We Are Enslaved By Machine

Mesin akan memperbudak manusia dimasa depan, benarkah? semalem nonton “kembali” Terminator 2 : The Judgement Day yang memang bercerita bagaimana mesin buatan manusia pada akhirnya melebihi kepintaran manusia dan berusaha melakukan genosida pada manusia. Sehari sebelumnya, meski belum beres nontonnya, Oblivion yang dibintangi Tom Cruise bercerita hal yang sama. Bagaimana mesin bisa membuat kloning manusia, bagaimana mesin bisa menipu seorang Jack Harper ( Tom Cruise ) yang meyakini manusia dihabisi alien dengan nama Scavenger. Padahal Scavenger merupakan kebohongan karena mereka aslinya adalah manusia yang melawan mesin, si pemusnah.

Courtesy of  Universal Pictures
Courtesy of Universal Pictures

Well mungkin terlalu jauh jika kita membayangkan suatu hari kita akan berperang melawan mesin. Bagaimana manusia akan dibumi hanguskan oleh mesin, rasanya hanya akan ada di film – film. Manusia memang berusaha menciptakan artificial intellegence untuk membantu memudahkan kehidupan manusia. Apakah mereka akan overlap dan membunuh sang pencipta? rasanya itu hanya ada diranah sains fiksi jika mesin berubah menjadi Frankestein yang membunuh si pencipta.

Tapi apakah kita diperbudak? rasanya kalau hal ini mungkin – mungkin saja bahkan sangat mungkin. Hari ini kita berhubung semua dengan mesin. Bahkan untuk tugas rumahan hampir semuanya memakai mesin. Contoh kecil cara mencuci dengan kucek – kucek pake tangan sendiri sudah digantikan oleh mesin cuci yang lebih praktis dan ga bikin cape, karena memang itulah hakekatnya ketika manusia bisa relaks sementara mesin menyelesaikan pekerjaan.

Diperbudak bisa dibilang terjajah. Itulah yang hari ini sudah terjadi. Ambillah contoh bagaimana sebuah mesin komunikasi kecil bernama Handphone bisa membuat seseorang asyik sendiri tidak menghiraukan keadaan sekitar. Bahkan saat ini seseorang bisa saja sangat waswas kalau handphone ketinggalan dirumah.

Apalagi produsen – produsen handphone bisa menyentuh sisi dasar manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang selalu ingin terhubung dengan sekitarnya. Munculnya beberapa sosial media yang hari ini bisa diakses melalui handphone juga membuat tingkat kecanduan manusia kepada handphone makin menjadi.

Istilahnya “galau tingkat tinggi” jika saat ini kita ga pegang handphone. Memang pada awalnya handphone ditawarkan sebagai kemudahan berkomunikasi dimanapun kapanpun. Ga perlu cape – cape nyediain uang receh buat ke telepon umum atau pergi ke wartel kalau mau nelepon. Praktis, cenderung lebih murah membuat handphone sebagai suatu kewajiban untuk dimiliki.

Tadinya handphone hanya menawarkan sms dan telepon biasa. Hari ini aplikasi – aplikasi pengganti sms bertebaran seperti BBM, Whatsapp, Wechat, Line yang semuanya menyumbang kepada tingkat kecanduan manusia sama handphone semakin tinggi.

Semakin kita kecanduan semakin kita terjajah. Hati akan gundah jika tak ada handphone, kita bisa merasa kesepian jika ga punya handphone. Bangun tidur langsung lihat handphone, mau tidur ngecek handphone dulu. Disela – sela kerja buka FB, Twitter, Cek BBm membuat kita semakin tidak bisa berpisah dengan handphone.

Inilah saat kita sudah “diperbudak” oleh mesin. Istilah selalu online membuat kita sangat bergantung kepada handphone. Semakin kita tergantung semakin kita tidak menyadari bahwa kita sudah dijajah oleh mesin.

It’s not killing us but yet we are enslaved.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s