Timnas : Anak Negeri yang Terlupakan

Mungkin jika saya menulis ini merupakan yang kesekian kalinya setelah perdebatan didunia maya, beberapa tulisan yang menyinggung segelintir sikap warga negara Indonesia yang “belot” dengan alasan “kami hanya cinta permainannya” atau “kami hanya penikmat sepakbola indah” dan alasan – alasan lain yang mewarnai pertemuan pertama Indonesia – Belanda dilapangan hijau.

Sungguh pada awalnya ini tidak terlalu menarik bagi saya untuk ditumpahkan disini. Karena saya sadar masih ada sikap – sikap segelintir penikmat sepakbola yang skeptis pada sepakbola dalam negeri dan tak jarang memang sedikitpun tidak pernah menyukai sepakbola anak negeri. Hanya saja setelah melihat satu tayangan ulasan pertandingan Indonesia – Belanda kemarin, ketika ditayangkan warga negara Indonesia yang dengan bangga, catat dengan bangga, datang ke stadion GBK dengan memakai atribut Belanda untuk mendukung tim Oranje, maka ini menjadi sesuatu yang menggelitik dan menggairahkan untuk ditulis.

Saya tak akan berbicara nasionalisme, karena belum tentu juga saya kental dengan semangat nasionalisme, hanya saja sebagai pencinta timnas dan liga Indonesia, perasaan miris tentunya ada dihati saya. Bagaimana mungkin masih ada orang yang mencintai timnas negara lain padahal negara itu pernah menjajah Indonesia ? Meskipun proklamasi telah dikumandangkan namun negara itu tetap berusaha mencaplok nusantara? Bagaimana mungkin?!!.

Alasan itu sebuah masa lalu, memang benar. Juga para pemain Belanda bukanlah penjajah seperti nenek moyangnya, bisa dibenarkan juga. Tetapi jika orang Indonesia lebih memilih mencintai dan mendukung negara lain yang mereka sendiri tidak ada kaitan darah dan leluhur, hal tersebut, bagi saya sangatlah janggal.

Bahkan ketika gol demi gol bersarang digawang Kurnia Meiga, tak sedikit penonton Indonesia yang bersorak kegirangan. Seakan mereka “berhak” atas kegembiraan itu. Mungkin mereka bersorak karena pemain favorit mereka Arjen Robben bisa membuktikan kemampuanna setelah buntu hampir sepanjang pertandingan.

Rasanya dalam benak mereka yang mendukung Belanda, tak akan ada perasaan penasaran dan keinginan melihat gocekan Boaz, determinasi Greg dan tajamnya shooting SVD menggoyahkan pertahanan Belanda. Padahal mereka Indonesia sejak lahir.

Terbayang dalam benak saya, jika ditanyakan kepada mereka kenapa tidak mendukung Indonesia? rasanya jawabannya sudah terbayang. Liga Indonesia berantem mulu, ga mutu, timnas kalah mulu dan alasan – alasan negatif lain. Meskipun sudah ada kemajuan dalam liga Indonesia, juga kini timnas dipenuhi pemain berbakat dan menuju proses kestabilan,sampai membusa pun fakta – fakta ini tak akan menggoyahkan pemikiran negatif mereka terhadap sepakbola dalam negeri. Peribahasa “hujan emas dinegeri orang masih lebih baik hujan batu dinegeri sendiri” sudah tak berlaku. Bagi mereka “rumput tetangga akan selalu walaupun bagaimana tetap akan lebih hijau”.

Sepakbola Indonesia memang masih berbenah masih banyak kekurangan disana – sini. Kenyataan bahwa kini sepakbola Indonesia sudah tidak ada lagi dihati sebagian penikmat sepakbola yang tinggal dan lahir dinegara ini, membuktikan bahwa belum sepenuhnya sepakbola Indonesia menjadi tuan rumah dinegara sendiri.

Beberapa waktu lalu, teman – teman saya yang gila bola dan sama – sama pernah satu lapangan bertanya “kenapa sih suka – suka amat sama Liga Indonesia?“. Jawaban yang saya berikan pada dua pertanyaan yang diajukan dua orang dan pada waktu berbeda itu sama yaitu adanya keterikatan emosi. Pada tulisan My 90’s Soccer Moment, cinta saya pada permainan sebelas lawan sebelas ini memang berawal dari begadang nonton liga Eropa, tapi seiring waktu semuanya luntur, karena apa yang terjadi di dalam negeri lebih menarik hati saya. Saya bisa kecewa, marah, dan kesal ketika timnas kalah, bahkan bisa bertahan melebihi waktu normal pertandingan 90 menit. Saya bisa kehilangan semangat ketika Persib kalah. Semuanya mengikat satu dalam emosi saya, dan ketika perasaan sudah terbalut rasa cinta akan lekat.

Bagi saya kiprah klub – klub Indonesia di Liga Champions Asia dan AFC Cup lebih menarik untuk diikuti dibandingkan siapa yang menjadi juara liga champion Eropa. Lebih menarik melihat gocekan – gocekan pemain kita dibanding melihat skill pemain Eropa.

Banyak yang menertawakan saya karena suka sepakbola dalam negeri tapi tak sedikit pun saya kehilangan perasaan suka sepakbola dalam negeri. Dorongan kuat untuk begadang seperti dulu kala kini sudah hilang. Memang saya masih menonton beberapa pertandingan Eropa dan mengikuti berita sepakbola luar negeri untuk wawasan, tapi ya datar – datar saja, tak ada emosi. Ketinggalan pertandingan pun ga masalah.

Saya ingat satu waktu teman saya yang tidak pernah nonton Liga Indonesia berkata ” gila ada gol kaya gitu juga di Liga Indonesia”. Ekspresi kagetnya ketika tidak sengaja menonton gol Boaz Solossa dan Nelson Alom ke gawang Sriwijaya yang diciptakan dengan cantik dan dengan cara tidak biasa. Satu komentar saya hanya “gol – gol yang ada diliga Eropa juga ada di liga Indonesia”.

Memang saya akui, fakta belum bagusnya prestasi timnas Indonesia sangat berdampak pada rasa memiliki seperti yang terlihat pada pertandingan Indonesia lawan Belanda kemarin.

Hanya satu saja ternyata apa dibawa Belanda saat menjajah kita dahulu masih sangat lekat di Indonesia yaitu ketika kita lebih membanggakan dan mendukung negeri orang daripada negeri sendiri.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Timnas : Anak Negeri yang Terlupakan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s