Jangan Lagi Belajar Merangkak..Tapi Melompat

Ketika gol demi gol hingga menumpuk menjadi 7 gol ke gawang Kurnia Meiga, hanya kekesalan yang bisa mengiringi tatapan kosong dihadapan layar kaca. Pola permainan tidak jelas, tidak ada kesabaran, ketika tertinggal serangan selalu dipaksakan datang dari sayap bahkan setelah Serginho Van Dijk ( SVD ) ditarik keluar menit-50.

Mungkin para pemain Indonesia Dream Team ( IDT ) silau dengan nama – nama besar yang kemungkinan besar selalu mereka tonton ditelevisi setiap weekend. Sampai – sampai mereka lupa bagaimana bermain sepakbola dan kesulitan mengimbangi permainan Arsenal. IDT masih bertahan dengan hanya kebobolan 1 gol dibabak pertama, tapi hancur lebur dibabak kedua setelah pemain – pemain utama Arsenal masuk. 6 gol ditambah skuad Arsene Wenger, semakin menegaskan bahwa permainan IDT sangat kacau balau.

courtesy of www.viva.co.id
courtesy of http://www.viva.co.id

Hampir semua pemain bermain dibawah form. Jika harus menunjuk siapa yang rada mendingan bermain, saya akan menunjuk Victor Igbonefo tapi itupun dibabak pertama. Babak kedua semua pemain tak mampu lagi meladeni permainan cepat the Gunners. IDT hanya menghasilkan 2 peluang emas lewat Boaz Solossa dibabak pertama dan Vendry Mofu dibabak kedua. Beberapa penetrasi dari flank tidak membuahkan apa – apa. Bahkan ketika Jackson F Tiago ( JFT ) mencoba menerapkan gaya permainan ala Persipura, tetap Arsenal sulit ditembus.

Memang ini masih ajang seleksi pemain menuju ke pertandingan sesungguhnya melawan China pada bulan Oktober nanti dalam kualifikasi Piala Asia 2015. Beberapa wajah baru juga menghiasi timnas Indonesia yang untuk pertandingan ini diberi nama Indonesia Dream Team. Ngurah Nanak, Rizki Ripora, Yustinus Pae, Rizky Pellu menjalani debut tak resmi bersama para pemain terbaik dari dua liga di Indonesia.

JFT kembali memainkan formasi hampir identik ketika melawan Arab Saudi dan Belanda. Ada beberapa pemain tak tergantikan diskuadnya. Kurnia Meiga, Victor Igbonefo, Immanuel Wanggai, Ian Kabes, Boaz Solossa dan SVD. Raphael Maitimo dan Achmad Jupriyanto selalu hadir sejak lawan Belanda. Pun Tony Sucipto meski pertandingan kemarin diawali dari bangku cadangan.

Ada satu lagi keidentikan formasi yang dimainkan saat lawan Arab Saudi, Belanda dan Arsenal hampir selalu gagal. Kredit khusus ketika melawan Arab Saudi, Indonesia sempat merepotkan pertahanan Green Falcon sebelum mengalami hasil identik dengan dua pertandingan terakhir, kalah.

Boaz dan SVD dari 3 pertandingan itu akan selalu terisolasi dilini depan. Kedua pemain ini harus selalu naik turun mencari bola bahkan jauh sampai ke pertahanan. Immanuel Wanggai gagal mengulangi penampilan seperti kala melawan Arab Saudi. Ian Kabes yang saya lihat mencoba diperankan sebagai pengatur irama dan penyerang lini kedua, juga jarang bisa melaksanakan peran dengan baik. Pola umpan lambung jauh dari pertahanan sendiri ke pertahanan lawan ( mirip fastbreak dalam basket) selalu diperlihatkan. Satu lagi, pola serangan melalui sayap seakan sudah mendarah daging pada para pemain kita, sehingga mau gagal bagaimanapun mereka akan terus menyerang dari sayap.

Ada juga yang selalu identik dari 3 pertandingan itu bahkan ini sudah ada sebelum JFT memangku jabatan pelatih timnas, kepercayaan diri yang kurang. Penyakit klasik ini belum bisa disembuhkan meski pelatih bergonta – ganti nama. Hampir selalu melawan non negara ASEAN, Indonesia akan tertekan dan selalu ingin cepat – cepat melepaskan bola yang ada dikaki mereka walaupun tak ada teman terdekat, lawan masih jauh, yang penting bola bisa lepas dari kakinya.

