Are We Being Cursed?

IMG_1135

Piala AFF bukanlah satu kompetisi yang “ramah” bagi Indonesia. Seakan terkena kutukan setelah Indonesia ditingkat senior hanya bisa 4 kali menjadi runner up pada tahun 2000, 2002, 2004 dan 2010 plus sekali berada diposisi 3 pada tahun 1998 dan posisi 4 pada tahun 1996. Timnas junior pun belum pernah bisa menjadi juara. Terakhir kemarin Senin, timnas U-16 hanya mampu menjadi runner up setelah dikalahkankan Malaysia dalam adu penalti.

Indonesia kehilangan momentum juara setelah Malaysia menyamakan kedudukan pada masa injury time babak kedua. Adu penalti yang pada babak semifinal mampu dilewati Indonesia muda dengan mengalahkan Australia ternyata tak mampu menghadirkan kembali euforia pada babak final.

Menambah kegagalan timnas Indonesia dilevel senior dan junior, dalam perhelatan AFF Cup U-19 pun tak sekalipun Indonesia pernah menjadi juara. Apalagi tidak setiap edisi Indonesia mengikuti kompetisi tahunan ini. Peluang untuk meraih gelar juara sangatlah terbuka tahun ini. Karena pada AFF U-19 tahun 2013 Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah. AFF Cup U-19 ini menurut rencana akan digelar di Surabaya mulai tanggal 9 – 22 September 2013.

Pertanyaannya hanya satu,kenapa kita sulit sekali menjadi juara ditingkat ASEAN? Jika kita lihat pada satu kompetisi yang diadakan oleh Malaysia yaitu Merdeka Cup ( dengan peserta beberapa negara ASEAN ditambah undangan negara lainnya ), Indonesia bisa meraih juara pada tahun 1961, 1962, dan pada 1969. Sementara pada edisi pertama Piala Raja ( King’s Cup) Thailand tahun 1968, Indonesia pun berhasil meraih gelar juara. Meskipun pada edisi – edisi berikutnya , Indonesia gagal kembali menjadi juara.

Kejuaraan lain yang diadakan oleh negara ASEAN adalah Hassanal Bolkiah Trophy. Edisi perdana dimenangkan Indonesia pada tahun 2002. Tiga edisi lainnya ( terakhir tahun 2012 ) Indonesia gagal meraih juara.

Apa yang ingin disampaikan adalah, sebenarnya kita sudah paham betul bagaimana menghadapi persaingan ditingkat ASEAN. Karena sejarah pertemuan antar negara ASEAN baik pada sebuah kompetisi ataupun pertandingan persahabatan, sering dilakukan. Lantas jika pada era 1960an kita bisa merajai kompetisi antar negara ASEAN, kenapa saat ini sulit sekali? bahkan tak jarang kita harus susah payah melewati fase grup. Itu pun kita belum melihat kembali catatan Indonesia diajang Sea Games.

Jika bertanya kepada generasi tua, mungkin mereka akan menjawab seharusnya Indonesia bisa lebih maju sekarang. Kondisi materi timnas terjamin, kompetisi sudah mapan setidaknya mulai mapan, secara materi sepakbola saat ini lebih menjanjikan dan bisa dijadikan pegangan hidup, akses ke level internasional tersedia, tapi kenyataannya berbanding terbalik.Justru para senior yang bertanding dengan kondisi “seadanya” bisa mengukir prestasi lebih baik.

Sehingga saat ini,kita masih hidup dalam bayang – bayang masa lalu. Indah namun usang. Usang karena gelar – gelar juara itu seakan mempunyai masa expired. Kita tidak bisa terus – terusan membela diri bahwa kita pernah jadi macan Asia, sementara kondisi saat ini bukanlah macan. Entah pas atau tidak, tapi rasanya sih bagi saya pas, saya ingin menggambarkan kondisi ini dengan istilah bahasa Sunda “Agul Ku Payung Butut” jika di-Indonesiakan berarti sombong dengan payung jelek yang artinya adalah menyombongkan diri dengan keberhasilan orang lain, sementara diri sendiri tidak berhasil.

Kebanggaan itu memang kita warisi, bahkan tidak untuk dilupakan karena itu adalah sejarah berharga. Hanya saja kita pun harus sadar bahwa kita saat ini terpuruk. Semangat menjadi macan asia kembali memang layak dijadikan bahan bakar kebangkitan. Lebih layak agar semangat itu diterjemahkan kedalam konsep pembangunan sepakbola yang ditafsirkan dalam tindakan nyata.

Bagi saya, konsep kebangkitan, jika memang PSSI mempunyai road map terencana yang dieksekusi dengan baik, haruslah menggapai target diluar ASEAN. Kita berbicara menjadi macan Asia, maka target kita adalah mensejajarkan diri ataupun mengungguli negara – negara Asia yang sudah dikenal dilevel internasional.

Satu hal lagi, jika pada 1960an kita sanggup menjadi juara dipelbagai kompetisi, apakah ini menandakan adanya degradasi kemampuan bermain jika melihat kita tak mampu lagi menjadi juara? ataukah, saya teringat ucapan Jose Mourinho sesaat setelah Chelsea membantai Indonesia No Star, bahwa tim kita tidak bermain dengan kebanggaan. Kebanggaan pasti ada , tetapi pertanyaannya adalah apakah masih seperti dahulu atau tidak?

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s