The Classic Way of Photo

Digitalisasi. Proses alih media dari cetak, audio, video menjadi bentuk digital. Secara gampang, semua file baik tulisan, suara, gambar disimpan dalam “gudang penyimpanan” yang beragam bisa bentuk CD, Flashdisk atau juga Harddisk. Bahkan kini file kita bisa disimpan didunia maya, contoh simple upload di Facebook.

Kemudahan – kemudahan ini, khususnya foto, membuat seringnya hard disk kita penuh dengan file – file simpanan kita. Kapan pun kita mau kita bisa melihat tinggal menghidupkan komputer ( jika disimpan di hard disk PC ) maka kita pun bisa bernostalgia melihat file – file foto. Bahkan adanya fasilitas editing membuat kita semakin nyaman menyimpan foto – foto di hard disk.

Ga, saya ga akan berbicara tentang bagaimana menata hard disk atau melindungi file dari keganasan virus. Saya hanya ingin berbicara bahwa dengan semakin mudahnya proses menyimpan sering saya lupa akan sebuah, dengan bahasa saya, nilai tradisi dalam menyimpan foto.

Sebelum era digital, kita akan mencetak semua foto itu dan menempelkannya dialbum foto yang biasanya sesuai dengan momen – momen tertentu.

Memang masih ada yang sering secara berkala mencetak foto – foto mereka dan menumpuk album – album foto dirumah. Hanya berapa banyak? karena bagi saya pribadi sering terlenakan dengan kenyamanan menyimpan semua foto dalam handphone, PC, bahkan masih ada yang disimpan dikamera digital.

Alasannya simple yakni mudah dan aman. Dengan dicetak membutuhkan perawatan karena bisa saja foto tersebut lapuk dan lembab bila jarang dibuka. Belum lagi foto akan menempel erat – erat dengan album sehingga sulit untuk dilepas bila kita ingin, misalkan menscan foto tersebut.

Hanya saja akhir – akhir ini saya pikir nilai klasik dari sebuah foto, ko rasanya menjadi hambar jika hanya dilihat di PC. Ada sebuah tradisi yang hilang. Tradisi membuka lembar demi lembar album foto, tradisi mencetak foto dan tradisi membeli album foto.

Berbagai momen yang kita abadikan lewat foto hanya tersimpan dalam berbagai ukuran hard disk. Memang mudah untuk dilihat kembali tanpa harus takut lapuk atau lembab, namun ada satu kebiasaan yang hilang dengan mudahnya kita menyimpan.

Album foto bagi saya masih memiliki “magis” tertentu sebagai media penyimpanan. Magis yang tak bisa diganti dengan hard disk segede apapun. Daya magis yang saya sendiri sulit jelaskan, lebih kepada rasa nilai tradisi yang hilang dalam menikmati kembali momen – momen tertentu lewat album foto.

Album foto, rasanya bagi saya, lebih menawarkan rasa kerinduan, lebih menawarkan kisah klasik, dibanding dengan menyimpan dalam bentuk digital yang sekali jepret, simpan, beberapa kali dilihat kemudian tak pernah ditengok lagi.

Seringnya foto – foto itu memang terlupakan, karena tidak pernah dilihat lagi. Meskipun bisa dibilang foto catatan waktu yang pernah kita lewati.

So, bagi saya, akan kembali mencoba menghidupkan nilai tradisi yang tergerus era digitalisasi ini. Biarlah yang tersimpan di hard disk sebagai cadangan, jika yang dicetak rusak atau hilang.

I Always love the Classic way

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s