Mental Masih Jadi Masalah Utama

Tiga hari sudah berlalu tapi kekesalan dan kekecewaan itu masih ada. Seharusnya satu poin bisa kita raih, namun takdir berkata lain. Susah memang jika semuanya sudah dikaitkan dengan takdir. Mungkin saja nanti kita bertanya apakah takdir Indonesia selalu kalah bal – balan?

Turun dengan susunan pemain yang mumpuni disetiap lini, Indonesia mengawali dengan formasi 4-2-3-1. Terlihat beberapa pemain diturunkan karena faktor pengalaman. Ponaryo Astaman secara jelas adalah pilihan berdasar pengalaman.

www.detik.com
http://www.detik.com

Lini tengah Indonesia menjadi pertanyaan. Duet Imanuel Wanggai dan Ponaryo Astaman mempunyai beban lebih. Karena selain harus melindungi garis pertahanan Indonesia mereka juga harus bisa memutus serangan Arab Saudi. Kerja mereka dibantu oleh M.Ridwan yang ditempatkan disayap kanan, namun bertugas untuk lebih melindungi Zulkifli Syukur yang sesekali naik ke atas.

Ketika menyerang dua fullback Indonesia Supardi ( kiri ) dan Zulkifli Syukur ( kanan ) naik membantu serangan, sementara dua center back Victor Igbonefo dan Hamka Hamzah yang dibantu Ponaryo tetap menjaga pertahanan Indonesia.

Dalam laga melawan Malaysia, gol pertama Arab Saudi datang dari sayap kanan mereka alias sisi kiri pertahanan Indonesia. Kerja Supardi disini lumayan berat. Ian Kabes yang berada disisi kiri Indonesia tidak untuk bertahan tapi lebih ke otak serangan. Immanuel Wanggai yang ditugaskan untuk mengawal sayap kiri Indonesia ketika bertahan. Hanya saja Immanuel Wanggai kemudian seperti bekerja sendirian dilini tengah Indonesia karena Ponaryo gagal melaksanakan tugasnya. Dalam beberapa analisa, Ponaryo merupakan salah satu pemain yang under perform.

Jika Wanggai lebih berperan kepada pemutus serangan, maka seharusnya Ponaryo bisa menahan bola untuk mendistribusikannya ke berbagai sisi lapangan.

Dua gol ke gawang Indonesia, datang dari sisi yang dijaga Supardi. Bahkan pada gol kedua, ketika Supardi lebih berkonsentrasi menjaga pemain sayap kanan Arab Saudi, justru bek sayap mereka yang naik memberikan umpan.

Indonesia dihabisi dengan cara yang sama ketika Piala Asia 2007. Dua gol, dua sundulan, dua umpan sayap.

Diluar dua gol itu, Indonesia berhasil menghentikan alur serangan The Green Falcon lewat tengah. Arab Saudi kesulitan membangun lewat tusukan – tusukan ke kotak penalti Indonesia.

Indonesia masih mandeg ketika menyerang. Lini tengah yang sibuk menangkal serangan lawan, membuat mereka tak optimal mengalirkan bola ke lini depan. Alhasil hanya sedikit peluang yang bisa dihasilkan Indonesia. Tusukan – tusukan dari kedua fullback yang terkenal agresif di ISL pun tidak banyak. Sergio Van Dijk dan Boaz minim peluang.

Pergantian pemain pun tidak mengubah keadaan. Dengan waktu tersisa banyak, dan setidaknya tinggal mengejar selisih satu gol, Rahmad Darmawan ( RD )memasukkan Irfan Bachdim mengganti M.Ridwan. Tentunya RD mempunyai pertimbangan sendiri. Memang banyak orang mengharapkan Andik Vermansyah untuk turun karena lebih agresif dan bisa merepotkan lawan. Hanya saja jika Andik yang turun, sisi kanan pertahanan Indonesia akan terbuka lebar. Pun karena Arab Saudi setelah gol ke -2 lebih menekan lewat sisi kanan Indonesia.

Greg Nwokolo yang masuk menggantikan Ian Kabes memang sempat menghadirkan harapan lewat tusukan dan permainan kombinasinya dengan SVD. Hanya kembali bahwa “mesin” Indonesia mandeg karena terus – terusan ditekan. Sehingga distribusi bola tidak lancar. Bola pun lebih sering langsung diumpan dari pemain bertahan.

Permasalahan Indonesia dari laga ke laga masih tetap sama. Kurangnya percaya diri yang menyebabkan terlalu berhati – hati, tidak leluasa bergerak dan terburu – buru mengirimkan umpan masih terjadi.

Dalam segi bertahan, Indonesia memberikan ruang yang cukup bagi para pemain Arab Saudi untuk berkreasi. Tidak ada pressing ketat ketika lawan memegang bola. Indonesia lebih memilih untuk menangkal para pemain Arab Saudi didekat garis kotak penalti. Memang ini efektif, hanya saja ketika bola berhasil direbut, jalan sangat jauh mesti ditempuh untuk melakukan serangan balik.

Segi kualitas individu, saya rasa pemain kita sudah sebanding dan sama dengan para pemain Arab Saudi. Tinggal bagaimana mempunyai mental yang kuat dan tidak terlalu banyak kekhawatiran ketika bermain.

Masalah utama Indonesia ketika bertemu lawan yang dikategorikan satu level diatas kemampuannya adalah masalah mental. Inilah yang harus lebih banyak dibenahi.

Perjalanan Indonesia masih panjang di Pra Piala Asia 2015 ini. Masih tersisa 4 pertandingan lagi. Semoga saja tradisi baik ketika berturut – turut lolos ke Piala Asia 1996, Piala Asia 2000, Piala Asia 2004 dan 2007 bisa kembali terulang.

Soal takdir, dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan ” Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu (berusaha) merubah nasibnya sendiri.”

Perubahan harus terjadi, waktu persiapan masih panjang. Arise Lads!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s