Sudah Internasional Kok

Rintisan Sekolah Berstandar Internasional ( RSBI ). Konsep ini membawa ingatan saya 4 tahun ke belakang saat meliput peresmian RSBI di salah satu SMP Negeri di kota saya. Saya masih ingat pejabat provinsi yang meresmikan RSBI menyampaikan sambutannya dalam 2 bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karena memang seperti itulah cara menyampaikan pelajaran di Sekolah Berstandar Internasional ini dengan 2 bahasa.

Hanya dulu pun ketika meliput, saya masih bingung dengan kata standar internasional. Apa yang harus diinternasional kan?. Dari sisi pelajaran, saya yakin apa yang kita pelajari disekolah sama dengan yang diajarkan di belahan dunia lain. Teori fisika, teori matematika, sejarah dunia, saya rasa tak berbeda. Karena tak mungkin kita membuat teori lain jika masih satu sumber misalkan tentang teori relativitas Einstein.

Jika soal penggunaan bahasa Inggris yang masih rendah pada siswa – siswi, rasanya tidak perlu meng-internasionalkan. Karena modalnya sudah ada tinggal bagaimana menggunakannya untuk memacu siswa – siswi lebih aktif menggunakan bahasa inggris.

Konsep – konsep pesantren yang rata – rata mengajarkan berbagai bahasa lebih cocok untuk diterapkan daripada membuat konsep yang memakan biaya. Pesantren – pesantren menerapkan satu hari wajib berbahasa inggris atau beberapa hari wajib berbahasa asing. Dengan kebiasaan ini, para santri ketika lulus sudah fasih berbicara bahasa asing dan sanggup berkomunikasi dengan orang – orang dari berbagai negara.

Tidak hanya itu, karena kata “wajib” maka jika ada santri yang melanggar ketentuan pada hari wajib berbahasa asing dengan berbahasa Indonesia atau daerah maka akan ada sanksi. Dengan begitu penerapan bahasa asing akan berjalan efektif.

Apa yang dilakukan oleh pesantren, adalah seperti yang selalu dikatakan teman saya, bahwa jika ingin aktif berbahasa asing maka bangunlah sebuah “lingkungan” yang menempatkan semua orang berbahasa asing. Jika masih ada dalam sebuah lingkungan dengan bahasa campuran, maka bisa dipastikan seseorang yang sedang berlatih bahasa asing akan melupakan latihannya dan kembali berbicara dengan bahasa ibu.

Soal pembubaran RSBI yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi memang lebih kepada munculnya sekat – sekat sosial disekolah dengan penerapan standar internasional ini. Belum lagi munculnya pungutan – pungutan biaya bagi siswa – siswi.

Ada satu alasan lagi yaitu soal penggunaan bahasa Inggris di RSBI yang disebut melanggar sumpah pemuda 1928. Saya kurang setuju dengan alasan ini, karena kita yang berbahasa Inggris bukan berarti tidak mencintai dan melupakan bahasa Indonesia. Tetapi tuntutan untuk mampu berbahasa asing memang sebuah tuntutan jaman sekarang. Tak perlu jauh – jauh, sebagian perusahaan – perusahaan di Indonesia pun sering mencantumkan syarat mampu berbahasa Inggris dalam lowongan pekerjaan mereka.

Soal pembubaran ini, saya lebih setuju dengan alasan terciptanya sekat – sekat sosial dan juga biaya pendidikan yang jadi lebih tinggi. Sekali lagi bahwa sebetulnya materi pendidikan kita sudah “internasional” tinggal bagaimana memanfaatkan itu semua.

Satu lagi, saya dengar dari teman saya bahwa RSBI yang menuntut para pengajar untuk bilingual, sebagian pengajarnya masih belum bisa bilingual.

 

sumber :

www.kompas.com

www.harianhaluan.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s