Happy Ramadhan

Hari kedua Ramadhan. Geliatnya masih lebih kepada malas karena masih berusaha beradaptasi memulai pagi tanpa secangkir kopi. Meskipun semangat tidaklah datang dari segelas kopi hitam, namun tanpa disadari inilah yang sudah mengakar pada pencinta kopi, bahwa kalau belum ngopi rasanya badan akan lemes, males ngerjain apa – apa.

Ingatan saya kembali ke 15 tahun yang lalu, jauh sebelum kehidupan sebagai penikmat kopi dimulai, ketika saya dan teman – teman selalu mengisi pagi – pagi dibulan Ramadhan dengan bermain sepakbola. Memang tidaklah menggunakan lapang dengan ukuran normal karena tidak ada lapang seperti itu dilingkungan kami, kami hanya memanfaatkan lapang Volly yang difungsikan sebagai lapang multifungsi. Selain bola Voli, sepakbola dan basket juga dimainkan disitu, pokoknya permainan yang ada bolanya.

Kami biasa memulai dari jam 06.30 sampai sekira 07.15 atau bahkan 07.30. Kebetulan waktu sekolah pada bulan Ramadahan selalu dipotong menjadi lebih cepat. Masuk lebih siang dan pulang lebih cepat. Kami terbiasa bermain setelah kuliah subuh, alih – alih pulang ke rumah lebih baik memeras keringat dahulu.

Tentunya keringat biasa berujung pada rasa haus karena cairan dalam tubuh menipis. Namun percaya atau tidak, rasa haus itu ada tetapi jarang diantara kami yang harus jebol puasanya. Kalaupun jebol ya mungkin karena alasan yang lain bukan karena sepakbola. Rasa haus itu akan hilang sendirinya,karena apa yang kami lakukan yaitu bermain sepakbola merupakan sesuatu yang kami inginkan dan sesuatu yang menyenangkan.

Hati akan menentukan semuanya. Rasa lelah, haus, lapar semua bisa diatasi jika hati kita kuat dan hati kita memang mau menempuh apapun meski tubuh kehausan dan kelaparan. Mengapa hati? karena sumbernya ada disitu. Kita malas biasa diawali dari hati, kita rajin, puas, sedih semua bersumber dari hati. Jika hati kuat,senang, bahagia, ceria maka semua pun akan menjadi mulus.

“Shaum itu untuk menguatkan bukan untuk membuat lemah” Ini sudah biasa didengar atau disimak. Tapi ketika diucapkan oleh seorang muslim yang bermain untuk satu klub Eropa dan tetap berusaha menunaikan shaum, tentunya menjadi istimewa. Frederic Kanoute semasa bermain untuk Sevilla sering melaksanakan shaum sambil menjalani tugasnya sebagai pemain sepakbola. Dia tidak khawatir akan kesulitan untuk menjalankan shaumnya karena bermain sepakbola tentunya menguras fisik dan emosi. “It’s about the Faith”, itulah kalimat lanjutan dari Kanoute yang membuatnya tetap bisa menjaga shaum meski menjalani pertandingan yang berat.

Kisah pesepakbola yang tetap bermain meski shaum pun datang dari Nicholas Anelka yang sekarang bergabung bersama West Bromwich Albion, Eric Abidal dan Franck Ribery. Semuanya menyebut tidak terlalu menjadi masalah ketika harus bermain sambil berpuasa.

Demba Ba pernah dikritik oleh Alan Pardew di Newcastle karena menurutnya Demba Ba memulai pertandingan dengan lambat dan dalam pandangannnya itu karena Ba sedang berpuasa. Namun bagaimanapun Demba Ba tetap menjalankan puasanya, karena masalahnya bukanlah pada puasa yang sedang dijalankan oleh Demba Ba.

Kisah bagaimana pesepakbola tetap berpuasa juga pernah saya dengar ketika Maroko bermain di Olimpiade London tahun lalu. Sembilan pemain memutuskan tetap berpuasa selama bermain. Keturunan Maroko yang banyak bermain di Liga Belanda memutuskan untuk tetap menjalankan puasa meski harus bertanding.

Meski ada fatwa ulama Jerman yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa ketika matchday, tetapi nyatanya lebih banyak pemain yang tetap menjalankan puasa pada saatnya bertanding.

It’s all about the faith.Kembali kepada keimanan kita. Jika dalam hati kita menyatakan mampu, kuat, bisa, maka segala suatu tantangan apapun bisa diterabas. Bulan Ramadhan bukanlah bulan untuk penurunan produktifitas. Justru peningkatan produktifitas. Jangan karena tidak makan minum disiang hari lantas membuat kita enggan untuk melakukan segala sesuatu. Kita tidaklah berlarian mengejar bola selama 90 menit, kita tidaklah terjatuh karena tackling lawan, kita tidaklah harus menahan emosi saat lawan memaki – maki kita, kebanyakan dari kita hanya duduk dibelakang meja, berhadapan dengan komputer dan jarang berkeringat.

Ehm jika para pemain itu tetap kuat, kenapa jam sekolah dan kerja harus dikurangi juga? hehe…anyway selamat Ramadhan selamat melaksanakan shaum.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s