Fight For Asia 2013

Perpecahan kompetisi di Indonesia membuat saya acuh dengan kiprah klub Indonesia diajang Asia. Saya kembali menyaksikan perlawanan klub Indonesia diajang Asia tadi malam lewat siaran tunda disalah satu televisi nasional.

Hasilnya sungguh sangat mengecewakan. Persibo menampakkan bahwa kondisi tak kondusif di internal tim bisa membuat mereka tak berdaya. Kesulitan keuangan plus belum matangnya skuad Persibo membuat mereka dibantai habis oleh New Radiant Maladewa 7 gol tanpa balas di Solo. Sungguh sangat menyedihkan. Pada pertandingan pertama pun skuad asuhan Gusnul Yakin, dipermak Yangon United Myanmar 3 gol.

Ali Ashfaq ( Maladewa ) menambah koleksi gol ke gawang klub Indonesia menjadi 7 gol karena kemarin 5 gol ia lesakkan ke gawang Persibo sementara 2 lainnya ia cetak saat AFC Cup 2010 ke gawang Persiwa Wamena. Senjata andalannya masih sama, kecepatan berlari diantara celah pemain bertahan lawan.

Tak ada perbaikan sepanjang pertandingan berarti meskipun dibabak pertama Persibo telah ketinggalan 0-2. Formasi 5-3-2 membuat Persibo kesulitan menembus pertahanan lawan. Setiap serangan balik lawan selalu sulit diantisipasi pertahanan anak – anak Bojonegoro.

Hasil berbeda ditorehkan tim Kabau Sirah, Semen Padang. Bertanding di Shree Shiv Chhatrapati Sports Complex Kota Pune India, Semen Padang berhasil membawa 1 poin setelah menahan imbang Churchill Brothers dengan skor 2 – 2.

Pertandingan pertama pada 5 maret silam berhasil dikemas dengan 3 poin, setelah klub kebanggaan kota Padang ini membekap Warriors Singapura dengan skor 3 – 1 distadion Haji Agus Salim.

2 hasil kontras ini menempatkan sementara Semen Padang diposisi kedua Grup E setelah Kitchee SC Hongkong. Sedangkan Persibo Bojonegoro terpuruk didasar klasemen Grup F dengan nilai 0.

Kita berharap saja trend positif, apalagi untuk Persibo, bisa diraih dan dipertahankan dalam lanjutan AFC Cup 2013 ini. Prestasi klub Indonesia diajang AFC Cup sejauh ini sampai perempatfinal.

PSMS Medan sebagai klub Indonesia pertama yang bertanding di AFC Cup pada tahun 2009 bisa melangkah sampai babak 16 besar. Setahun kemudian Sriwijaya FC bisa melangkah ke 16 besar sedangkan Persiwa Wamena rontok difase grup.

Pada tahun 2011 Sriwijaya bisa mengulang pencapaian mereka ke babak 16 besar, sementara Persipura menetapkan standar baru ketika mereka bisa melangkah sampai perempatfinal sebelum Arbil Irak menghentikan langkah mereka.

Tahun kemarin, Arema IPL juga sanggup sampai babak perempatfinal untuk kemudian terhenti setelah klub Arab Saudi, Al Ettifaq mencetak selisih 4 gol atas Arema IPL.

Pembagian grup AFC Cup yang didasarkan atas region antara Asia Timur dan Asia Barat juga ikut mempengaruhi capaian klub – klub Indonesia. Jika difase grup klub Indonesia dipertemukan dengan lawan sebanding atau bahkan dibawah klub Indonesia kemampuannya seperti klub – klub negara ASEAN, Hongkong, India atau Maladewa, pada fase 16 besar dan selanjutnya klub Indonesia ( jika lolos ) akan bertemu dengan klub – klub Jazirah Arab yang secara teknis sudah lebih mapan dari segi taktik dan permainan dibandingkan klub Indonesia.

Semoga saja hasil baik akan diperoleh dua perwakilan Indonesia ini. Tak perlu memandang mereka dari kompetisi mana yang penting mereka tetap membawa nama Indonesia. Semoga pula perdamaian sepakbola Indonesia yang kini sedang disemai bisa membawa efek baik bagi kiprah klub Indonesia di Asia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s