Sisi Lain Gajah Mada

Rasanya setiap warga Indonesia jika ditanya kepada mereka apa yang diketahui tentang kerajaan Majapahit, saya yakin, jawaban yang paling sering muncul adalah Gajah Mada. Mahapatih kerajaan Majapahit pengganti Arya Tadah / Mpu Krewes. Gajah Mada merupakan seseorang yang menapaki tangga karir dari nol. Bermula dari seorang prajurit, kemudian berjasa dalam melindungi Jayanegara pada tahun 1319 Masehi dari pemberontakan Dharmaputra Winehsuka Ra Kuti, hingga diserahi tugas sebagai patih di Daha membantu putri Dyah Wiyat, dan akhirnya menapaki tangga puncak karir sebagai Mahapatih Majapahit.

Selain perintis pasukan Bhayangkara, pasukan elit kerajaan, Gajah Mada selalu diingat dari sejak mula saya belajar di SD sampai dengan sekarang, dengan Sumpah Palapa. Sumpah yang diucapkan, menurut serat pararaton, pada saat Gajah Mada dilantik menjadi Patih Amungkubumi pada 1336 M. Sumpah yang berisi bahwa ia tidak akan menikmati palapa ( rempah – rempah yang diartikan sebagai kenikmatan duniawi ) sebelum bisa mempersatukan nusantara ini selalu diingat sampai sekarang sebagai spirit kesatuan bangsa.

Pria yang tidak diketahui pasti tahun berapa lahirnya ini bisa dibilang begitu diagung – agungkan bahkan saya rasa melebih raja – raja Majapahit sendiri. Maksud diagung – agungkan adalah seakan – akan Majapahit adalah Gajah Mada. Satelit komunikasi Indonesia pun dinamakan satelit palapa.

Semalam saya baru saja menyelesaikan novel Gajah Mada :Tahta dan Angkara karangan Langit Kresna Hariadi. Setelah berbulan – bulan sebelumnya Gajah Mada : Perang Bubat juga rampung saya baca. Ada kesan lain yang saya dapat setelah membaca dua novel ini.

Meski dialog – dialog dalam novel tentunya fiksi, namun alur sejarah tentunya nyata. Gajah Mada diceritakan sebagai seorang visioner, seorang yang bisa berpikir jauh ke masa depan, seseorang yang cerdas, prajurit brilian, dan sanggup memberikan saran – saran yang baik kepada atasannya. Belum lagi ia dikenal seseorang yang sangat berwibawa.

Sisi kegemilangan Gajah Mada yang tertanam sejak saya Sekolah Dasar sampai tadi malam ternyata memudar setelah dua novel itu saya tamatkan. Ia gemilang namun ia pun penuh noda.

Gajah Mada bisa dibilang seorang ahli intelejen. Dengan menggunakan jaringan dipasukan Bhayangkara yang memang mempunyai tugas memata – matai, mengumpulkan informasi yang tersebar dimasyarakat sebagai bahan masukan kepada Sang Raja untuk mempertahankan keutuhan negara.

Jayanegara dibunuh oleh Ra Tanca pada 1328 Masehi. Ra Tanca merupakan anggota pemberontak Ra Kuti yang pada akhirnya kembali menyatu dengan Majapahit. Orang yang dikenal dengan kemampuan medisnya ini, pada satu waktu diminta untuk menyembuhkan penyakit Raja Jayanegara. Menurut beberapa referensi, penyakit yang sedang diderita Jayanegara adalah bisul.

Entah bagaimana, pengobatan tersebut menjadi pembunuhan. Dalam novel disebutkan Ra Tanca memberikan racun yang dengan sekejap mengambil nyawa Jayanegara, tapi ada juga referensi lain yang menyebutkan Jayanegara ditusuk oleh Ra Tanca.

Ketika pengobatan yang berujung pada pembunuhan terjadi, hanya ada 3 orang dikamar Sang Raja. Jayanegara, Ra Tanca, dan Gajah Mada. Gajah Mada yang menyaksikan Rajanya tewas langsung menghujamkan kerisnya ke dada Ra Tanca. Dua orang terbunuh dalam satu peristiwa dengan hanya satu saksi mata yaitu Gajah Mada.

Dalam bagian lain novel, disebutkan salah seorang sahabat Ra Tanca, yaitu Ra Kembar yang sejak lama memendam iri atas kesuksesan karir Gajah Mada mengutarakan “kenapa Gajah Mada tidak mencegah pembunuhan atas Jayanegara terjadi?”.

Memang jika racun yang menjadi senjata maka sulit mengetahui sebelum korban tewas. Namun jika keris yang dihunus, kemungkinan untuk mencegah masih ada.

Dari http://www.sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com dikutip keterangan dari buku Puncak Kemegahan karangan Slamet Muljana pada tahun 1965, bahwa memang Gajah Mada menginginkan pembunuhan itu terjadi. Jayanegara didesas – desuskan sebagai Raja yang senang main perempuan, belum lagi ada kabar bahwa Jayanegara akan menikahi kedua adiknya sendiri yaitu Sri Gitarja dan Dyah Wiyat. Gajah Mada perlu menghentikan nafsu Sang Raja namun ia tidak mau mengotori tangannya sendiri. Tentunya sebagai seorang ahli intelejen ia tahu kebenaran dari suatu isu.

