Buatlah Satu Legenda Yang Bagus

1709590_medium

Sebuah kisah yang seperti folklore. Itu merupakan satu ulasan yang saya baca mengenai kisah bagaimana tim nasional Indonesia menahan imbang Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956. Hanya menahan imbang dengan skor kacamata tapi kisah itu abadi, terus menerus diceritakan sebagai sebuah pencapaian dan salah satu penasbihan pada era itu Indonesia adalah macan Asia.

Apa yang membuat menahan imbang 0-0 ini begitu terasa spesial sehingga menjadi sebuah legenda? Tidak lain karena saat itu Uni Soviet merupakan salah tim besar didataran Eropa. Salah satu bintangnya adalah Lev Yashin yang diturnamen ini menobatkan dirinya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.

Olimpiade 1956 dalam cabang sepakbola akan diingat sebagai satu turnamen yang diwarnai banyak intrik politik sehingga 11 negara mengundurkan diri dari Olimpiade ini. Revolusi Hungaria dan reaksi Uni Soviet menyebabkan kualifikasi hanya mempertandingkan 3 pertandingan saja. South Vietnam, Mesir, China, Turki, dan Hungaria membatalkan keikutsertaan mereka.

Pada babak kualifikasi ini Indonesia seharusnya bertemu dengan South Vietnam. Dengan mundurnya South Vietnam maka Indonesia langsung lolos ke perempatfinal bertemu dengan Uni Soviet yang sebelumnya mengalahkan Jerman. Ada kisah tersendiri bagi tim Indonesia yang datang dari penjaga gawang Maulwi Saelan yang masih saya ingat (kalau tidak salah ingat hehe ) dalam sebuah talkshow televisi saat akan menghadapi pertandingan melawan Uni Soviet ,29 November 1956. Ia menceritakan agar ia kuat menahan tendangan – tendangan pemain Uni Soviet ia melakukan latihan khusus dengan menampar – nampar pohon pisang.

Pertandingan berlangsung. Uni Soviet memperlihatkan keganasan mereka yang direspon oleh Indonesia dengan menempatkan 9 pemain dikotak penalti meninggalkan Ramang sendirian dilini depan. Dalam situsnya FIFA menyebutkan bahwa Indonesia menampilkan pertahanan bak baja yang sulit ditembus para pemain lawan. Meskipun bertahan habis – habisan, namun pasukan Indonesia yang dilatih Toni Pogacnik berhasil mengakhiri pertandingan dengan skor imbang.

Dalam satu ulasannya FIFA memberikan kredit tersendiri kepada Ramang, penyerang timnas yang berasal dari PSM Makassar. Ternyata meskipun memakai strategi yang dalam bahasa saat ini disebut “parkir bis” namun Ramang melalui serangan – serangan baliknya sangat merepotkan para pemain bertahan Uni Soviet. Bahkan dalam satu kesempatan seandainya Lev Yashin tidak melakukan penyelamatan sempurna, Indonesia sudah akan memimpin pertandingan melalui Ramang.

Meskipun pada pertandingan ulangan pada tanggal 1 Desember 1956, Indonesia yang kelelahan tak mampu membendung serangan pasukan Gavril Kachalin dan menerima kekalahan 4-0 tetapi prestasi menahan imbang raksasa Eropa kala itu masih terus bergaung sampai saat ini.

Jika saat itu menahan imbang adalah suatu prestasi, ini membawa saya kepada sebuah pertanyaan, kenapa hari ini, saat timnas bertemu tim ( negara / klub ) yang dianggap lebih kuat, mencetak satu gol dengan hasil kalah atau kalah dengan margin gol yang tidak besar dianggap merupakan sebuah prestasi. Kalau begitu ada yang sangat salah terjadi pada mental bertanding kita.

Gaung hasil imbang melawan negara eropa masih diterima, tapi gaung kalah dengan negara eropa atau bahkan klub eropa, jika terus menggema sampai satu saat nanti, bukankah ini akan menjadi sebuah pelajaran yang buruk bagi timnas dimasa depan. Oleh karena itu, hapuskanlah dari saat ini budaya “wajar” yang menganggap hasil kalah sudah bagus karena lawan lebih baik. Betapapun kuatnya lawan selalu akan ada jalan untuk mengalahkannya selama kita terus menerus berusaha dan memperbaiki diri.

Seri menahan Uni Soviet ini sampai hari ini terus diperbincangkan sebagai satu kehebatan timnas Indonesia saat itu. Hari ini kita melihat potensi yang dimiliki sepakbola Indonesia sangat mungkin melebihi pencapaian Ramang dkk. Kompetisi sudah terstruktur, skill pemain meningkat, tinggal bagaimana PSSI melakukan langkah – langkah strategis untuk memperbaiki kesalahan – kesalahan yang saat ini masih terjadi. Bukankah akan bagus jika satu periode kepengurusan meninggalkan kisah manis yang akan dikenang bertahun – tahun lamanya. Bukankah akan lebih baik jika folklore ini adalah kemenangan timnas bukan hanya hasil imbang ( lagi ).

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s