Jangan Salahkan Bahasa Asing

Apakah berbahasa asing menodai sumpah pemuda 1928 yang menyatakan kita satu bahasa, bahasa Indonesia?? Rileks, ini bukan soal RSBI, meskipun alasan ini dijadikan salah satu dasar pencabutan program sekolah yang menuai kontroversi. Soal pencabutan saya oke, tapi soal belajar bahasa asing menyalahi sumpah pemuda 1928, ini yang saya tidak setuju.

Sempat ini bahasan diradio jumat kemarin dalam acara bahasa inggris. Rekan saya menyebutkan, bahkan Ir.Soekarno pun mampu berbahasa asing dengan mahir. Pertanyaan selanjutnya apakah belajar bahasa asing juga menyalahi undang – undang 1945?

Rasanya terlalu jauh jika disebutkan seperti itu. Contoh – contoh para bapak pendiri negara ini mampu berbahasa asing dengan baik tentunya menjadi contoh yang baik bagi generasi selanjutnya, kita yang hidup pada masa sekarang. Penguasaan bahasa asing pada masa perjuangan memang sangat diperlukan, karena lebih pada upaya diplomasi. Tapi bukan berarti kita harus melupakan bahasa asing setelah merdeka.

Mungkin pembelajaran bahasa asing bisa sejalan dengan undang – undang jika kita melihat pembukaan UUD 1945 yang tercantum kalimat “ikut melaksanakan ketertiban dunia”, bagaimana kita ikut menertibkan dunia jika kita tidak berbicara bahasa yang sama didunia internasional.

Ada juga alasan lain, bahwa belajar bahasa asing akan membuat kita kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia. Saya bilang ini terlalu mengada – ada. Memang saat ini faktanya bahasa daerah mulai ditinggalkan oleh anak – anak muda. Trend budaya yang disedot dari negara lain memang bisa membuat anak – anak muda ini lupa akan kebudayaan sendiri.

Namun dalam hal penggunaan bahasa daerah, bahasa asing bukanlah satu – satunya penyebab bahasa daerah sudah mulai jarang digunakan. Banyak sekali faktor – faktor lainnya. Salah satunya adalah lingkungan dimana si anak tumbuh berkembang.

Sukses atau tidaknya pengajaran bahasa sangat tergantung pada lingkungan. Anak akan lebih fasih berbicara satu bahasa yang digunakan dilingkungannya. Meskipun disekolah bahasa daerah atau bahasa asing diajarkan dalam sekian jam pelajaran, tapi faktor lingkungan diluar sekolah yang akan mempunyai faktor lebih besar membentuk si anak.

Banyak sekali kini orangtua jaman sekarang yang memilih untuk tidak mengajarkan bahasa daerah kepada anak – anak mereka. Berbagai alasan mereka ajukan seperti takut si anak tidak bisa bergaul nantinya, tidak mampu mengajarkan bahasa daerah yang halus, bahkan mungkin saja menganggap bahasa daerah tidak up to date dengan jaman sekarang. Inilah pola pikir negatif yang dibentuk orangtua yang secara langsung akan membunuh eksistensi bahasa daerah. Saya lebih mengatakan bahwa alasan – alasan seperti ini merupakan ketakutan berlebihan yang tak pernah terbukti.

Bagaimana seorang anak akan bangga berbahasa daerah jika dirumahnya pun tak pernah diajarkan berbahasa daerah.

Pengalaman melihat keponakan yang dibesarkan dalam lingkungan berbahasa sunda, ternyata tidak membuat si anak terisolir. Bahkan kini ia pun di usianya yang hampir 4 tahun bisa berbahasa Indonesia secara otodidak yang didapat dari lingkungan diluar rumah dan tontonan. Kini ia bilingual dalam berbahasa. Sunda dan Indonesia. Bahkan saat ia masih belum terlalu menguasai bahasa Indonesia, ia tidak canggung bermain dengan teman – temannya yang berbahasa Indonesia.

Bahasa asing, saya rasa tidak harus disalahkan dalam hal bahasa daerah menghadapi kepunahan. Justru pola pikir orang – orang yang tak mau berbahasa daerah-lah yang membunuh bahasa daerah. Ironisnya orang – orang tersebut lahir dari suku – suku yang mempunyai kekhasan bahasa.

Akan lebih bijak rasanya pada upaya merubah pola pikir negatif orang – orang yang tak mau berbahasa daerah. Karena meskipun bahasa asing tidak lagi diajarkan, tapi pola pikir negatif itu masih hidup, bisa dipastikan bahasa daerah akan tetap punah. Efek lain bangsa ini bisa terisolir dari pergaulan dunia.

Belajar bahasa asing tidaklah akan menggerus jati diri anda, tapi keengganan berbahasa daerah-lah yang akan meniadakan jati diri anda.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s