My 90’s Soccer Moments

Jamie Carragher, Michael Owen, David Beckham, Paul Scholes bahkan Phil Neville menyatakan musim ini adalah musim terakhir berlaga dilapangan hijau sebagai pemain. Mereka pada akhirnya pasrah pada sebuah siklus usia tua menghalangi kaki – kaki mereka untuk terus memainkan bola. Sepakbola semakin kehilangan para aktor utamanya ketika pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson juga menyatakan pensiun.

I grew up watching this guys. Para pemain itu adalah adiksi saya ketika cinta mulai bersemi pada permainan ini. Sekitar tahun 1997, bola basket yang telah lebih dahulu saya mainkan terpaksa diduakan saat teman – teman di SMP mengajarkan saya sepakbola. Sejujurnya Ibu saya lebih mendorong agar menekuni bola basket seperti apa yang pernah Ibu saya lakukan semasa sekolah menjadi atlit tim sekolah. Kedua olahraga ini berjalan beriringan dan bagaimanapun bola basket sedikit banyak memberi saya dasar ketika bermain sepakbola karena posisi yang saya sukai adalah menjadi penjaga gawang.

Manchester United adalah pengalaman begadang pertama saya. Saat itu ayah saya terpaksa bangun mendampingi kami ( saya dan adik ) menonton fase grup Liga Champions Manchester United musim 1996 – 1997. Peter Schmeichel langsung membuat saya jatuh hati dan mengidolakannya. Secara saya juga seorang kiper. Andreas Koepke, Francesco Toldo, Luca Marchegiani, Giuseppe Taglialatella, Bodo Illgner, Claudio Taffarel, tapi saya tidak terlalu suka Angelo Peruzzi, adalah kiper – kiper yang terkenal pada era 90an. Pada era inilah mereka berjaya.

Begitu banyak momen sepakbola pada masa 90an yang begitu melekat dibenak saya sampai saat ini. Bagaimana Zinedine Zidane begitu digdaya menjaringkan 2 gol kegawang Brazil yang dikawal Claudio Taffarel. Prancis begitu hebat dirumahnya sendiri pada Piala Dunia 1998. Gelandang – gelandang bertahan klasik masih eksis disepakbola seperti Emmanuel Petit dan Didier Deschamp.

Momen 90an yang terekam dibenak saya juga bagaimana Lars Ricken menghunjamkan bola ke gawang Angelo Peruzzi jauh dari luar kotak penalti. Juventus dihantam Borussia Dortmund 1-3, diluar semua prediksi bahwa Juventus yang akan memenangkan piala Liga Champion musim itu.

Momen Piala Dunia 1998 yang juga saya ingat adalah bagaimana Iran berhasil lolos ke Piala Dunia lewat playoff setelah mengalahkan wakil oseania, Australia saat itu. Khodadad Azizi, Karim Bagheri menjebol gawang Mark Bosnich mengantarkan tim Melli lolos ke Piala Dunia Prancis 1998. Saya menyukai ulasan tabloid “BOLA” lewat kata – kata “kaki – kaki pemain Australia mulai kelelahan”. Beberapa pemain Iran yang saya ingat adalah Ali Daei, Ahmed Reza Abedzabeh ( didenda pada gelaran Piala Dunia 1998 karena memakai sarung tangan kanan dan kiri beda merk ), Mohammad Khakpour. Setelah Piala Dunia 1998 Ali Daei, Khodadad Azizi, Karim Bagheri menjalani karier baru di Liga Jerman.

Meski pengalaman begadang pertama kali nonton Manchester United, tapi cinta saya jatuh pada kubu La Viola, Fiorentina. Sosok Gabriel Batistuta, Rui Costa, Francesco Toldo, Moreno Toricelli, Edmundo, Anselmo Robbiati membuat saya cukup intens mengikuti perkembangan Fiorentina meski cinta ini hanya sesaat. Satu gol yang saya ingat dari Fiorentina adalah ketika Gabriel Batistuta menjebol gawang David Seaman di Highbury pada Liga Champion musim 1999-2000. Ketika satu persatu bintang itu meninggalkan Fiorentina, cinta pun memudar, seperti saya bilang ini hanya cinta sesaat yang mudah hilang.

Era 1990an akhir terutama setelah Piala Dunia 1998, bisa dibilang merupakan kebangkitan pesepakbola Asia. Ini ditunjukkan setelah trio Iran bermain di Liga Jerman, seorang pemuda Jepang dengan gaya permainan yang stylish dikontrak Perugia. Hidetoshi Nakata langsung memberikan penampilan memukau pada laga perdananya di Seri A. Gol perdana Hidetoshi Nakata langsung dicetak dalam penampilan perdana melawan Juventus ( kalau tidak salah ingat ). Musim yang menakjubkan bagi pemain ini dari 33 penampilan ia bisa mencetak 10 gol dan beberapa assist menjadikan ia salah satu pemain di Seri A.

Setelah Nakata, pesepakbola Jepang lain yang bermain di Seri A adalah Hiroshi Nanami yang bergabung dengan AC Venezia. Meskipun cukup impresif tapi nasib Nanami tak sebaik Nakata. Ia cuma bertahan setahun di Seri A dan kembali ke Liga Jepang.