Ada satu hal yang menarik bahwa JFT sudah mengajukan tiga lawan ujicoba timnas menjelang pertandingan melawan China. Ia mengajukan Hongkong, Taiwan dan Filipina untuk memupuk kepercayaan diri para pemain timnas. Tiga negara ini dipilih karena kekuatannya sudah bisa diperkirakan dan menyajikan kemungkinan bisa dikalahkan sangat besar. Hongkong ada dibawah Indonesia, pun begitu dengan Taiwan. Filipina kini bisa dibilang sejajar.

Probabilitas untuk menang sangat besar, sehingga pemain akan timbul akan kepercayaan diri. Tetapi satu pertanyaan apakah level negara – negara ini setara atau bahkan setidaknya mendekati Cina? Dalam pandangan saya sama sekali tidak. Lantas meskipun pada saatnya nanti para pemain Indonesia kepercayaan dirinya menggelembung jika hasil dari 3 pertandingan ujicoba ini bagus, apakah itu akan membantu melawan Cina? Rasanya tidak. Kepercayaan diri menang lawan tim yang dibawa ataupun setara kemampuannya bisa – bisa langsung musnah ketika pertandingan melawan Cina memasuki menit pertama. Masalahnya adalah pada kemampuan lawan. Begitu tahu Cina lebih kuat, bisa jadi Indonesia langsung melempem dan seperti biasa, 8 pemain memenuhi daerah pertahanan sendiri, meninggalkan dua striker menggantung diarea pertahahan lawan.

Pemikiran ini muncul semalam sehabis pertandingan IDT vs Arsenal. Bukan lagi saatnya kita merangkak tapi sudah harus langsung belajar melompat. Bukan lagi saatnya memulai semuanya dengan langkah kecil, tapi sudah harus memulai sesuatu dengan langkah lebar. Bukan lagi belajar berjalan tapi harus segera berlari. Kita sudah tertinggal sedemikian jauh dari negara – negara Asia, bahkan di ASEAN sekalipun. Perlu terobosan nyata yang bisa meraih hasil dalam waktu dekat.

Masalah klasik timnas lainnya adalah seperti yang selalu dikatakan oleh para komentator, Indonesia tidak kuat bermain selama 90 menit. Tapi apakah ada perubahan fundamental untuk mengatasi hal ini? Nol besar. Jawabannya bukan ada pada pelatih timnas. Jawabannya bukan pula ada pada pelatnas jangka panjang, karena terbukti sepanjang apapun hasilnya nihil. Jawabannya ada pada Liga Super Indonesia beserta kompetisi dibawahnya dan Liga Primer Indonesia bersama kompetisi dibawahnya pun juga liga unifikasi musim depan.

PSSI harus bisa memanfaatkan kompetisi yang ada sebagai sebuah tempat penggojlokan berstandar tinggi. Tempat pendadaran bibit – bibit sepakbola Indonesia. Timnas adalah tempat mereka bermekaran, bukan tempat mereka untuk tumbuh. Mereka akan tumbuh diklub – klub. Klub pula yang bertanggung jawab apakah mereka akan tumbuh dengan baik, atau mekar namun tak sempurna. Jika masalah fisik dan stamina selalu diapungkan dalam penampilan timnas, kenapa tidak PSSI pada jeda kompetisi menyekolahkan para pelatih fisik diklub – klub.Pasang target minimal VO2 max yang baru bagi para pemain. Pasang pula punishment and reward bagi klub yang gagal dan berhasil menaikkan taraf stamina para pemain mereka.

Banyak – banyaklah bertanding dengan kualitas lawan ujicoba yang berada diatas level Indonesia. Pada awalnya pasti pahit, pasti malu. Tapi lama kelamaan pengetahuan harus bagaimana menghadapi setiap lawan akan dipunyai. Jangan lagi berusaha membentuk kepercayaan diri dengan lawan yang memang secara prediksi diatas kertas akan mudah kita remukkan.

Bertanding dengan lawan ujicoba yang lebih berat juga setidaknya akan menghapus budaya “wajar” pada timnas. “Wajar kita kalah karena lawan lebih kuat” atau “kita bermain bertahan saja karena lawan lebih hebat”. Sampai kapan budaya wajar ini akan ada. Lama – kelamaan budaya wajar juga menghapuskan budaya malu. Biarkan saja kalah besar tokh wajar lawan lebih kuat. Wajar??? Sampai kapan kita harus menerima semuanya dengan kewajaran??

Harus ada hasil yang baik yang bisa diraih dalam waktu dekat. Karena sejatinya itulah yang akan mengangkat kepercayaan diri timnas, bukan kemenangan atas tim – tim gurem. Kemenangan atas tim – tim gurem akan mengangkat kepercayaan diri, bisa jadi iya, tapi sejauh mana itu akan berefek ketika bertemu lawan yang lebih berat?? apakah harus wajar lagi??

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s