Maka terjadilah tragedi itu. Sebagai saksi hidup, Gajah Mada lah yang paling tahu apa yang terjadi dikamar itu. Ra Tanca sendiri akan menjadi mudah dijadikan kambing hitam karena ia pernah memberontak pada tahun 1319 bersama Ra Kuti.

Sumpah Palapa yang digaungkan sebagai alat pemersatu Nusantara pada akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi Gajah Mada. Karena sumpah inilah yang menghabisi karirnya saat ia dengan ambisius menggelar perang Bubat.

Pelaksanaan sumpah ini sendiri adalah dengan mengajak kerajaan lain untuk tunduk kepada Majapahit. Jika tidak mau tunduk maka harus berhadapan dengan armada perang Majapahit. Well, saya pikir apakah ini sejalan dengan semangat persatuan? Tunduk menyiratkan arti menyerah, pasrah, tak mampu melawan.

Dari beberapa referensi hanya ada satu kerajaan yang tidak ikut kedalam bagian Majapahit yaitu Kerajaan Sunda. Penguasa dikerajaan ini masih punya hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit. Oleh karena itulah Prabu Hayam Wuruk, anak dari Sri Gitarja, tidak berniat mengajak Sunda untuk tunduk kepada Majapahit, karena ada silsilah keluarga yang menyatukan kedua kerajaan ini.

Prabu Hayam Wuruk yang ketika itu masih membujang, ingin segera mendapatkan seorang istri. Hatinya segera menemukan tambatan setelah ia melihat lukisan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Raja Sunda, yang beredar di Majapahit. Konon lukisan ini dibuat oleh seseorang bernama Sungging Prabangkara.

Gajah Mada memanfaatkan kehendak Raja Hayam Wuruk sebagai celah untuk menundukkan kerajaan Sunda. Gajah Mada merasa terganggu karena kerajaan yang ada didepan matanya nyatanya belum menyatu dengan Majapahit.

Lamaran Prabu Hayam Wuruk segera disampaikan kepada kerajaan Sunda, maka berangkatlah rombongan kerajaan Sunda ke Majapahit sebagai jawaban niat baik Hayam Wuruk yang ingin menjadikan Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai permaisurinya.

Pada tahun 1357 sampailah rombongan Raja Sunda ini ke Majapahit. Rombongan ini diterima dipesanggrahan Bubat. Singkat cerita, Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk memaknai pernikahan ini sebagai tanda takluknya kerajaan Sunda. Utusan Raja Sunda sangatlah tidak menerima hal ini dan berselisih dengan Gajah Mada. Prabu Hayam Wuruk sendiri tidak bisa menentukan sikap antar murni menikah dan mempererat tali persaudaraan dan menikah dengan alasan politik.

Belumlah Prabu Hayam Wuruk memberikan kepastian sikap, Gajah Mada mengutus pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat menemui rombongan kerajaan Sunda untuk menyampaikan satu hal, pernikahan akan terjadi hanya kerajaan Sunda harus takluk dan tunduk kepada Majapahit. Kerajaan Sunda menolak hal ini dan kemudian terjadilah pertempuran yang berujung pada terbunuhnya seluruh anggota rombongan Sunda, termasuk Dyah Pitaloka Citraresmi.

Dalam satu referensi, konon Putri sunda ini sempat berkelahi dengan Gajah Mada, dan berhasil melukai Gajah Mada. Meski pada akhirnya sang Putri meninggal dibunuh Gajah Mada, namun Gajah Mada tidak pernah berhasil menyembuhkan luka akibat pertarungan ini. Luka inilah yang menyebabkan Gajah Mada meninggal. Ada referensi lain yang menyebutkan bahwa Dyah Pitaloka Citraresmi bunuh diri untuk membela kehormatan kerajaannya. Ia lebih baik mati daripada harus tunduk kepada Majapahit.

Hayam Wuruk kecewa dengan keputusan Gajah Mada menunggangi niat pernikahan ini untuk menuntaskan sumpah palapa. Gajah Mada akhirnya diasingkan oleh Hayam Wuruk ke Makadipura ( Probolinggo ). Pengasingan Gajah Mada ini dilakukan secara halus oleh Hayam Wuruk dengan menganugerahkan Makadipura kepada Gajah Mada. Meski Gajah Mada tetap menjabat patih amungkubumi Majapahit sampai ia meninggal pada tahun 1364 namun sejak pembantaian lapangan Bubat ia telah mengundurkan diri dari politik kenegaraan.

Gajah Mada yang cemerlang, namun juga pekat oleh noda.

(Mohon koreksi bila ada kesalahan tanggal atau tempat)

sumber:

http://www.wikipedia.org
http://www.dongengkakrico.wordpress.com
http://www.sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com
Novel Langit Kresna Hariadi

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s