan divisi dihilangkan. Status klub dihilangkan karena setiap klub dari semua divisi berkesempatan untuk mentas di kompetisi teratas dengan berbagai persyaratan. Persyaratan – persyaratan ini disamarkan oleh PSSI dengan nama verifikasi AFC. Dibalik verifikasi, PSSI menawarkan merger klub – klub LPI yang dibiayai konsorsium Arifin Panigoro dengan klub – klub anggota kompetisi PSSI dari berbagai divisi.

Rencana PSSI ini gagal karena memang tidak sejalan dengan keputusan kongres Bali pada jaman Nurdin Halid. PSSI sempat lurus dengan niat melanjutkan LSI dengan 18 klub sesuai hasil LSI 2010/2011 dan divisi utama 2010/2011.

Kembali PSSI berulah dengan memasukkan klub – klub promosi gratis dengan dalih klub bersejarah, klub ikon dan pesanan sponsor sehingga peserta LSI menjadi 24 klub.

Klub – klub LSI meradang dengan kondisi ini. Belum lagi PSSI menerapkan teknologi kloning pada Persija dan Arema. Kehadiran klub kloning dan klub promosi gratis ini tetap mempunyai tujuan agar jiwa – jiwa klub LPI bisa hadir di LSI.

Klub – klub LSI menyatakan keluar dari liga PSSI dan mendaulat kembali PT.Liga Indonesia untuk menjalankan LSI. Sebelumnya PSSI tiba – tiba menunjuk PT.LPIs sebagai administrator liga yang juga merupakan pengingkaran terhadap hasil kongres Bali.

4 anggota exco PSSI yang tak setuju dengan tindakan PSSI, dipecat oleh PSSI. Kemudian singkat cerita muncullah KPSI.

Satu kesalahan PSSI disini adalah tidak mengambil keputusan berdasarkan kongres. PSSI menganggap semuanya bisa diselesaikan lewat rapat exco padahal tidak semua keputusan bisa diambil lewat rapat exco.

PSSI membawa Indonesia hancur – hancuran. Kekalahan 0 -10, peringkat Indonesia di FIFA terburuk sepanjang sejarah, pengkloningan pengprov – pengprov yang tidak sejalan dengan PSSI dan masih banyak lainnya.

Menpora menarik dukungannya dan mulai menjadi salah satu “musuh” PSSI. FIFA memperingatkan Indonesia agar segera berdamai. Namun itu semua hanya sia – sia.

AFC mencoba mencari jalan keluar lewat MOU antara PSSI – KPSI dan pembentukan Join Comittee. Ini semua kembali menjadi sia – sia setelah PSSI dalam Kongres Palangkaraya kemarin secara sepihak membatalkan MOU AFC. Sebelumnya PSSI pun tidak melaksanakan satu poin MOU dengan tidak memulihkan status 4 anggota exco yang dipecat.

Tidak ada yang mau mengalah dalam konflik ini. Semua bertahan dalam kubu masing – masing. Kini pemerintah membentuk Task Force untuk menengahi konflik yang dalam beberapa jam kedepan bisa membawa Indonesia kepada sanksi. Task Force ini dibekali kekuatan surat FIFA yang meminta pemerintah Indonesia abai terhadap penyelesaian konflik PSSI – KPSI.

Rakyat hanya bisa menunggu. Apakah lobi PSSI dan Task Force bisa membawa perdamaian dan menghindarkan sanksi akan terjawab hari ini juga.

Hanya satu rasa pesimis muncul dihati saya, jikapun Indonesia menerima nasib buruk sanksi, gue rasa perselisihan ini tidak akan mudah menemukan kata damai. Padahal pencabutan sanksi (melihat pengalaman negara – negara lain yang pernah disanksi) bergantung pada cepat atau tidaknya perdamaian terjadi.

Melihat apa yang terjadi hari ini, setiap kubu mencoba bertahan dalam pendapat masing – masing. Sementara rakyat sudah bosan dan muak melihat semua ini

 

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s