Cukup Meriah Saja?

Kedatangan trio Premier League Arsenal, Liverpool dan Chelsea membius menjadi headline news dimana – mana selama tiga minggu ini. Arsenal sudah duluan menuntaskan agenda mereka di Indonesia. Liverpool baru akan menjalani agenda utama yaitu bertanding melawan Indonesia XI esok malam. Sedangkan Chelsea akan bertanding dengan BNI Indonesia All stars.

Sejak tahun lalu, klub – klub Eropa mulai didatangkan oleh promotor – promotor. Belum lagi ada bintang – bintang sepakbola yang datang secara individual kemudian digabungkan dengan tim bentukan promotor lantas menjalani pertandingan persahabatan.

Fenomena kedatangan klub – klub luar negeri sebenarnya bukanlah hal yang aneh bagi Indonesia. Sejak tahun 1950an banyak sekali klub – klub luar negeri yang didatangkan untuk berujicoba dengan timnas Indonesia. Pun dahulu ternyata tidak terlalu seperti sekarang. Jika saat ini kedatangan klub – klub ini dimanfaatkan sebagai latih tanding timnas, namun dimasa lalu ternyata bukan hanya timnas tetapi klub – klub Indonesia pun banyak yang berujicoba. Bukan hanya sekedar ujicoba ternyata, klub – klub luar negeri ada juga yang ikut dalam turnamen Indonesia.

Sebut saja Marah Halim Cup. Piala yang dinamai sesuai dengan nama mantan Gubernur Sumatera Utara ini menurut catatan rsssf dilangsungkan dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1995. Beberapa klub luar negeri pernah ikut berkompetisi diturnamen ini. Middlesex Wanderers asal Inggris, Hallelujah Korea Selatan, Al-Jaish Baghdad adalah beberapa klub yang pernah ikut diturnamen ini. Selain itu juga beberapa kali ada tim yang menyerupai timnas satu negara meskipun bukan representasi resmi seperti Netherland Amateurs yang beranggotakan pemain -pemain Belanda dari beberapa klub semisal FC Utrecht dan De Graschaap. Ada pula South Korea XI, Japan XI, Japan B, serta Thailand XI.

Namun sebesar apa pengaruhnya terhadap persepakbolaan dalam negeri? karena jika melihat catatan banyak sekali klub asing yang sudah beranjangsana ke Indonesia, mulai dari klub kuat seperti Stade De Reims, Juara liga champion eropa edisi pertama, sampai ke klub seperti Los Angeles Galaxy dari negara yang persepakbolaannya masih harus bersaing dengan american football dan Basket.

Rasanya tidak banyak. Bahkan mungkin kalaupun ada hanya sedikit sekali efek yang menempel lalu kemudian hilang. Jika berbicara dari segi teknis permainan, tidak banyak yang bisa diharapkan. Karena bagaimana pun, apalagi dijaman sekarang ketika para penggemar sepakbola begitu dimanjakan dengan tontonan sepakbola lintas benua, kedatangan klub – klub eropa dan beruji coba dengan satu tim nasional lebih kepada bisnis dan hiburan semata.

Kata “belajar” yang selalu diapungkan dalam 3 pertandingan terakhir timnas ( meskipun berganti – ganti nama sesuai pesanan promotor ), mungkin hanya akan bertahan dalam 3 pertandingan itu saja melawan raksasa – raksasa Inggris. Selebihnya akan kembali lagi seperti biasa.

Skeptis? memang. Karena sebetulnya dalam pemikiran awam saya yang lebih dibutuhkan dalam membangun satu timnas yang tangguh adalah bagaimana membangun satu kompetisi yang kompetitif dari berbagai jenjang usia. Ujicoba memang satu hal yang diperlukan, tetapi jika klub yang datang level keseriusan bermain selalu menjadi pertanyaan. Mungkin para pemain kita telah lebih dahulu silau dengan nama – nama besar yang datang dan lebih memikirkan ingin bertukar kaus dengan pemain pujaannya.

Bukan saya meremehkan keringat dan usaha keras para pemain kita, tetapi saya ingin PSSI lebih serius dalam menggarap timnas. Ujicoba harus sejalan dengan pembenahan – pembenahan dalam kompetisi dalam negeri. Pembinaan usia muda kita lebih menekankan pada turnamen dimana satu tim junior hanya mungkin bertanding tidak lebih dari 10 kali dalam 1 tahun. Kembali sebagai seorang awamers, saya merasa lebih banyak bertanding akan lebih bagus para pemain muda. Jangan berbicara tentang U-17 atau U-19, lihatlah dulu nasib LSI U-21 yang seadanya berjalan. Kenapa tidak jika LSI U-21 juga dibentuk dalam format liga. Lebih banyak bertanding akan membantu kepada pembentukan karakter dan fisik pemain. Bukan hanya 5 kali bertanding lantas selesai jika tim tidak berhasil lolos ke babak berikutnya.

Kehadiran klub – klub asing dan juga para pemain asing di liga dalam negeri, lebih pada target “transfer ilmu”. Sebuah metoda usang yang digunakan dalam membangun negeri, karena ternyata malah kita terlena untuk terus menggunakan tenaga asing dan mengabaikan potensi – potensi anak bangsa.

Mungkin bagi federasi sepakbola kita, kemeriahan sudah membuat kata “puas” hinggap dihati seperti meriahnya sambutan masyarakat menyambut idola – idola mereka yang selalu ditonton tiap weekend ditelevisi. Jika ini yang menjadi target ya memang sudah tercapai.

Tapi jika dipandang kompetisi sebagai tempat pendadaran bakat – bakat untuk membentuk suatu timnas yang tangguh, belumlah dan masih jauh dari kata tercapai. Belum lagi jika mengingat budaya “wajar” yang ada pada persepakbolaan kita, rasanya sampai kapanpun timnas belum bisa meraih setidaknya gelar tak resmi “macan asia”.

Musim depan LSI dan LPI akan disatukan, ini merupakan sebuah momentum yang baik untuk memulai sebuah kompetisi yang bagus dan bisa jadi tempat tumbuh kembang yang bagus bagi para pemain Indonesia. Mudah – mudahan ada perbaikan mendasar seperti memperbaiki masalah stamina pemain timnas yang katanya hanya kuat bermain selama 70 menit. Mumpung ada kesempatan kenapa tidak PSSI melakukan sebuah terobosan. Harapan saya agar PSSI tidak memikirkan kemeriahan semata.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s