Be Wise

Nanti sore adalah Derby D’Indonesia atau El Classico begitulah menurut bahasa media. Meskipun belum terlalu klasik karena persaingan ini baru hangat sejak era Liga Indonesia dan pastinya bukan edisi- edisi awal Liga Indonesia.

Diberitakan bahwa hari Senin kemarin rombongan Persib dan Persija tiba bersamaan di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Kedua kubu yang merepresentasikan dua kota besar di Pulau Jawa ini,bahkan keduanya bisa dibilang barometer di Indonesia contoh dalam fashion, terlihat akrab dan bercampur baur saat bertemu. Ini mengingatkan kembali pada pertandingan Persib vs Persija yang sempat terhenti ( jika tidak salah ingat waktu) musim 2008/2009, ketika pihak keamanan berusaha mengkondusifkan para penonton, selama permainan terhenti para pemain malah bercanda dan tertawa diatas lapangan hijau.

Bagi para pemain ini hanya persaingan selama 2 x 45 menit, tapi bagi para suporter kedua kubu ini melebihi waktu normal 90 menit. Derby ini belumlah kental jika dari sudut pandang pemain. Terbukti mereka yang pernah membela Persija tak canggung jika berkaos biru, begitupun seperti Erik Setiawan, Andrittany( Persib junior ) pun tak masalah untuk berkaos oranye. Mungkin untuk 1 – 2 pemain sudah memasukkan persaingan ini lebih dari 90 menit, tapi secara umum rasanya belum.

Seringkali sepakbola dibawa melebihi dari apa yang terjadi diatas lapangan hijau. Aktor utama diluar lapangan hijau adalah para suporter. Bahkan jauh sebelum pertandingan dimulai, kedua suporter sudah memanaskan suasana dengan sindiran – sindiran, ejekan, atau membahas sejarah – sejarah bentrok kedua kubu suporter.

Pada sisi lain, perseteruan suporter ini justru akan semakin meningkatkan rating pemberitaan satu pertandingan. Menambah kental aroma persaingan, atau juga semakin meningkatkan penjualan karcis karena suporter yang asalnya tidak pernah menonton langsung pertandingan spesial ini bisa jadi menyempatkan diri untuk hadir langsung ke stadion.

Disatu sisi membuat untung, tapi sisi yang lainnya jika terjadi kekacauan, kerusuhan yang membuat kerugian, suporter akan menjadi pihak yang dituding. Klub bisa saja lepas tangan ketika terjadi kekacauan yang berujung pada tindakan kriminal. Panpel pasti uring – uringan jika ada denda akibat kerusuhan yang harus mereka bayar, dan telunjuk mereka kepada suporter sebagai kambing hitam.

Lebih jauh lagi, sepakbola bisa dipersalahkan atas tindak tanduk suporter. Bahkan bagi pihak-pihak yang skeptis hampir menjadi benci kepada sepakbola Indonesia, akan ada suatu asumsi bahwa mandulnya prestasi timnas karena suporternya sering rusuh. Belum lagi dijadikan alasan lain kenapa mereka lebih menyukai sepakbola luar negeri daripada sepakbola dalam negeri.

Suporter itu dirindu tapi juga kadang – kadang dimarahi. Mereka akan dirindukan untuk hadir sebagai suplemen semangat, bahkan dielu – elukan sebagai pemain ke-12 tapi juga bisa sekaligus agak dijauhi ( karena klub tak bisa jauh dengan suporter ) jika ada hal – hal negatif meskipun suporter melandaskan aksi mereka atas rasa cinta kepada klub mereka masing – masing.

Suporter selalu pada posisi yang rawan, rapuh. Suporter bela mati – matian untuk klub mereka, tetapi apakah klub akan mati – matian untuk mereka? Terkadang suporter di Indonesia bertindak lebih jauh karena rasa cinta mereka kepada klub. Lihatlah ketika ada pemain yang belum digaji, suporter bisa melakukan penggalangan dana, merawat pemain belum gajian yang sakit ketika semua pengurus klub menghindar untuk bertanggung jawab kepada para pemain mereka.

Well, karena rapuhnya posisi ini antara dibenci dan dirindu, rasa cinta seharusnya tidaklah buta dan membabi buta. Kita masih bisa mencintai dengan kesadaran , dengan logika, dan dengan batasan. Meskipun cinta memanglah bisa menenggelamkan kita dalam sebuah dunia dimana kita mampu melakukan apapun demi rasa cinta. Sulit memang jika sudah mengenai cinta karena rasa ini bisa membuat kita lupa akan segala dan mampu berbuat apapun.

Selamat Jatuh Cinta, tapi janganlah terlalu..terlalu hanyut dengan cinta.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s