Tentang SAD Indonesia

Sebenarnya sudah cukup lama hati ini bertanya – tanya bagaimana nasib para pemain itu. Ditempa diluar negeri, berbilang tahun jauh dari orang tua dan rumah, setelah bertahun – tahun ditempa, mereka yang telah dianggap “lulus” kemudian mencari kehidupannya sendiri, mencari lapangan hijau lainnya.

Dari beberapa nama ada yang cukup beruntung, karena manajemen mengirimkan mereka untuk berkiprah diklub luar negeri yang masih dimiliki juga oleh orang Indonesia. Tetapi sejauh mana mereka mampu bertahan, rasanya jawaban itu harus terus dicari. Bertahan bukan hanya sekedar menjadi bagian sebuah tim dalam waktu yang lama, tapi apakah si pemain mampu menjadi pemain reguler, mengisi starting line up setiap pertandingan.

Saya sedang berbicara tentang SAD Indonesia yang berkompetisi di Uruguay. Tim yang dibentuk pertama kali pada tahun 2008 ( menurut situs http://www.sad-indonesia.com ) berisikan 25 pemain dengan rentang usia 15 – 16 tahun untuk mengikuti kompetisi U-17 Uruguay. Bukan hanya sekali tetapi secara kontinyu, karena sampai saat ini pun SAD Indonesia yang berganti nama menjadi “Deportivo Indonesia SAD” masih mengikuti kompetisi U-17 dan U-19 di Uruguay.

Pada kompetisi U-19 musim 2011, SAD Indonesia menempati posisi ke-7 diakhir kompetisi pada Torneo de Honor yang diikuti 16 klub Uruguay. Sedangkan untuk Torneo de Honor U-17 pada musim yang sama, Indonesia menempati peringkat 5. Musim selanjutnya, pada Campeonato Uruguay U-19, SAD Indonesia yang sudah menggunakan nama Deportivo Indonesia, hanya mampu menempati posisi 22 diakhir kompetisi dengan 9 kemenangan, 4 draw dan 16 kali kekalahan pada kompetisi yang diikuti 31 klub. Sedangkan Deportivo Indonesia U-17 dimusim yang sama bisa menempati posisi 19 pada Campeonato Uruguay U-17 dengan raihan 9 kemenangan, 8 imbang, dan 12 kekalahan.

Publik Indonesia akan mengingat penampilan anak – anak SAD Uruguay ketika tampil diajang kualifikasi Piala Asia U-19 pada tahun 2009. Kualifikasi yang diselenggarakan di Stadion Jalak Harupat Bandung pada bulan November ini, ternyata masih jauh dari ekspektasi publik Indonesia, mengingat Syamsir Alam dkk telah menjalani satu musim di Uruguay. Indonesia kalah 2 kali dari Singapura dan Jepang. Meraih 2 kemenangan atas Taiwan dan Hongkong serta menahan imbang Australia.

Meski gagal karena hanya menempati peringkat 3 diklasemen grup, terus gagal pula mendapatkan predikat peringkat 3 terbaik, namun secercah harapan ada kala melihat penampilan Syamsir Alam, Yuwanto Benny, Yericho Christiantoko, Alan Martha dan yang lainnya. Mereka punya kemampuan dan bakat yang bisa diandalkan oleh Indonesia. Pun ketika Syamsir Alam, Manahati Lestusen, Abdulrahman Lestaluhu dan Zainal Haq diakhir masa bermain mereka dengan SAD Uruguay sempat dipinjam oleh Penarol U-19, merupakan sebuah harapan segar bagi masa depan Indonesia. M.Syaifuddin, Firmansyah Feri juga dipinjam Universidad de Concepcion Cili pada 2012.

Sebagian besar pemain ini kemudian kembali lagi ke Indonesia. Hanya beberapa yang masih bertahan diluar negeri. Alfin Tuasalamony, Abdulrahman Lestaluhu, Zainal Haq, Manahati Lestusen bermain untuk CS.Vise di divisi 2 Belgia. Sedangkan Syamsir Alam dipinjamkan ke DC United, klub Major League Soccer yang dimiliki sahamnya oleh pengusaha Indonesia, Erick Thohir.

