Pahami Konteks

Ehmmmm….biar saya menarik napas panjang dahulu sebelum berpikir apa yang akan saya tulis. Saat ini semuanya seakan berserakan dalam coretan – coretan kecil yang belum terkumpul dan tersusun dengan baik. Masih acak – acakan.

Well dapat juga sesuatu untuk ditulis pagi ini. Ini kisah nyata yang terjadi Jumat lalu saat program bahasa Inggris di Radio. Saat itu saya dan rekan saya dari Belanda menjelaskan tentang penggunaan Must dan Have to, dua kata yang bermakna “kewajiban” namun ada sedikit perbedaan dalam maknanya. Must adalah kewajiban yang datang dari diri sendiri, sedangkan have to adalah kewajiban karena satu peraturan atau tuntutan situasi.

Seperti biasa acara berlangsung mulus dan ketika kami memberikan soal practice untuk dijawab pemerhati ( sebutan khas pendengar RSPD Kota Sukabumi ) semuanya berjalan lancar. Beberapa orang memberikan jawaban mereka lewat SMS dalam practice session.

Setengah jam menuju pukul 9 malam, muncullah sebuah pertanyaan di SMS line yang intinya mempertanyakan bagaimana mengetahui terjemahan Must yang bermakna harus dan pasti. Seperti dalam kalimat ” You Must be danny? “. Jika diterjemahkan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ” Kamu pasti danny?”. Secara singkat saya menjawab kalau setelah kata must adalah kata kerja, biasanya diartikan menjadi harus, seperti dalam kalimat “you must go”. Ketika diikuti kata sifat atau kata benda, biasanya diartikan menjadi pasti, seperti dalam kalimat “you must be hungry”.

Namun si penanya malah kebingungan dengan penjelasan ini dan kembali bertanya. Akhirnya kami pun menjawab, bahwa dalam menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya, maka yang harus kita pahami adalah konteks ( isi/tema) dari suatu kalimat. Karena seringkali kita tidak bisa menterjemahkan kata per kata. Ambil praktisnya dalam terjemahan kata per kata google translate ataupun software translator lainnya, sering kita harus mengedit habis – habisan hasil translate karena semuanya menjadi rancu akibat terjemahan kata per kata.

Pemahaman akan konteks suatu kalimat sangat penting. Kalimat “you must go” dan kalimat “you must be sleeping” kedua – duanya diikuti oleh verb setelah must. Jika yang pertama bisa diartikan “kamu harus pergi”, apakah yang kedua menjadi “kamu harus tidur”. Rasanya tidak. Kalimat yang kedua lebih mengena jika diartikan “kamu pasti tidur”.

Memahami konteks sangatlah krusial dalam menerjemahkan suatu kalimat asing, apalagi jika dalam kalimat itu ada disisipkan idiom atau frase.

Si teman dari Belanda akhirnya menyimpulkan sedikit atau bisa dibilang memprediksi kebiasaan si penanya dalam belajar bahasa Inggris. Si penanya, yang mengaku guru bahasa Inggris, disimpulkan seringkali menerjemahkan kalimat – kalimat bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Memang tidak masalah, tetapi terkadang ini akan menimbulkan kerancuan pada diri sendiri ketika terlalu banyak menerjemahkan.

Saya teringat novel 5 menara karangan A.Fuadi yang mengangkat kisahnya selama menjalani pendidikan di pesantren. Dalam novel itu dijelaskan bagaimana metode pengajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris yang menggunakan metode tanpa terjemahan. Disana juga dijelaskan bagaimana satu kata bahasa arab dijelaskan dalam bahasa arab, tidak sedikit pun dalam bahasa Ibu. Hanya dalam beberapa waktu pola pikir para murid dalam berbahasa asing terbentuk. Mereka secara otomatis bisa berbicara bahasa asing, tanpa proses menerjemahkan dahulu dalam otak mereka.

Meski tanpa proses menerjemahkan, karena sudah terbiasa, maka mereka pun tahu makna – makna dari setiap kalimat dan biasanya yang telah terbiasa juga tidak akan mengalami kesulitan dalam menerjemahkan ke dalam bahasa ibu.

Mungkin ini bisa dijadikan alternatif dalam pembelajaran bahasa asing. Jangan menerjemahkan atau jangan terlalu sering menerjemahkan. Pembelajaran bahasa asing membutuhkan lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang mendukung adalah lingkungan dimana bahasa asing menjadi bahasa satu – satunya disitu.

Kemampuan menerjemahkan akan muncul dengan sendirinya karena otak sudah terprogram otomatis dalam mode bahasa asing. Hanya yang diperlukan adalah otak sudah terbiasa dahulu yang lama – lama akan menjadi otomatis berpikir dalam bahasa asing yang salah satu outputnya adalah berbicara dalam bahasa asing.

Terlalu banyak proses menerjemahkan justru akan membuat ribet, karena beban otak ditambah beban otak untuk menterjemahkan. Biasakan ketika belajar bahasa asing untuk berpikir dalam bahasa asing. Bahkan doktrin belajar bahasa asing adalah “bermimpi pun dialognya mesti bahasa asing”.

Biarkan otak lama – lama belajar dan terbiasa sehingga otomatis berproses dalam bahasa asing tanpa menerjemahkan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s