Jepang bisa dibilang merupakan salah satu negara yang menyita perhatian pada akhir 1990an. Setelah penampilan di Piala Dunia 1998, Jepang menjadi salah satu negara yang diundang untuk ikut bermain di Copa America. Saya masih ingat Wagner Lopes, striker naturalisasi Jepang asal Brazil, masuk dalam tim yang dilatih Philippe Troussier. Karena posisi kegemaran saya kiper, maka kiper Jepang Yoshikatsu Kawaguchi menjadi idola ( masih ingat Kawaguchi berjibaku menahan gempuran Batistuta, Crespo dkk saat Jepang berjumpa Argentina di Piala Dunia 1998 ).

Kegemaran menyimak sepakbola dunia tidak membuat saya lupa akan Liga Indonesia yang saat itu sempat berganti – ganti nama setelah edisi pertama dan kedua berjudul Liga Dunhill, edisi ketiga liga Kansas dan edisi keempat dan kelima bernama Liga Indonesia, kemudian pada akhir dan menjelang transisi ke era milenium bernama Liga Bank Mandiri.

Saya masih ingat gol Sutiono Lamso, memenangkan gelar juara Liga Dunhil untuk Persib pada musim 1994-1995. Walau tidak intens, paling sering menonton pada saat babak 8 besar ( saat itu masih ada pembagian wilayah ), tapi setiap final Liga saya hampir selalu menonton. Bagaimana sampai Liga Indonesia edisi ketiga, Jawa Barat masih mendominasi lewat Persib dan Bandung Raya. Jangan juga melupakan Persikab, karena meskipun belum pernah jadi Juara tapi kekuatan tim Dalem Bandung ini patut diperhitungkan.

Gol Peri Sandria ke gawang Ansar Abdullah pada final Liga Dunhil II saat Stadion Senayan diguyur hujan lebat masih membekas diingatan saya. Pun begitu kala tendangan Jacksen F Tiago deras menghujam gawang Hermansyah ketika Persebaya Surabaya mengalahkan Bandung Raya untuk menjadi juara Liga Kansas.

Kemudian pada final edisi keempat, lahirlah seorang bintang baru bernama Tugiyo. Striker bertubuh gempal dan pendek namun tajam yang dimiliki PSIS Semarang. Final itu saya ingat juga dengan adanya momen unik kala salah seorang penonton mendapat hadiah mobil Suzuki Taft setelah berhasil menjebol gawang Hermansyah lewat titik penalti.

PSIS yang bermaterikan Ali Sunan, Tugiyo, Agung Setiabudi, Wasis Purwoko, Bonggo Pribadi membalikkan semua prediksi yang lebih menjagokan Persebaya untuk menang pada final itu. Tugiyo mencetak satu – satunya gol pada pertandingan itu dan menjadi bintang baru sepakbola Indonesia. Sayangnya setelah momen final itu, Tugiyo perlahan memudar.

Kekecewaan juga pernah saya rasakan saat timnas Indonesia gagal meraih medali emas dalam final Sea Games 1997 setelah kalah dalam adu penalti melawan Thailand di Jakarta. Ronny Wabia dan Uston Nawawi gagal menjebol gawang Thailand dan melayanglah harapan meraih emas dinegeri sendiri.

Momen sepakbola dalam negeri pada era 1990an jangan juga melupakan wonderful goal Widodo C Putro ke gawang Kuwait pada Piala Asia 1996. Gol bicycle ini kick juga menjadi gol terbaik pada Piala Asia 1996. Gol kedua Indonesia pada pertandingan yang berakhir 2-2 itu dicetak Rony Wabia pun lewat cara yang tidak kalah membuat kagum.

Oh satu hal pada akhir 1990an, Sekolah Sepakbola ( SSB ) juga mulai tumbuh dan berkembang dimana – mana. Saat itu saya melihat kepopuleran sepakbola menjadikan sebuah gairah baru bagi anak – anak tanggung (disebut remaja belum, anak – anak juga tidak). Tim – tim disekolah – sekolah terbentuk bahkan di SMP tempat saya sekolah pun akhirnya dibentuk ekstrakulikuler sepakbola setelah sebelumnya hanya fokus pada basket. Disinilah era , dalam pandangan saya, sepakbola mulai disukai banyak remaja yang sebelumnya fokus pada NBA. Walau pada akhirnya perkembangan kedua olahraga ini dalam pergaulan berjalan beriringan.

Begitu banyak momen sepakbola dalam dan luar negeri yang terekam diotak pada era itu. Sebagai seseorang yang baru saja jatuh cinta pada permainan bola sepak ini, saya haus akan segala informasi tentang sepakbola. Istilahnya pencarian jatidiri sebagai penikmat sepakbola. Cinta ini pula yang sempat membuat saya bercita – cita menjadi pemain sepakbola meskipun urung terjadi.

Sampai sekarang, mungkin juga susah move on hehe, manakala saya bermain gim managerial sepakbola saya selalu mencari – cari pemain angkatan 90an yang lekat dalam benak saya ketika cinta ini tumbuh. Kesan pertama selalu melekat dan itulah yang terjadi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “My 90’s Soccer Moments”

  1. Pemain yang paling sering mengikuti piala dunia adalah sebanyak 5 kali yang dipegang oleh Antonio Carbajal (1950, 1954, 1958, 1962 , dan 1966) dan Lothar Matthäus (1982, 1986, 1990, 1994, and 1998). Lothar Matthäus menjadi pemain paling sering bertanding yaitu sebanyak 25 kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s