The Impersonator

“Pa!!” Langkah saya langsung terhenti seketika akan memasuki kamar mandi, padahal udah kebelet. Celingak – celinguk, saya kebingungan karena diruang redaksi hanya ada saya sendiri. Adapun si pemilik suara sedang mempersiapkan siaran di dalam studio. Penasaran saya pun melangkah menuju studio.

“apaan?” tanya saya. “Lah emang ada apa?”. Pemilik Suara malah balik bertanya.

“barusan manggil kan?” Saya bertanya lagi. “ah engga pa”. Pemilik suara menjawab dengan wajah kebingungan. Seketika saya pun sadar bahwa dia yang asli memang tidak memanggil. Tetapi dia yang palsu yang melakukan panggilan. Bagaimanapun rasa kebelet yang merambat menjadi kesal ( kebelet ko ditahan – tahan ) membuat bulu kuduk urung merinding meski saya tahu siapa yang melakukan panggilan palsu.

Saya masuk kamar mandi tak lupa berdoa dengan harap tak ada colekan – colekan dikamar mandi….hiiiii.

Pengalaman baru – baru ini mengingatkan kembali akan kejadian serupa 10 tahun lalu ( that long?!! waktu yang berjalan cepat kadang mengagetkan ketika harus melakukan flashback, but satu hal yang konsisten adalah saya tetap muda…harus!!!). Jika kemarin hanya suara, maka 1 dekade yang lalu ( anjrit satu kata penanda waktu yang menunjukkan laamaaaaa) adalah sosok. Sosok komplit from head to toe teman saya. Dengan gaya berjalan dan potongan rambut, bahkan busananya pun copy paste teman saya.

Semuanya berakhir sama yaitu kebingungan dia yang asli. Hanya satu dekade yang lalu saya ga merasakan kebelet jadi langsung merinding mak!! bulu kudukku. Namun merinding atau tidak, suspectnya cuma satu yaitu Jin Qorin.

Si peniru, pengcopy paste yang mendampingi manusia setiap ia lahir. When human dies, he doesn’t. Terus hidup sampai akhir dunia, memenuhi janji bahwa bangsa jin akan terus hidup sampai hari kiamat. No Wonder, Qorin bisa menirukan dengan baik seorang manusia, karena sepanjang umur seorang manusia, qorin akan terus menggodanya.

Godaan yang berujung kepada mispersepsi dan salah kaprah memang menjadi tujuan. Itulah kenapa ketika seseorang yang sudah meninggal tiba – tiba muncul dihadapan yang sudah hidup, biasanya akan menuju satu cerita bahwa kematian tidak sempurna, belum dicabut tali pengikat kafannya dan lain – lain, sehingga dibakarlah kemenanyan, sesajen disajikan dan hal lainnya. Inilah yang ditujunya, manusia salah menyikapi sebuah fenomena dengan embel – embel mistis.

so beware for the trick of the impersonator.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s