Pemain = korban

Dalam pemikiran sederhana saya sebuah kompetisi merupakan sinergi antara pengelola kompetisi, federasi, klub dan juga para pemain sepakbola yang menjadi aktor utama dalam sebuah kompetisi. Hanya saja saat ini, ketika Indonesia mempunyai 2 liga teratas namun memiliki 1 masalah yang sama yaitu finansial, sang aktor utama-lah yang menjadi pesakitan.

Bagaimana Irfan Bachdim yang tidak menerima gaji berbulan – bulan dan memilih hengkang untuk bermain di Liga Thailand bersama Chonburi FC, sempat dihalang – halangi kepindahannya oleh Persema Malang yang menunggak gaji Irfan Bachdim. Bagaimana musim lalu para pemain ISL sempat melakukan aksi duduk dilapangan ketika kick off sebagai aksi prihatin masih banyak pemain yang belum menerima hak gaji dari klubnya. Lalu adanya rasionalisasi gaji di IPL merupakan bukti bahwa aktor utama tidaklah selalu menjalani nasib beruntung.

Musim ini di ISL ada dua klub yang mengalami masalah finansial. PSPS Pekanbaru dan Persiwa Wamena. Masih ada klub lainnya namun dua klub ini paling kentara menunjukkan napas tersengal – sengal berusaha bertahan hidup menjalani sisa kompetisi. PSPS ditinggal banyak pemain utamanya, kekalahan demi kekalahan dengan margin gol besar terus mereka rasakan sebagai tanda semangat juang sudah tak ada lagi. Persiwa Wamena sempat menjalani pertandingan away dengan 7 orang pemain diatas lapangan saja, imbas tak ada uang yang cukup.

Permasalahan finansial ini kembali menghadirkan cerita pilu ketika 11 pemain PSMS Medan melakukan aksi demonstrasi ke PSSI untuk meminta bantuan PSSI menekan PSMS agar mau membayar hak mereka. Berhari – hari mereka menduduki kantor PSSI menyambung hidup dengan uang seadanya. Sayangnya aksi mereka ini ditanggapi dengan cara yang “kejam” oleh PSSI. Bahkan terakhir ketua Komisi Disiplin PSSI, Hinca Panjaitan, mengancam para pemain ini dengan sanksi karena menganggap aksi ini buruk dan tidak sportif. Bahkan CEO PT.Liga Indonesia,Joko Driyono, menanggapi aksi ini dengan dingin dan berkata bahwa jika mereka mencintai profesi mereka, terus saja bermain sepakbola meski gaji tidak turun – turun.

Sungguh ini sudah diluar logika. Tanggapan – tanggapan ini sudah tidak lagi menghormati hak – hak pemain. Ungkapan pemain adalah sapi perah, jika melihat apa yang terjadi pada beberapa kasus yang belakangan terjadi adalah suatu kebenaran. Bagaimana pemain dipaksa bungkam meskipun tuntutan mereka benar.

Ini juga menunjukkan bahwa ada beberapa kelemahan dalam sistem pengikatan kerjasama antara pemain dan klub. Salah satunya adalah masih rendahnya pemahaman pemain terhadap isi kontrak mereka. Padahal karena ini ikatan kerjasama resmi dan sah bisa saja para pemain yang tidak digaji berbulan – bulan bisa saja menempuh jalur hukum. Hal ini juga bisa juga diakibatkan pihak klub tidak mencantumkan jaminan kepastian hukum jika klub tidak bisa memenuhi haknya kepada pemain.

Mungkin juga sebagai “aset” PSSI para pemain ini harus dijamin keberadaannya oleh PSSI selama mereka masih aktif bermain, karena tanpa mereka liga akan mati. PSSI harusnya bisa memberikan sanksi tegas kepada klub – klub yang terbukti memiliki masalah finansial dan tidak membayar gaji pemainnya dari musim ke musim. Sanksi bisa mulai dari pengurangan poin atau sampai didiskuafikasi dari kompetisi. Negara- negara lain sudah menerapkan peraturan klub yang ikut kompetisi harus sehat secara finansial, bahkan di Eropa ada klub yang didegradasi karena bangkrut. Karena dari musim ke musim ada klub yang sudah megap – megap bertahan tetapi terus – terusan belanja pemain bahkan pemain asing tanpa tahu bagaimana membayar.

Selama ini PSSI dan klub adalah pihak yang paling aman dalam situasi seperti ini. PSSI tidak memberikan sanksi kepada klub, klub juga tidak mempunyai itikad baik untuk melunasi gaji para pemain. Ketiadaan sanksi membuat manajemen klub bisa terus – terusan bersikap tenang meski dapur para pemain tidak mengepul lagi.

Sepakbola di Indonesia belum bisa memberikan sebuah jaminan masa depan bagi para pemain. Hanya segelintir yang bisa tenang – tenang karena gaji lancar, tetapi banyak yang masih berusaha keras berpikir bagaimana cara menyambung hidup.

Bergabung dengan asosiasi pemain juga rasanya belum bisa memastikan gaji akan lancar dan hak – hak yang belum terbayar bisa tuntas. Karena apakah asosiasi pemain punya kekuatan untuk menuntut klub dan PSSI?? rasanya belum punya.

Saya jadi ingat, bagaimana seorang presiden asosiasi pemain Indonesia, masih dapat bermain dengan tenang sedangkan wakil presidennya sampai saat ini masih berusaha menuntut haknya yang belum diterima. Dalam hemat saya ini adalah tanda ada ketidakkompakan dalam asosiasi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s