Di Indonesia untuk musim ini, Rizky Pellu dan Dolly Gultom bisa dibilang lulusan paling dikenal karena menjadi andalan Pelita Bandung Raya. Bisa dibilang dua lulusan SAD ini bergabung disaat yang tepat sebab PBR sebagai klub baru di Liga Super Indonesia ( LSI ) banyak bermaterikan pemain – pemain muda. Dolly Gultom sudah reguler sejak awal musim, sedangkan Rizky Pellu diawal – awal masih menjadi bayang-bayang Dane Milovanovic. Keluarnya gelandang bertahan Australia ini menjadi blessing in disguise bagi Rizky Pellu karena ia mulai bermain reguler dan menunjukkan bakatnya.

Musim sebelumnya 2011/2012, Yuwanto Benny memperkuat Arema ISL, namun hanya setengah musim namanya muncul dan bermain dibeberapa pertandingan. Usaha survival Arema yang kala itu nyaris terdegradasi malah ikut menenggelamkan nama kiper muda ini. Sementara kompatriotnya semasa bermain di SAD Uruguay, Tri Windu Anggono, sempat bermain di Persis Solo musim 2011/2012 di divisi utama. Musim ini Tri Windu bergabung bersama Gresik United, namun masih menjadi cadangan Herry Prasetya.

Nasib menjadi cadangan pun dirasakan Yericho Cristiantoko dan Yandi Munawar Sofyan di Arema. Tercatat Yericho baru bermain satu kali musim ini. Sementara Yandi yang baru bergabung diputaran 2 belum bermain sekalipun ditim senior dan menurut wearemania.net masuk ke Arema U-21.

Tercatat ada beberapa nama yang menurut situs http://www.sad-indonesia.com bergabung dengan klub – klub LSI. Muhammad Lestaluhu, Priyatna Firmansyah bermain untuk Persija, M.Syaifuddin bermain untuk Pelita Bandung Raya, Ferdiansyah bermain bersama Persita Tangerang, Ricki Barde Leurima bermain untuk PSPS. Tapi saya sampai saat ini belum mengetahui apakah pemain – pemain ini bermain reguler atau tidak. Mungkin juga bermain di Liga Super Indonesia U-21.

Sementara kabar pemain lain adalah Reffa Money bermain untuk Persis Solo musim 2011/2012 sedangkan Taji Prashetio bermain untuk Persikad Depok di divisi utama musim 2012/2013. Alan Martha musim kemarin bergabung bersama Persija, tetapi musim ini, belum didapatkan data dimana ia bermain.

Tentunya nasib menjadi cadangan bukan hanya dialami oleh lulusan SAD yang bermain di LSI tetapi juga rekan – rekan mereka yang masih bergabung bersama klub – klub luar negeri merasakan hal yang sama.

Jika seperti itu, muncul pertanyaan dibenak saya, apakah para pemain ini mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan iklim sepakbola Indonesia??. Meskipun jika menyoal cadangan atau reguler, memang semua tergantung kepada keputusan pelatih masing – masing. Hanya saja seperti ada kesan para pemain ini tidak “siap pakai”, karena juga bisa disebut kalah bersaing dengan para pemain lokal yang dibina di Indonesia.

Ini juga disebabkan karena tidak adanya sebuah kebijakan dari PSSI yang tidak memberikan kompetisi yang ketat bagi para pemain muda. Liga Super Indonesia U-21 masih terkesan digelar asal – asalan, diselenggarakan secara terburu – buru dan tidak menyajikan sesuatu yang kompetitif karena masih dibagi menjadi beberapa wilayah.

Meski proyek SAD Indonesia didanai oleh pribadi, namun setidaknya PSSI mesti menjaga keberlanjutan dari program ini selepas para pemain lulus dari SAD Indonesia. Caranya bisa dengan kebijakan pemain muda di klub atau membuat sebuah kompetisi yang ketat dan kontinyu.

Jika mereka dibiarkan begitu saja pun juga para pemain muda Indonesia lainnya yang tersebar diberbagai klub di Indonesia tidak dikumpulkan, ditata, diuji dalam sebuah kompetisi yang menantang dan berkesinambungan, mereka akan mudah hilang. Adanya proyek SAD Indonesia tentunya bukan hanya menyekolahkan beberapa anak Indonesia di Uruguay, tetapi seyogyanya PSSI bisa mencontoh kompetisi muda yang menjadi ajang pembinaan para pemain muda Indonesia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s