Fail and succeed

Jika diberikan penilaian sejak musim 2009/2010 sampai sekarang, musim mana yang menunjukkan transfer Persib mencapai sebuah predikat bagus bahkan untuk beberapa pemain bisa dibilang sukses, rasanya musim ini 2012/2013 bisa mendapat predikat itu.

Persib musim ini mengontrak Muhammad Ridwan, Supardi, Firman Utina dari Sriwijaya FC. Asri Akbar dan I Made Wirawan dari Persiba, Aang Suparman dari Persibo, Shahar Ginanjar dari Pelita Bandung Raya, Serginho Van Dijk dari Adelaide United, plus legiun asing Mbida Messi, Kenji Adachihara, Herman Dzumafo dan Naser Al-Sebai.

Para pemain ini melengkapi pemain yang dipertahankan oleh manajemen yaitu Cecep Supriatna, M.Agung Pribadi, Jajang Sukmara, Hariono, Airlangga, Abanda Herman, Atep, Tony Sucipto, Rizky Bagja dan Sigit Hermawan. Amunisi ini kemudian diperbaharui ketika tengah musim Persib menukar pinjam Hilton Moreira dengan Herman Dzumafo.

Sejauh ini kehadiran empat pemain anyar, Serginho Van Dijk (SVD ), M.Ridwan, Supardi, Kenji Adachihara, bisa dibilang mendapat predikat bagus dalam artian mereka mampu mempertahankan konsistensi permainan. SVD telah membuktikan bahwa ia layak mendapatkan tempat di lini depan Persib. M.Ridwan merupakan pemain tengah yang paling produktif dengan 10 gol dan beberapa assist. Supardi tidak tergantikan dilini belakang Persib dan masih mampu menunjukkan permainan memukau seperti di Sriwijaya FC, sedangkan Kenji meskipun banyak sekali baru bermain dibabak kedua namun kehadirannya lebih layak sebagai starter dan lebih cocok untuk disandingkan dengan SVD dibandingkan dengan Herman Dzumafo atau Hilton Moreira.

Berbicara tentang transfer yang sukses tentunya disisi lain ada juga transfer yang gagal selama beberapa musim terakhir. Memang yang menjadi bahan kritisi salah satunya adalah pola perekrutan pemain oleh manajemen diluar dalam 3 musim terakhir Persib selalu bergonta – ganti pelatih.

Musim ini pemain yang masuk dalam kategori gagal berkembang adalah Herman Dzumafo. Pria asal Kamerun ini seolah kehilangan sentuhan mautnya. Jika di PSPS dan Arema bukan hanya sebagai targetman, sering juga Dzumafo menjadi inisiator serangan. Bola begitu lekat dikakinya, punya penetrasi yang baik, namun semua itu seakan menguap semenjak ia bersama Maung Bandung.

Soal striker musim sebelumnya pun, penyerang asal Ghana, Moses Sakyi menjadi pemain yang harus angkat koper pertengahan musim. 3 gol yang ia cetak tak mampu mengamankan posisinya diskuad Persib. Memang sebagai target man, Sakyi kurang tangguh dan seringkali kehilangan peluang – peluang matang.

Perekrutan pemain yang gagal pun terjadi pada musim 2010/2011 saat Pablo Frances menjelang putaran kedua dipinjamkan ke “saudara tua” Persib, tim dalem Bandung Persikab. Pablo Frances yang begitu memikat saat bermain dengan Persijap, kehilangan finishing touchnya selama membela Persib. Ketidaksabaran manajemen akhirnya membuat Pablo harus angkat kaki dan bahkan sampai sekarang striker asal Argentina ini belum berkarier kembali di Indonesia.

Duo Singapura, Baihakki Khaizan dan Shahril Ishak, juga menjadi transfer gagal Persib pada musim 2010/2011. Baihakki Khaizan yang sebelumnya membela Persija juga tidak bisa menemukan performa yang bagus selama di Persib. Padahal ia digadang – gadang menjadi “menara kembar” dilini pertahanan bersama Abanda Herman. Sedangkan Shahril sebagai gelandang sama ceritanya seperti Baihakki, gagal mencapai performa yang baik dalam beberapa penampilan membuat ia dan Baihakki harus mengalami pemutusan kontrak.

Harus diakui bahwa selama ini manajemen belum sepenuhnya memakai pola yang jelas dalam perekrutan pemain. Hal ini menambah fakta bahwa pemain biasanya telah disediakan terlebih dahulu baru kemudian pelatih dikontrak. Ada satu contoh yang baik yang bisa dikembangkan manajemen adalah pola perekrutan pemain yang dilakukan Barcelona. El Barca merekrut pemain yang sesuai dengan filosofi gaya permainan mereka.Pelatih boleh berganti namun DNA Total Football tetap dipertahankan.

Ini merupakan pekerjaan rumah manajemen dalam membangun skuad dari musim ke musim. Jika Barcelona mempunyai gen total football, sebenarnya Persib pun memiliki gen permainan umpan satu dua dari kaki ke kaki. Filosofi permainan mutlak diperlukan karena akan memberikan arahan yang jelas pada tipe pemain bagaimana yang harus dikontrak.

Penampilan skuad Persib musim ini terbilang baik. Kesalahan dengan membongkar skuad setiap musim berganti harus dirubah. Musim depan rasanya skuad ini masih layak dipertahakan, kalaupun ada perubahan paling hanya dalam skala kecil saja. Musim ini meskipun target juara sudah mulai samar, tapi sebaiknya manajemen segera merevisi target Persib yaitu AFC Cup dengan menjadi runner up.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s