Jangan Berhenti Berharap

“Kumaha damang? ibu sehat”. Pertanyaan ini mengawali perjumpaan dengan seorang ibu yang suaminya pernah sama – sama menjalani pengobatan hemodialisa ( cuci darah ). Telah hampir 2 tahun berselang sejak kami masih sama – sama secara rajin setiap minggu pada hari Rabu dan Sabtu mendatangi ruang perawatan Hemodialisa di Rumah Sakit R.Syamsudin,SH ( terkenal dengan nama Rumah Sakit Bunut ) di Kota Sukabumi, tapi persaudaraan itu masih tetap terjaga.

Kami kini terpisah karena satu hal yang sama, perjuangan telah tuntas seiring takdir yang Maha Kuasa memanggil kembali anggota keluarga tercinta. Perjuangan yang tak mudah, perjuangan yang bisa dikatakan mustahil menilik pada kemungkinan untuk sembuh, perjuangan yang terus secara konstan mendera kita dalam sikap pesimis meskipun kita selalu berusaha optimis.

“Angkatan kita sudah meninggal semua”. Lanjut sang Ibu merujuk pada para pasien gagal ginjal yang memiliki jadwal sama dengan kami. Biasanya pada hari Rabu dan Sabtu, almarhum ayah kami dijadwalkan untuk cuci darah pada shift 2 dari pukul 13.00 – 16.00 WIB. Meskipun kadang tidak tentu karena tergantung pada lancar atau tidaknya proses cuci darah pasien pada shift 1 yang dimulai dari pukul 07.00 – 12.00 WIB.

Terkadang proses cuci darah memang tidak lancar. Hal yang biasanya dikeluhkan pasien adalah kram pada kaki atau lengan. Jika kram terjadi biasanya dilakukan perawatan dulu sampai kram hilang. Belum lagi jika mesinnya tiba – tiba error. Masih banyak hal lain yang bisa menghambat kelancaran proses cuci darah baik teknis alat ataupun dari diri pasien sendiri.

Seingat saya ketika itu ada sekitar 6 orang yang satu jadwal dengan kami. Satu per satu menghilang karena waktu telah sampai. Seingat saya, kenangan pertama yang membuat kami makin sadar bahwa kondisi pasien cuci darah sangat dekat sekali dengan kematian adalah ketika suatu hari seorang bapak yang nampaknya keturunan Arab masuk ke ruangan cuci darah diatas tempat tidur diantar dua orang perawat rumah sakit swasta. Ternyata sang Bapak sudah beberapa hari dirawat dirumah sakit swasta, kesadarannya sudah menurun dan menuju koma. Tak lama beberapa hari berselang, kami mendengar bapak keturunan Arab itu sudah tiada.

Saya masih ingat ekspresi wajah istrinya ketika memasuki ruangan cuci darah berjalan bersebelahan tempat tidur suaminya. Kesedihan dan kelelahan terbaca jelas dari raut wajah sang istri. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasakan kepanikan ketika melihat kondisi seperti itu, meskipun kepanikan hanya bergemuruh dihati kami masing – masing.

Kepanikan yang bagai palu godam menghantam hancur keyakinan kami akan adanya peluang untuk sembuh. Walau kami semua, para keluarga, selalu berharap akan ada peningkatan kesehatan dari hari ke hari, meski harapan kami hanya seperti mengais – ngais angin mencoba menangkapnya, gerak tanpa makna.

Hari itu juga saya disadarkan bagaimana kecilnya peluang untuk sembuh pada pasien gagal ginjal kronis. Ketika itu saya belum pernah mendengar ada seorang pasien yang berhasil sembuh. Pun ketika kami check up bulanan ke Bandung, sebelum akhirnya tetap di kota kami, tak pernah ada kabar gembira itu hinggap dibenak kami. Mungkin ada yang mendapat mukjizat untuk sembuh, tetapi sangat jarang sekali. Kata “kronis” adalah sesuatu kenyataan telak yang tak bisa dihindari.

Sempat sebelum menjalani perawatan cuci darah, almarhum ayah kami diharuskan menjalani diet ketat. Setelah sekitar 2 bulan menjalani diet ketat plus obat – obatan, ada setitik cahaya ketika pemeriksaan nuklir kedua menunjukkan fungsi ginjal naik jadi 40 % dari yang awalnya 30 %. Tetapi euforia ini hanya sesaat, mengelabui karena kemudian menukik turun sejalan dengan memburuknya kesehatan ayah kami. Pada satu kesempatan ia menceritakan bahwa setelah naiknya fungsi ginjal ada beberapa larangan yang dilanggar seperti kembali bermain tenis.

