Blanco..Poor Blanco

Pagi ini ada satu hal yang cukup menggelikan buat saya. Ketika berkunjung ke salah satu forum, disana ada postingan yang mencopas berita disalah satu blog. Bikin saya ketawa karena judulnya yang “bombastis”. Sebenarnya situs itu memang sering menampilkan judul – judul seperti itu. Well, berita di situs itu memuat tentang Pelatih timnas Indonesia asal Argentina, Luis Manuel Blanco, yang untuk pertandingan Sabtu nanti harus rela “digeser” oleh duet Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago.

luis-Manuel-Blanco-Timnas-Indonesia-PSSI

Seperti yang diketahui Blanco terpaksa diparkir karena ada “penolakan” beberapa pemain terhadap pola latihan yang diusungnya. Dalam beberapa keterangan, Blanco memang lebih menekankan kepada latihan fisik. Para pemain yang menolak ini beralasan bahwa mereka baru saja bergabung setelah menempuh perjalanan jauh dan baru saja bertanding di liga. Mereka keberatan jika harus langsung “digojlok” lewat pola latihan Blanco.

Kisah pelatih vs pemain ini sempat membuat Blanco terancam didepak, meskipun urung dan akhirnya sementara timnas ditangani caretaker. Pengangkatan caretaker ini dikarenakan alasan mogok pemain dan Blanco dinilai belum memahami budaya dan karakter pemain Indonesia.

Kemampuan Blanco dalam melatih pun kemudian ramai dipertanyakan. Meski disisi lain, ada beberapa pemain yang juga baru bergabung dengan timnas tetapi tidak menolak untuk dilatih dalam pola latihan keras.

Blanco tidak hanya diam. Dia melakukan klarifikasi bahwa dia tidak memulangkan para pemain yang merasa masih kelelahan tetapi dia menyuruh mereka untuk latihan ringan dipinggir lapangan atau pulang ke hotel untuk istirahat.

Lantas kalau begini apa yang bisa disimpulkan? Dalam salah satu berita disebutkan bahwa Blanco tidak bisa berbahasa Inggris dan tetap berbahasa Argentina sehingga ia harus ditemani penerjemah.

Jika melihat klarifikasi Blanco, mungkinkah kendalanya ada pada bahasa? tanpa meragukan kemampuan penerjemah, kemungkinan kesalahan penerjemahan bisa saja terjadi. Sehingga ada kesalahpahaman antara pemain dan Blanco.

Jika ini yang terjadi BTN harus mencarikan Blanco penerjemah yang betul – betul bisa menerjemahkan makna setiap kalimat. Bukan hanya makna yang eksplisit. Seperti dalam tips menerjemahkan bahasa asing lebih bagus ketika kita bisa menangkap makna satu kalimat bukan mengartikan kata per kata. Karena jika kata per kata yang diartikan kemungkinan kesalahan makna dapat terjadi.

Bisa saja ini bukan satu – satunya kendala. Alasan Blanco yang belum memahami karakterk pemain Indonesia, membawa kepada pertanyaan selanjutnya bagaimana sebenarnya karakter pemain Indonesia.

Saya tidak tahu pasti, hanya kejadian ini membawa ingatan saya jauh ke masa lalu saat Peter Withe menakhodai timnas. Pria asal Inggris ini sempat dikritik pula oleh para pemain timnas dengan alasan bahwa para pemain diklub terbiasa dengan pola 3-5-2 bukan 4-4-2.

Ada satu hal lagi yang menarik, silahkan disimak tulisan berjudul Uncle Choo dan latihan fisik timnas era 1950an . Mungkin bisa membantu kalian menebak seperti apa karakter yang dimaksud.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s