Sebuah kewajaran seorang yang menderita gagal ginjal atau penyakit kronis lainnya merindukan apa yang telah menjadi kebiasaan sebelum divonis dan dipasung dalam berbagai aturan yang diberi judul “untuk sembuh”.

Bahkan urusan menyetir pun sudah tidak diperbolehkan, karena dilarang keras untuk lelah. Juga karena tingkat konsentrasi menurun. Pernah ketika ayah menyetir mobil kami “dicolek” bis, yang menurut ibu kami sepertinya ini yang dimaksud konsentrasi menurun. Padahal saya sangat tahu bahwa menyetir apalagi keluar kota adalah selalu menjadi pilihan ayah, meski saya bisa menyetir. Mungkin daripada bosan menjadi penumpang. Namun itu sebelum ada vonis, setelah ada vonis, menyetir adalah sesuatu yang dilarang. Bahkan ketika pertama kali divonis, langsung paman kami menyuruh supirnya untuk mengantar ayah dan ibu pulang ke Sukabumi, padahal awalnya mereka berangkat berdua.

Tapi sesuatu yang dirindukan seringkali menjadi sesuatu yang tak bisa dihalangi. Pernah sepulang cuci darah ayah sendiri yang menyetir, alhamdulillah tak terjadi apa – apa. Bisa jadi karena kesegaran setelah cuci darah berpengaruh pada tingkat konsentrasinya.

Kecilnya peluang untuk sembuh kembali menghentak kesadaran kami, ketika suami si Ibu yang bertemu dengan saya meninggal dunia. Bisa dibilang, suami sang ibu memiliki kondisi bagus dibandingkan dengan pasien lainnya. Saya selalu ingat ketika suaminya sambil menjalani cuci darah mengepal dan meremas bola tenis, karena memang dianjurkan agar, kalau tak salah, menghindari kram pada tangan. Hampir tak pernah ada keluhan dari suaminya ketika sedang cuci darah, paling hanya kram dan itu dialami oleh semua pasien.

Kepergian suami si Ibu tergolong mengejutkan. Sempat dirawat hanya singkat, kalau tak salah, hanya semalam. Dini hari sang suami pergi untuk selamanya.

Belum juga kaget kami surut, kabar duka lain datang. Seorang bapak yang berprofesi sebagai pengajar agama, juga berpulang. Hanya selisih jam. Dua orang pasien pergi untuk selamanya. Memang perubahan drastis ustad itu sangat terlihat. Asalnya segar namun beberapa waktu menjelang kepergiannya tubuhnya terlihat lemas, wajahnya selalu pucat pasi.

Kami cemas karena kenyataan peluang yang mustahil itu terbukti didepan mata. Kami resah karena satu per satu pasien meninggal. kematian adalah hak setiap manusia namun caranya berbeda – beda. Kami khawatir karena sedikit banyak kabar kedua rekan ini akan mempengaruhi mental ayah kami. Meskipun tak sekali pun kami ingin berpisah, tak sekali pun kami membayangkan bagaimana rasanya berpisah, semuanya itu kami tepis jauh – jauh, hanya semangat yang selalu mengisi rongga dada.

Tak lama berselang, ayah kami menuntaskan perjuangannya setelah melewati masa perawatan yang melelahkan. Berkali – kali ia mengutarakan ingin pulang ke rumah, yang membuat kami pada akhirnya menyerah mengikuti keinginan ayah kami dengan berat hati karena bagaimana pun ayah perlu penanganan medis yang terpantau.

Setelah kembali menjalani opname di rumah sakit swasta dekat rumah selama 2 hari, ayah pulang untuk selamanya, menutup perjuangannya meraih kesembuhan.

Sampai saat ini, cuci darah masih menjadi salah satu topik hangat dirumah manakala ada kenalan – kenalan yang terpaksa menjalani cuci darah. Kabar gembira saya dapat ketika seorang teman ibu saya tidak usah menjalani cuci darah lagi sesuai arahan dokter. Namun rupanya ia tidak mengalami gagal ginjal kronis, hanya efek dari darah tinggi yang mengharuskannya beberapa kali menjalani cuci darah. Tapi ia berada dalam diet ketat sekarang dengan menu yang sama seperti yang pernah ayah kami jalani.

Bagi teman – teman yang saat ini tengah menjalani perawatan cuci darah ataupun sedang merawat anggota keluarga, Sekecil apapun peluang jangan surut untuk berharap, semuram apapun masa depan terangi selalu dengan doa. Perpisahan adalah suatu yang pasti terjadi tapi selama waktu tersisa jalanilah dan nikmati dengan segenap hati. Nikmati dan ikhlaskan hati untuk berjuang sehingga ketika perpisahan itu nyata setidaknya kita bisa mengingat bahwa kita tidak hanya berpangku tangan dan menyerah

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s